Eks Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengungkap asal usul penyakit super flu yang heboh di Amerika Serikat dan telah masuk Indonesia. Sudah ada 62 kasus di RI dan terbanyak ada di Jawa Timur.
"Kalau mau ditelusuri ke belakang lagi, pernah ada peningkatan kasus flu dunia yang cukup besar di tahun 1968 yang juga akibat virus influenza A H3N2, walaupun waktu itu belum yang sub clade K," kata Tjandra dalam keterangan tertulis, Jumat (2/1).
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu menjelaskan, virus H3N2 sub clade K yang disebut super flu sekarang sudah mengalami 7 kali mutasi.
WHO sejak November 2025 yang lalu sudah menyatakan bahwa virus ini sudah menyebar dengan cepat dan mendominasi pada beberapa negara di belahan bumi di atas khatulistiwa.
Di Amerika Serikat, terjadi peningkatan kasus juga pasien dirawat di rumah sakit. Hampir di seluruh negara bagian terdapat pasien super flu.
"Informasi terakhir per 30 Desember 2025 dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa influenza ada dalam kategori tinggi atau sangat tinggi di 32 negara bagian negara itu. Angka 32 itu meningkat dari 17 negara bagian di minggu sebelumnya," kata Tjandra.
"Angka perawatan pasien influenza di rumah sakit di Amerika Serikat juga meningkat menjadi 19,053 dari 9.944 di minggu sebelumnya," sambungnya.
Menurut CDC, di Amerika Serikat ada sekitar 3.100 orang meninggal akibat influenza pada musim flu kali ini. Dalam satu minggu kematian pada anak meningkat menjadi 5, dari 3 kematian seminggu sebelumnya.
Tjandra mengimbau masyarakat Indonesia setidaknya melakukan tiga hal terkait super flu ini.
Pertama, kalau ada gejala seperti flu maka baik untuk jaga kondisi, pakai masker supaya tidak menulari orang lain, bila perlu istirahat.
Kedua, berkonsultasilah ke petugas kesehatan bila sakit memberat, juga laporkan bila dalam suatu lingkungan (rumah, kantor, sekolah). Hal ini lantaran ada beberapa orang dengan gejala yang sama apalagi kalau berat dan mendadak.
Ketiga, tentang vaksinasi flu, memang dapat saja diberikan utamanya pada lansia atau mereka dengan komorbid yang berat.
Untuk pemerintah, menurut Tjandra, maka akan baik bila diinformasikan luas ke publik tentang perkembangan virus influenza H3N2 sub clade K di berbagai daerah.



