RKAB 2026 Belum Terbit, Vale (INCO) Hentikan Sementara Operasional Tambang

wartaekonomi.co.id
7 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyampaikan bahwa hingga saat ini persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Tahun 2026 belum diterbitkan. Kondisi ini mengakibatkan Perseroan secara hukum belum diperkenankan untuk melakukan kegiatan operasional pertambangan pada saat ini. 

"Sebagai bentuk kepatuhan terhadap ketentuan hukum dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik, Perseroan menghentikan sementara kegiatan operasi pertambangan di seluruh wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Perseroan hingga persetujuan resmi diterbitkan," kata Sekretaris Perusahaan INCO, Anggun Kara Nataya, dalam keterbukaan informasi, Jumat (2/1/2026). 

Langkah ini, lanjut Anggun, dilakukan untuk memastikan seluruh kegiatan usaha berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Meski demikian, keterlambatan persetujuan RKAB ini tidak berdampak langsung terhadap kondisi keuangan Perseroan saat ini.

Baca Juga: Bahlil Tegaskan Komitmen Lawan Mafia Tambang

Lebih lanjut, manajemen optimistis penundaan tersebut tidak akan mengganggu keberlanjutan operasional perusahaan dalam jangka panjang. Perseroan juga berharap proses persetujuan RKAB Tahun 2026 dapat segera rampung agar kegiatan operasional bisa kembali berjalan normal.

"Perseroan tetap berkomitmen menjaga stabilitas usaha, mematuhi hukum, serta memberikan nilai tambah berkesinambungan bagi pemegang saham, sejalan dengan tujuan Perseroan untuk mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan," pungkas Anggun. 

Baca Juga: KLH Segel Lima Tambang Terkait Banjir Sumbar

PT Vale adalah perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan operasi utama berlokasi di Blok Sorowako, Provinsi Sulawesi Selatan. Menggunakan teknologi pirometalurgi dan peleburan, perusahaan mengolah bijih nikel laterit menjadi produk akhir berupa nikel dalam matte. 

Melansir laman resmi perusahaan, PT Vale tengah mengembangkan proyek Indonesia Growth Project (IGP) yang mencakup fasilitas HPAL di Pomalaa senilai USD4,5 miliar bersama Ford dan Huayou, Morowali senilai USD2 miliar bersama GEM Co. Ltd, dan Sorowako Limonite senilai USD2,3 miliar bersama Huayou. 

Perusahaan mulai menjual bijih nikel dari Blok Pomalaa pada akhir 2024 dengan kuota 200.000 metrik ton, diikuti dengan dimulainya operasi penambangan dan penjualan bijih saprolit dari Blok Morowali, Sulawesi Tengah, pada pertengahan 2025 untuk pasar domestik.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tarif Impor Meksiko Bakal Naik, Ini Mobil Buatan Indonesia yang Diekspor ke Sana
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
PLN Sukses Jaga Layanan Kelistrikan Andal di Momen Pergantian Tahun 2025/2026
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Andhara Early Umumkan Bercerai dengan Bugi Ramadhana Setelah 14 Tahun Menikah
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Kementrans salurkan 1.700 paket sembako bagi transmigran di Batam
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Gunungan Sampah Setinggi 40 Meter di TPST Bantargebang Longsor, 3 Truk Masuk ke Kali | BERUT
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.