Penulis: Intan Kw
TVRINews, Kabupaten Bandung
Di tengah ramainya wisatawan yang datang ke kawasan Kawah Putih, Kabupaten Bandung, sosok Sansan nyaris tak pernah absen. Dengan kamera di tangan dan senyum ramah, ia setia mengabadikan momen para pengunjung yang ingin membawa pulang kenangan dari Tanah Pasundan.
Sansan bukan fotografer studio dengan lampu dan latar modern. Ia adalah tukang foto, sebutan yang ia ucapkan dengan sederhana. Sudah kurang lebih 12 tahun ia menekuni pekerjaan ini, menyusuri Kawah Putih yang setiap harinya dipenuhi wajah-wajah baru.
"Nama saya Sansan, selaku tukang foto. Bekerja sudah kurang lebih 12 tahun," kata Sansan kepada tvrinews.com.
Di era serba canggih seperti sekarang, Sansan merasakan banyak perubahan. Dari kamera cetak berukuran kecil 4R, kini ia beralih ke sistem file digital yang dinilai lebih praktis dan cepat. Meski demikian, esensi pekerjaannya tetap sama, yakni mengabadikan kebahagiaan orang lain.
Namun, perjalanan di balik lensa tak selalu manis. Ada kalanya Sansan harus menelan pil pahit. Tak semua orang menghargai pekerjaannya, dan ada hari-hari sepi ketika tak satu pun foto terjual. Meski begitu, ia tetap bersyukur karena dari hasil memotret, ia masih bisa menafkahi keluarga.
"Kalau dukanya kadang suka ada yang ngeledek, ngeledek lah biasa. Kalau dukanya banyak, kadang kita lagi sepi, nggak dapat satu foto," ucapnya.
Dalam kesehariannya, Sansan tak bekerja sendiri. Ia tergabung dalam paguyuban juru foto, sebuah komunitas yang beranggotakan sekitar 50 orang. Dalam sistem tersebut, ia menerima sekitar Rp3 ribu dari setiap foto yang terjual.
Jumlah pengunjung yang difoto pun tak menentu. Pada hari biasa, Sansan melayani belasan orang. Namun saat kawasan wisata ramai, terutama pada libur panjang, jumlahnya bisa meningkat cukup signifikan.
Pada momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Sansan merasakan adanya peningkatan jumlah pengunjung dibandingkan hari biasa. Meski pendapatan tidak melonjak drastis, ia mengakui ada kenaikan meski tipis.
"Agak meningkat sedikit, jadi nggak standar lah, meningkat sedikit," ujarnya.
Meski demikian, tantangan terbesar justru datang dari faktor alam. Kabut dan gerimis tak hanya mengurangi kepuasan hasil foto pengunjung, tetapi juga berisiko merusak peralatan kerja.
"Banyak resikonya. Kenapa banyak resikonya? Karena itu bisa, kalau ini kan hasil fotonya juga agak kurang puas kan pengunjungnya. Soalnya kan lagi kabut, apalagi kemudian pas lagi gerimis. Terus resikonya kamera juga. Kadang kameranya juga lumayan masalah, gampang rusak," imbuhnya.
Di balik kesederhanaannya, Sansan menyimpan harapan besar. Ia ingin para juru foto di kawasan Kawah Putih bisa terus berkembang dan bertahan di tengah perubahan zaman.
"Mudah-mudahan kita disini semua tukang fotonya sukses lagi, lebih berkembang lagi," tuturnya.
Ia pun berharap wisatawan yang pernah difotonya suatu hari kembali lagi, membawa kenangan baik tentang Kawah Putih dan orang-orang yang setia bekerja di balik lensa.
Editor: Redaksi TVRINews




