Seruan Jalanan Melawan Femidasi di Afrika: Refleksi bagi Indonesia

kumparan.com • 7 jam yang lalu
Cover Berita

Gelombang femidasi Afrika dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar laporan angka kekerasan, melainkan ledakan suara Perempuan yang menolak terus dibungkam. Ribuan Perempuan turun ke jalan membawa poster “Stop killing women” dan “Protect us alive, not dead”. Di balik itu semua ada satu pesan penting: Perempuan tidak meminta belas kasihan, mereka menuntut hak untuk hidup. Dan jujur, aksi massal ini membuat dunia sulit untuk terus berpura-pura tidak melihat.

Selama bertahun-tahun, femidasi diperlakukan hanya sebagai kasus criminal domestic. Padahal di berbagai negara Afrika, pembunuhan Perempuan oleh pasangan atau mantan pasangan telah menjadi fenomena sosial yang serius. Ketika laporan polisi diabaikan, ketika pelaku dibebaskan, ketika korban disalahkan, jalanan menjadi ruang terakhir untuk meminta keadilan. Inilah yang melahirkan demonstrasi anti femidasi Long-march, “lie-down protest”, hingga mogok kerja Perempuan. Bentuknya memang berbeda-beda, tetapi intinya sama: hidup Perempuan bukan negosiasi.

Melihat aksi Perempuan Afrika ini, saya tidak bisa mengabaikan satu pertanyaan: kenapa dunia baru peduli ketika Perempuan turun ke jalan? Kekerasan itu sudah ada sejak lama, nyawa Perempuan hilang satu per satu bahkan sebelum istilah “Femidasi Afrika” viral. Namun suara Perempuan baru dianggap penting ketika menjadi gangguan publik. ini membuktikan satu hal: kita hidup di dalam budaya yang hanya peduli kalau Perempuan berteriak serempak.

Mengapa Afrika Bergerak?

Gerakan ini tidak muncul spontan. Ia adalah akumulasi kemarahan, duka, dan kegagalan sistem. Di banyak negara Afrika, femidasi dibiarkan terjadi karena tiga hal: patriarki yang kuat, ekonomi yang timpang, dan sistem hukum yang lemah. Banyak Perempuan melapor namun tidak ditangani, banyak pelaku mendapat hukuman ringan, dan masyarakat malah menyahlahkan korban. Pada titik itu, protes jalanan bukan pilihan itu satu-satunya “alat bertahan hidup”.

Yang paling menggetarkan dari demonstrasi anti femidasi di Afrika bukan sekadar jumlah massa saja, tetapi kesadaran kolektifnya: Perempuan percaya bahwa perubahan tidak datang kalau mereka diam. Ada kesadaran baru bahwa perlindungan bukan sesuatu yang ditunggu dari negara, tetapi sesuatu yang dituntut dari negara.

Refleksi bagi Indonesia

Bicara soal Afrika buka berarti kita lebih baik. Di Indonesia, kasus kekerasan berbasis gender termasuk pembunuhan pasangan intim juga meningkat. Kita memang punya undang-undang dan kampanye, tetapi masih banyak penyintas taku untuk melapor, pelaku pun bebas berkeliaran, dan masyarakat masih sering menyalahkan korban, kita bukan jauh dari kondisi Afrika; kita hanya belum sampai pada fase “tidak tahan lagi”.

Itu sebabnya aksi jalanan di Afrika menjadi refleksi penting. Pertanyaan yang saya pikirkan adalah: jika kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia semakin parah, apakah kita akan berani bersuara? Atau kita justru akan terus berharap sistem berubah tanpa tekanan publik?

Pelajaran terbesar dari Femidasi Afrika bukan hanya bahwa angka kekerasan mengkhawatirkan, tetapi bahwa perubahan lahir ketika masyarakat memutuskan untuk berhenti diam. Perempuan Afrika tidak menunggu keadaan membaik tetapi mereka memaksa keadaan membaik.

Demonstrasi jalanan di Afrika mengingakan dunia bahwa femidasi bukan soal privat, tapi krisis kemanusiaan. Gerakan itu mengirim pesan yang tidak hanya ditujukan ke pemerintah Afrika, tetapi juga kepada kita di Indonesia: kehidupan Perempuan tidak boleh menjadi statistic, dan perlindungan Perempuan bukan hadiah melainkan kewajiban negara.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “kapan pemerintah berubah?”, tetapi “kapan kita berhenti membiarkan kekerasan dianggap wajar?”. Ketika Perempuan Afrika berteriak di jalanan, itu bukan hanya protes semata saja tetapi itu adalah ajakan global agar tidak menunggu sampai salah satu dari kita menjadi korban berikutnya untuk mulai peduli sesama.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Baca juga:

thumb
thumb
thumb
thumb
thumb
Berhasil disimpan.