Kisah Inspiratif: Kisah Sean

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dokter mengatakan bahwa Sean (Transliterasi-red) adalah anak dengan keterbatasan intelektual bawaan dan kemungkinan tidak akan hidup lama. 

Seperti yang diungkapkan ayahnya dengan getir: “Anakku tidak bisa belajar seperti anak-anak lain, dan tidak mampu memahami dunia seperti mereka.”

Suatu hari, Sean pergi ke taman bersama ayahnya. Mereka melihat sekelompok anak laki-laki yang Sean kenal sedang bermain bisbol. 

Setelah memperhatikan cukup lama, Sean mendongak dan bertanya dengan polos :  “Apakah mereka mau mengajakku bermain bersama?”

Ayahnya tahu betul, sebagian besar anak mungkin tidak ingin Sean—dengan segala keterbatasannya—berada di tim mereka. Namun sebagai seorang ayah, dia juga mengerti bahwa jika Sean bisa ikut bermain, dia akan mendapatkan rasa memiliki yang sangat dia butuhkan, serta kepercayaan diri bahwa meski dia berbeda, dia tetap diterima.

Dengan harapan yang tak terlalu besar, sang ayah mendekati salah satu anak dan bertanya apakah Sean boleh ikut bermain. 

Anak itu menoleh ke rekan-rekannya lalu berkata: “Kami sedang tertinggal enam poin dan sekarang sudah masuk inning ke-8. Kami akan mencoba memasukkan dia bermain di inning ke-9.”

Sean berjalan menuju area istirahat tim dengan wajah penuh kegembiraan, mengenakan seragam bisbol dengan gerakan yang kikuk. Sang ayah diam-diam meneteskan air mata.

Di inning ke-8, tim Sean berhasil mengejar ketertinggalan, meski masih kalah tiga poin. Pada awal inning ke-9, Sean mengenakan sarung tangan dan ditempatkan di right field. Tak satu pun bola mengarah ke posisinya, namun berada di lapangan saja sudah membuatnya sangat bahagia. Ayahnya melambai dari tribun, dan Sean tersenyum lebar.

Pada akhir inning ke-9, tim Sean kembali mencetak angka. Situasi menjadi dua out dengan semua base terisi—pemukul berikutnya berpeluang besar membalikkan keadaan. Dan pemukul itu… adalah Sean.

Inilah momen krusial.  Akankah mereka membiarkan Sean memukul dan mengorbankan peluang menang?

Semua orang tahu Sean hampir mustahil memukul bola. Dia bahkan belum tentu tahu cara menggenggam tongkat bisbol dengan benar, apalagi mengenai bola.

Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan—mereka benar-benar menyerahkan tongkat pemukul kepada Sean.

Pitcher tampaknya memahami bahwa lawan telah melepaskan kemenangan demi satu momen penting dalam hidup Sean. Dia melangkah lebih dekat dan melempar bola yang sangat pelan, agar Sean setidaknya bisa menyentuhnya.

Lemparan pertama—Sean mengayun kikuk dan meleset. Pitcher maju beberapa langkah lagi dan kembali melempar bola pelan.

Kali ini, Sean berhasil memukul bola—sebuah ground ball pelan yang menggelinding lurus ke arah pitcher. Seharusnya, pitcher tinggal memungut bola itu dan melemparkannya ke base pertama untuk mengakhiri pertandingan.

Namun pitcher melempar bola tinggi-tinggi, melampaui kepala baseman pertama—hingga tak satu pun rekannya bisa menangkapnya.

Saat itu, penonton dari kedua kubu serempak berteriak : “Sean, lari ke base pertama! Lari ke base pertama!”

Seumur hidupnya, Sean belum pernah berlari sejauh itu. Namun dia tetap berlari sekuat tenaga dan menginjak base pertama. Matanya terbelalak, wajahnya penuh keterkejutan dan kebahagiaan.

Semua orang kembali berteriak: “Sean, ke base kedua! Ke base kedua!”

Dengan napas terengah, Sean tertatih-tatih menuju base kedua. Sementara itu, bola sampai ke right fielder—pemain paling pendek di tim lawan—yang untuk pertama kalinya berkesempatan menjadi pahlawan.

Dia sebenarnya bisa melempar bola ke base kedua. Namun dia memahami maksud sang pitcher. Dia pun sengaja melempar bola tinggi, melewati kepala baseman ketiga.

Saat pelari di depan berlari menuju home plate, Sean terhuyung-huyung menuju base ketiga.

Sorakan kembali menggema: “Ke base ketiga! Terus lari! Terus!”

Sean bisa mencapai base ketiga karena shortstop tim lawan berlari membantunya, menuntunnya ke arah yang benar. Ketika Sean menginjak base ketiga, semua pemain dari kedua tim dan seluruh penonton berdiri dan berseru: “Sean, home run! Home run!”

Saat Sean akhirnya berlari pulang dan menginjak home plate, sorak-sorai membahana, seolah-olah dia baru saja memukul grand slam dan memenangkan pertandingan untuk timnya.

Ayah Sean berkata: “Hari itu, anak-anak dari kedua tim dan seluruh penonton membawa cinta sejati serta cahaya kemanusiaan ke dunia ini.”

Sean tidak sempat melewati musim panas berikutnya. Dia meninggal dunia pada musim dingin tahun itu. Namun dia tak pernah melupakan bahwa dia pernah menjadi seorang pahlawan, dan pernah menerima begitu banyak dukungan serta cinta.

Kisah ini dikirimkan kepada saya oleh seorang teman dunia maya yang saya kenal.

Dia pernah menjadi istri yang bahagia dan ibu yang penuh kebanggaan. Namun musibah datang ketika anaknya kuliah. Akibat tekanan dan stres berkepanjangan, sang anak mengalami gangguan kejiwaan. Orangtua yang selama ini menaruh harapan besar tak sanggup menerima kenyataan itu, hingga nyaris runtuh secara mental.

Dia berkali-kali menuliskan kepedihannya kepada saya—bahwa demi kesembuhan anaknya, dia rela melakukan apa pun. Namun stigma dan diskriminasi lingkungan membuatnya tak berdaya. Di tidak berani memberi tahu rekan kerja, sahabat lama, teman bermain anaknya, bahkan para tetangga—karena terlalu banyak contoh diskriminasi yang membuatnya takut.

Dalam surat-suratnya, dia sering mengibaratkan dirinya seperti perahu kecil di tengah samudra luas, tanpa arah dan tanpa harapan.

Saya menyemangatinya untuk tetap percaya—karena keyakinan adalah prasyarat pemulihan. Perlahan, dia mulai terbuka. Dia bergabung dengan sebuah komunitas daring berisi para orangtua yang mengalami penderitaan serupa. Mereka saling berbagi pengalaman terapi, saling menguatkan.

Namun begitu keluar dari komunitas itu, mereka tetap harus menghadapi dinginnya sikap acuh masyarakat luas.

Menghadapi berbagai kelompok rentan, masyarakat kita sangat membutuhkan semangat seperti tim yang memberi kekuatan pada Sean. Bukan hanya demi mereka yang lemah, tetapi demi seluruh masyarakat.

Menolong Sean—sesungguhnya adalah menolong diri kita sendiri.(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ratusan Sepatu Kulit Abad ke-19 Tiba-tiba Muncul Misterius di Pantai Inggris
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Sungai Kelay di Bawah Lubang Tambang
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Gunung Semeru Meletus 4 Kali Hari Ini
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Polres Bone Tangani 184 Kasus Narkotika Sepanjang 2025, Enam Anak Terjerat Narkoba
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Target BEI 2026: 50 Emiten IPO, Rata-Rata Transaksi Harian Saham Tembus Rp 15 T
• 5 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.