Liburan belum menjadi pengalaman yang setara bagi semua warga. Untuk sebagian orang, perjalanan wisata ke destinasi favorit membutuhkan pengorbanan besar. Warga bergaji setara upah minimum provinsi atau UMP harus menabung dalam jangka waktu yang lama. Aktivitas melepas penat ini pun kian menjadi kebutuhan mewah.
Mahalnya biaya liburan bukan semata karena harga tiket masuk obyek wisata atau tarif hotel. Komponen terbesar justru berasal dari biaya transportasi antarkota, terutama perjalanan antarpulau. Ongkos perjalanan bahkan dapat menyerap lebih dari tiga perempat total biaya wisata.
Ketimpangan akses ini terasa semakin nyata bagi warga di luar Pulau Jawa atau di kawasan timur Indonesia. Pilihan moda transportasi yang terbatas membuat biaya perjalanan sulit ditekan atau bahkan lebih mahal ketimbang penerbangan ke luar negeri.
Tekanan biaya tersebut berkelindan dengan kondisi ekonomi rumah tangga. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan gaji warga cenderung melambat, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Akibatnya, pos pengeluaran nonpokok, termasuk wisata, semakin menyusut.
Hasil jajak pendapat Litbang Kompas pada 10-13 November 2025 menunjukkan, hampir 40 persen responden memilih tidak berlibur pada akhir tahun ini. Alasan utamanya adalah keterbatasan keuangan dan mahalnya biaya perjalanan. Liburan menjadi pengeluaran yang paling mudah ditunda ketika anggaran keluarga mulai cekak.
Survei juga memperlihatkan pola yang konsisten antarkelas ekonomi. Semakin rendah tingkat pendapatan, semakin besar proporsi warga yang tidak berlibur. Sebaliknya, kelompok berpenghasilan lebih tinggi relatif memiliki lebih banyak pilihan dan fleksibilitas.
Bagi warga yang tetap ingin berlibur, strategi berhemat menjadi jalan tengah. Memilih perjalanan jarak dekat menjadi cara agar tetap bisa menikmati waktu jeda tanpa membebani keuangan. Fenomena wisata jarak dekat (microtourism) pun menguat. Taman kota, ruang terbuka hijau, wisata lokal, perpustakaan, hingga sekadar staycation di hotel dapat menjadi alternatif wisata.
Di sisi lain, warga juga mulai selektif dalam membelanjakan uang selama liburan. Pengeluaran untuk paket wisata, oleh-oleh, dan akomodasi menjadi pos yang paling sering dipangkas. Liburan tidak lagi identik dengan hura-hura, tapi efisien.
Perubahan perilaku ini membawa dampak bagi sektor pariwisata. Ketika masyarakat mengurangi perjalanan dan belanja wisata, industri perhotelan, transportasi, dan jasa rekreasi ikut merasakan tekanan. Pariwisata sangat sensitif terhadap perubahan daya beli.
Bagi daerah tujuan wisata, tantangannya tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memastikan akses yang lebih terjangkau. Tanpa konektivitas yang memadai dan biaya yang kompetitif, potensi wisata sulit dinikmati secara merata.
Di sinilah peran kebijakan pemerintah menjadi krusial. Kemajuan pariwisata hanya bisa dicapai oleh dukungan banyak sektor, terutama transportasi dan infrastruktur. Upaya menekan biaya perjalanan menjadi kunci agar wisata lebih inklusif.
Sejauh mana warga bisa menikmati liburan? Seberapa besar biaya yang harus ditanggung? Bagaimana cara warga menyiasati agar tetap berlibur? Tak ketinggalan, panduan destinasi wisata murah di Indonesia.
Simak ulasan lengkap Tim Jurnalisme Data Harian Kompas yang terbit mulai Senin (22/12/2025).




