Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai fasilitas kredit yang belum ditarik atau undisbursed loan tinggi bukan karena tidak adanya permintaan dari sektor swasta.
Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) sebelumnya melaporkan bahwa pertumbuhan kredit pada November 2025 sebesar 7,74% secara tahunan (year on year/YoY) dengan fasilitas yang belum ditarik atau undisbursed loan mencapai Rp2.509,4 triliun.
Pada Rabu (31/12/2025), Purbaya membantah pandangan bahwa permintaan terhadap kredit nihil kendati tingkat undisbursed loan mencapai lebih dari Rp2.500 triliun. Dia mencontohkan salah satu perusahaan tekstil yang mengadu ke kanal Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) adalah terkait dengan sulitnya mendapatkan pembiayaan dari bank.
Padahal, perusahaan tekstil dimaksud yakni PT Mayer Indonesia Indah sudah memiliki agunan dan membawa bukti pesanan produksi. Namun, perusahaan itu mengadu ke Purbaya selaku salah satu anggota Satgas P2SP bahwa tidak kunjung mendapatkan kredit.
Menurutnya, perbankan memang pada tahun lalu lebih memilih untuk menyalurkan likuiditasnya ke instrumen investasi yang lebih menjanjikan seperti obligasi. Namun, sejalan dengan kebijakannya untuk membanjiri perbankan dengan kas pemerintah, Purbaya meyakini perbankan dengan sendirinya akan menyalurkan lebih kelebihan likuiditasnya ke sektor swasta.
"Dia [bank] bisa ke tempat [instrumen investasi] yang lebih enak, tetapi sekarang ketika uangnya lebih, ada yang minta [kredit] seperti itu, pasti disalurkan dengan lebih cepat. Jadi, enggak betul klaim bahwa undisbursed loan tinggi," terangnya kepada wartawan, dikutip pada Kamis (1/1/2026).
Baca Juga
- Purbaya Mau Paksa Ekonomi RI 2026 Tumbuh 6% di Tengah Waswas Dampak Global
- Purbaya Tarik Rp75 Triliun dari Bank untuk Belanja Pemerintah
Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu mengatakan, porsi undisbursed loan terhadap total portofolio kredit perbankan sama sepanjang tahunnya. Dia mengeklaim pada 2020—2021 atau pandemi Covid-19, ketika pemerintah juga menginjeksi himbara dengan APBN, porsi kredit menganggur juga sama.
Akan tetapi, dia melihat pertumbuhan kreditnya tetap bisa tinggi bahkan bisa double digit saat itu. Purbaya tidak menampik adanya masalah kredit menganggur. Dia melihat permintaan kredit bakal membaik seiring dengan perekonomian yang tumbuh.
"Jadi ya, problem undisbursed loan ada, tetapi ketika ekonominya tumbuh, yang lain akan pinjam lebih banyak ke perbankan," paparnya.
Sejauh ini, pemerintah telah memindahkan kas dari BI senilai total Rp276 triliun ke perbankan sejak September 2025. Sebanyak Rp75 triliun sempat ditarik kembali oleh Purbaya untuk digunakan mendanai belanja pemerintah pusat dan daerah.
Menurutnya, dampak injeksi kas pemerintah itu terhadap pertumbuhan penyaluran kredit bakal terasa tiga hingga empat bulan setelahnya. Akan tetapi, dampaknya ke kegiatan perekonomian diklaim bakal lebih cepat.
"[Dampaknya] terhadap economic activity overall akan tumbuh dengan signifikan dua sampai tiga bulan setelah uang itu masuk ke sistem," ujarnya.

/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2026%2F01%2F01%2Fc1ad9f6a-9346-3a81-b907-680693910a21_jpg.jpg)


