tvOnenews.com - Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Indonesia. Aktor senior Gary Iskak meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan-rekan sesama artis, dan para penggemarnya.
Kepergian Gary terasa begitu berat karena sosoknya dikenal hangat, rendah hati, dan masih aktif berkarya hingga beberapa tahun terakhir.
Lahir dengan nama lengkap Muhammad Gary Iskak pada 10 Juli 1973 di Jakarta, Gary memiliki darah campuran Indonesia-Belanda.
Ia tumbuh di lingkungan keluarga seniman yang telah lama berkiprah di dunia perfilman Tanah Air. Tak heran jika dunia seni peran mengalir begitu alami dalam dirinya.
Kakeknya, Robert Maria Iskak atau yang dikenal dengan Bob Iskak, adalah sutradara era kemerdekaan yang turut mewarnai sejarah perfilman Indonesia.
Sementara itu, Gary juga merupakan kakak dari aktor Khiva Iskak serta keponakan dari tokoh-tokoh besar dunia film seperti Alice Iskak, Boy Iskak, dan Indriati Iskak, nama-nama legendaris yang pernah mengharumkan perfilman nasional.
Awal Karier di Era 2000-an
Gary memulai debut aktingnya pada tahun 2000 lewat film Bintang Jatuh, di mana ia berperan sebagai Ayah Shelly.
Tak lama setelah itu, Gary kembali muncul di film Tragedi (2001), bahkan merangkap sebagai asisten sutradara, menandakan kecintaannya pada dunia film tak hanya di depan kamera.
Namanya mulai dikenal publik setelah tampil dalam film legendaris Ada Apa Dengan Cinta? (2002) sebagai pelatih basket.
Dalam tahun yang sama, ia juga membintangi Mati Penasaran dan Rumah Ketujuh (2003) sebagai Arman.
Puncak kariernya di awal dekade terjadi ketika Gary membintangi film-film romantis populer seperti 30 Hari Mencari Cinta (2004) dan Ungu Violet (2005), di mana ia memerankan karakter Riza.
Karier Makin Bersinar (2006-2010)
Memasuki pertengahan 2000-an, Gary semakin aktif di layar lebar. Ia tampil dalam berbagai genre film mulai dari komedi, drama, hingga horor.
Beberapa di antaranya adalah Jatuh Cinta Lagi (2006), D’Bijis (2007) sebagai Bule, dan Pocong 3 (2007) sebagai Bayu.
Tahun-tahun berikutnya, Gary memperluas kariernya melalui film seperti Krun + Adul (2008), Benci Disko (2009), Heart-Break.com (2009), serta Penganten Sunat (2010) dan Skandal (2010).