Guru dan relawan dari tiga Sekolah Sukma Bangsa—Pidie, Bireuen, dan Lhokseumawe—menunjukkan komitmen kemanusiaan tinggi dengan menunda liburan semester. Mereka aktif membantu korban banjir bandang Sumatra yang kini harus menjalani hidup dalam lumpur dan tumpukan sampah kayu gelondongan.
Tiga sekolah yang berada di bawah Yayasan Sukma, inisiatif Chairman Media Group Surya Paloh, ini aktif menjalankan misi kemanusiaan di lokasi bencana.
Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Marthunis Bukhari (Abi Martin), mengatakan bahwa puluhan guru yang tergabung dalam Relawan Sekolah Sukma Bangsa Peduli Banjir tetap bergegas menuju kawasan Kabupaten Pidie Jaya, lokasi terparah bencana.
“Malah ada rumah yang sampai tiga hari dibersihkan lumpur dalam rumah itu belum juga selesai. Ketinggian lumpur berkisar 1 meter atau lebih. Bahkan termasuk rumah seorang guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie juga demikian,” tutur Marthunis, Selasa (16/12).
Para relawan menyusuri desa-desa terparah di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua. Mereka membawa berbagai bantuan, mulai dari bahan makanan siap saji, makanan ringan anak-anak, bumbu dapur, pakaian layak pakai, hingga melakukan aksi membersihkan rumah warga dari lumpur tebal.
Guru Bahasa Indonesia Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Muchlisan Putra, menyebut upaya bantuan ini didukung kerja sama dengan donatur Cinta Anak Bangsa Jakarta.
“Kami tidak hanya membawa bekal bantuan, tapi juga menyemangati para korban dan berdialog dingin dengan mereka. Di situ diketahui apa kebutuhan mereka mendesak. Besok kita bikin rapat, lalu mencari solusinya,” tambah Abi Martin.
Budayawan Aceh, M Adli Abdullah, menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas pengorbanan para guru Sukma Bangsa yang memilih menunda liburan demi membantu korban. Tindakan ini, menurutnya, merupakan tauladan dalam dunia pendidikan sejati, sejalan dengan makna Tutwuri Handayani.
"Mereka rela memasak nasi lalu membungkus ratusan paket di sekolah, kemudian membawa ke lokasi-lokasi terparah dan menyuguhkan untuk korban dan anak mereka yang sudah berhari-hari tidak lagi makan nasi segar cukup gizi. Sungguh besar pengorbanan anak sekolah itu," ujar akademisi senior Universitas Syiah Kuala itu.
Adli Abdullah menekankan, sebagai sekolah yang dibangun pasca-tsunami Aceh, Sekolah Sukma Bangsa telah berbuat sesuai dengan latar belakang kelahirannya dari keperluan bencana. (MR/P-5)





