EtIndonesia. Pada tahun 2025, di bawah hantaman perang tarif antara Amerika Serikat dan Tiongkok, model ekonomi Tiongkok yang sejak lama bergantung pada ekspor mengalami pukulan berat.
Dampaknya memicu rangkaian penutupan pabrik, sengketa upah, serta aksi perlawanan buruh yang bermunculan di berbagai daerah. Musim dingin industri manufaktur Tiongkok pun semakin memperparah krisis pengangguran.
Dalam 10 Berita Terlarang Terbesar 2025, kami mengajak Anda memahami krisis ekonomi nyata yang dengan keras ditutupi oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Ekonomi Tiongkok Terpuruk Akibat Perang Tarif AS–TiongkokPada 2025, ekonomi Tiongkok yang sudah melemah semakin tertekan akibat dampak perang tarif AS–Tiongkok.
Pada April, Amerika Serikat mengumumkan pengenaan tarif hukuman hingga 145% terhadap produk Tiongkok. PKT membalas dengan menaikkan tarif barang asal AS hingga 125%.
Model ekonomi Tiongkok yang sangat bergantung pada ekspor pun langsung kehilangan penopang, dan masalah kelebihan kapasitas produksi meledak secara menyeluruh.
Laporan Cuplikan video: “Pabrik berhenti beroperasi, ratusan orang langsung dibubarkan di tempat.”
Seorang pelaku industri di Dongguan menyatakan bahwa kebijakan balasan PKT justru membuat pabrik-pabrik di Dongguan menjadi pihak yang paling dirugikan. Kota yang dijuluki “pabrik dunia” ini, sekitar 60% industrinya bergantung pada ekspor luar negeri.
Seorang pekerja pabrik di Dongguan berkata: “Barang tidak bisa dikirim keluar, pesanan dari hulu dan hilir pasti anjlok. Yang paling parah, demi bertahan hidup, perusahaan-perusahaan ini terpaksa beralih ke pasar domestik dan bersaing dengan pabrik kecil seperti kami. Persaingannya benar-benar mematikan.”
Basis Industri Ekspor Terpukul BeratDaerah yang lama bergantung pada pasar Amerika seperti Wenzhou dan Yiwu di Zhejiang juga mengalami pukulan berat. Ekonomi ekspor seluruh kota seakan kehilangan pondasinya.
Perusahaan swasta di Guangzhou, Foshan, Shandong, Qingdao, Shenzhen dan daerah lain pun mengeluh kesulitan.
Pemilik pabrik selimut bulu angsa di Anhui mengatakan: “Semua bisnis ekspor ke AS berhenti total. Barang-barang kami di pelabuhan harus ditarik kembali.”
E-Commerce Lintas Batas Terpukul LangsungPerdagangan elektronik lintas batas juga terkena dampak langsung. Terutama setelah Amerika Serikat mencabut jalur bebas pajak T86, yang praktis menjadi vonis mati bagi pelaku e-commerce kecil dan menengah.
Pengusaha e-commerce di Yiwu bermarga Lin mengatakan: “Sekarang di e-commerce, mungkin hanya 1% orang yang masih bisa bertahan, sisanya hanyalah umpan meriam.”
Pameran Dagang Kehilangan Pembeli ASPameran Kanton (Canton Fair), yang dianggap sebagai barometer perdagangan luar negeri, juga mengalami penurunan tajam pembeli dari Amerika. Pada Pameran Kanton ke-137, banyak eksportir mengatakan pesanan AS ditunda atau dihentikan. Pada Pameran Kanton ke-138 yang dibuka pertengahan Oktober, sikap menunggu dan pengalihan pasar masih menjadi arus utama.
Menurut laporan media, jutaan pabrik ekspor terdampak gesekan dagang AS–Tiongkok, dengan pesanan dari Amerika hampir nol. Di banyak daerah muncul gelombang libur massal, penghentian produksi, dan kebangkrutan.
Gelombang Tunggakan Upah dan PHK MeluasPada April dan Mei, dari wilayah Delta Sungai Yangtze hingga kota-kota di utara, masalah penunggakan upah dan PHK terus bermunculan.
Pada Juli, gelombang penunggakan gaji ini semakin meluas. Dari lokasi konstruksi hingga bengkel manufaktur, dari panggung pertunjukan hingga meja resepsionis kantor, aksi tuntutan gaji dan perlawanan buruh terjadi di berbagai wilayah Tiongkok.
Hingga November, gelombang tuntutan upah belum juga mereda. Hanya dalam periode 1–4 November, setidaknya terjadi 14 aksi mogok atau tuntutan gaji kolektif buruh manufaktur di seluruh Tiongkok.
Rumah Sakit Pun Ikut KolapsBahkan rumah sakit yang biasanya penuh pasien pun tak luput dari gelombang PHK dan kebangkrutan. Lebih dari 1.000 rumah sakit swasta tutup hanya dalam paruh pertama tahun ini.
Seorang perawat rumah sakit swasta di Chengdu, bermarga Zhang (suara disamarkan), mengatakan: “Ada yang bahkan tidak mendapat gaji pokok, ada yang iuran jaminan sosial dihentikan total. Setiap bulan hanya menerima 1.000 yuan, tidak mungkin hidup. Kalau tidak sanggup, ya pergi. Banyak rumah sakit sudah tutup, dan sebelum Tahun Baru Imlek gelombang PHK ini kemungkinan akan makin parah.”
Data Pengangguran DiragukanMeski PKT mulai Juli kembali merilis data tingkat pengangguran dan selama beberapa bulan berturut-turut mengklaim angkanya sekitar 5%, banyak pihak meragukan keras keabsahan data tersebut. Seorang pegawai negeri di Hunan secara terang-terangan menyebut tingkat pengangguran di Tiongkok jauh melebihi 30%.
Musim dingin industri manufaktur jelas semakin memperparah krisis pengangguran.
Goldman Sachs memperkirakan hingga 20 juta orang di Tiongkok bisa kehilangan pekerjaan akibat hilangnya pesanan dari AS.
Ekonom Amerika David Huang (Davy J. Wong) bahkan memperkirakan jumlah pengangguran pada akhirnya bisa mencapai lebih dari 30 juta orang, karena dampak lanjutan perang tarif tidak akan berhenti dalam waktu singkat.
David Huang mengatakan: “Penutupan pabrik bukan fenomena terpisah, melainkan bisa memicu efek berantai. Di wilayah pesisir, situasinya akan lebih parah. Gelombang kedua adalah relokasi pabrik besar-besaran, lalu pekerja menganggur, dan keuangan daerah ikut terpuruk.”
Para ahli menilai, jika gelombang pengangguran baru menumpuk di atas masalah lama, sangat mungkin memicu versi baru ‘Gerakan Kertas Putih’, yang dapat mengancam kekuasaan PKT.
Kekhawatiran PKT atas Kembalinya Kemiskinan MassalPada 13 November, PKT menggelar operasi khusus untuk mencegah kembalinya buruh migran ke desa secara massal dan mencegah kemiskinan skala besar akibat pengangguran. Langkah ini dianggap membuka kedok narasi palsu “prospek cerah” PKT, serta mengubah klaim “keajaiban pengentasan kemiskinan” menjadi kenyataan kembali miskin, sekaligus menyoroti parahnya resesi ekonomi dan gelombang pengangguran perkotaan di Tiongkok.
Meski perang dagang AS–Tiongkok sempat mereda setelah putaran kelima perundingan ekonomi, dampak berantai dari tarif tidak berhenti hanya karena gencatan senjata sementara di meja perundingan. Pada pertengahan November, media melaporkan tren “de-Tiongkokisasi” pabrik terus berlanjut, dengan relokasi ke Vietnam dan negara lain.
Krisis Belum BerakhirPada 2025, ekonomi Tiongkok menunjukkan tanda-tanda perlambatan menyeluruh akibat hantaman tarif. Data resmi tak mampu menutupi kenyataan di lapangan. Akar rumput telah terjerumus ke dalam musim dingin yang dalam—dari manufaktur hingga sistem kesejahteraan rakyat, semuanya berada di bawah tekanan berat.
Saat ini, krisis ini bukan saja belum berakhir, tetapi sedang menyebar ke keruntuhan yang lebih dalam dan lebih luas. (Hui)





