Ibu sebagai Fondasi Ontologis Peradaban Manusia

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Hari Ibu kerap dirayakan dengan bunga, ucapan manis, dan unggahan media sosial. Namun di balik perayaan simbolik itu, ada pertanyaan yang jarang kita renungkan: sejauh mana kita benar-benar memahami peran ibu dalam membentuk peradaban manusia?

Dalam hiruk-pikuk dunia modern yang dipenuhi jargon kemajuan dan teknologi, peran ibu sering direduksi menjadi urusan domestik semata. Padahal, jika ditelusuri dari sudut pandang paling mendasar—yang dalam filsafat disebut sebagai perspektif ontologis—ibu justru berada di posisi paling awal dan paling menentukan dalam keberadaan manusia dan peradaban itu sendiri.

Ontologis berarti berbicara tentang dasar keberadaan. Dalam konteks ini, ibu bukan sekadar bagian dari struktur sosial, melainkan fondasi awal dari lahirnya manusia. Sebelum ada negara, sekolah, sistem hukum, atau institusi apa pun, manusia terlebih dahulu hadir melalui rahim seorang ibu, lalu dibentuk melalui sentuhan, nilai, dan keteladanannya. Dari sinilah peradaban bermula.

Ungkapan bahwa ibu adalah madrasah pertama bukanlah sekadar slogan moral. Ia mencerminkan realitas bahwa nilai-nilai paling dasar—seperti empati, kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab—pertama kali dikenalkan dalam relasi anak dan ibu. Peradaban yang beradab tidak lahir dari gedung-gedung tinggi atau kecanggihan teknologi, tetapi dari manusia-manusia yang sejak awal dibentuk dengan nilai kemanusiaan yang kokoh.

Gagasan ini memiliki akar kuat dalam pemikiran tokoh Indonesia. R.A. Kartini, melalui surat-suratnya, berulang kali menekankan pentingnya pendidikan sejak usia dini dan peran ibu dalam membentuk watak manusia. Bagi Kartini, kemajuan bangsa tidak mungkin dicapai tanpa kualitas pendidikan yang ditanamkan sejak dalam keluarga. Ibu, dalam pandangannya, adalah pendidik pertama yang menentukan arah masa depan generasi.

Pandangan tersebut sejalan dengan refleksi tokoh dunia seperti Napoleon Bonaparte, yang menyatakan, “Give me good mothers and I will give you a great nation” (Berikan saya ibu-ibu yang baik, maka saya akan memberikan kepada Anda sebuah bangsa yang besar). Pernyataan ini menunjukkan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk melalui proses panjang pendidikan manusia—dan ibu berada di titik paling awal proses tersebut.

Dalam tradisi Islam, kedudukan ibu bahkan ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi. Al-Quran mengingatkan manusia akan besarnya pengorbanan seorang ibu:

Ayat ini tidak hanya memerintahkan bakti, tetapi juga menegaskan bahwa keberadaan manusia sejak awal telah melalui perjuangan dan pengorbanan seorang ibu. Eksistensi manusia, secara ontologis, tidak bisa dilepaskan dari peran tersebut.

Rasulullah ﷺ pun menegaskan hal yang sama dalam hadis masyhur:

Penekanan ini menunjukkan bahwa peran ibu bukan sekadar emosional, melainkan fundamental dalam pembentukan manusia. Ia adalah figur yang paling dekat dengan proses “menjadi manusia”, sejak sebelum kelahiran hingga masa-masa awal kehidupan.

Ironisnya, di tengah peradaban modern hari ini, kita justru menyaksikan krisis empati dan kemanusiaan. Teknologi berkembang pesat, tetapi relasi antarmanusia semakin rapuh. Kita maju secara material, namun sering kali tertinggal secara moral. Barangkali karena kita terlalu sibuk membangun sistem dan perangkat, tetapi lupa merawat fondasi kemanusiaan itu sendiri.

Peringatan ini pernah disampaikan oleh Albert Einstein, “It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity.” Pernyataan ini terasa relevan ketika kemajuan tidak selalu diiringi dengan kedewasaan moral. Dan di titik inilah, peran ibu kembali menjadi sangat penting sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan sejak awal kehidupan.

Hari Ibu seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni. Ia mengajak kita bertanya: apakah peran ibu benar-benar dihargai dalam sistem sosial kita? Apakah kerja-kerja pengasuhan diakui sebagai kontribusi peradaban, bukan sekadar urusan privat? Dan apakah ibu diberi ruang yang adil untuk tumbuh, mendidik, dan berdaya?

Memuliakan ibu bukan berarti membatasi perannya, melainkan mengakui posisinya sebagai fondasi ontologis peradaban manusia. Dari ibu lahir manusia, dari manusia terbentuk masyarakat, dan dari masyarakat tumbuh peradaban. Jika fondasi ini diabaikan, maka kemajuan apa pun akan berdiri di atas tanah yang rapuh.

Pada akhirnya, Hari Ibu bukan hanya tentang ucapan terima kasih, tetapi tentang kesadaran peradaban. Jika kita sungguh ingin membangun masa depan yang manusiawi dan beradab, maka menghormati, melindungi, dan memberdayakan ibu bukanlah pilihan—melainkan keharusan sejarah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polisi: Pemilik E-Mail Sebar Teror Bom di Depok Bukan Korban Pemerkosaan
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Honda Berhenti Pasok Mesin ke Red Bull Racing, Giliran Aston Martin
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Daftar Atlet Perempuan Indonesia yang Raih Medali Emas di SEA Games 2025
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Minta Menteri LH dan Gubernur Banten Tinjau Langsung Dampak TPA Cipeucang
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Polisi Akan Panggil Kekasih Terduga Pengirim Email Ancaman Bom ke 10 Sekolah di Depok
• 9 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.