Kita sering menyebut kata Rajab, tapi tak jarang dari kita mengetahui makna dan arti yang sesungguhnya dari bulan mulia tersebut. Nama bukan sekadar label, melainkan sematan doa dan karakter. Kata rajab berasal dari fi’il tsulatsi mujarrod ra–ja–ba. Memiliki tiga huruf dasar yang berarti هابه وعظمه yaitu mengagungkannya; artinya, terdapat sebuah keagungan di dalam bulan Rajab yang mesti dimuliakan.
Tak hanya bulan Rajab, ketiga bulan haram lainnya—yang biasa disebut asyhurul hurum itu—memiliki keistimewaan dan keutamaan tersendiri. Seperti beristighfar, puasa, dan bersedekah. Bulan-bulan tersebut adalah Muharram, Rajab, Dzulqo’dah, dan Dzulhijah.
Makna At-Tarjib, Pengagungan dalam Bulan RajabMengagungkan bulan rajab sangat bervariasi caranya. Beberapa ulama ada yang mengajarkan kita berpuasa dan ada juga yang tidak, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani yang mengatakan bahwa tidak ada satu pun puasa yang dikhususkan untuk dilaksanakan di bulan Rajab.
Namun, tak ada salahnya jika kita ingin berpuasa di bulan rajab, meskipun terdapat hadits dhoif atau hadits yang terhitung lemah. Tak hanya berpuasa, keutamaan yang dapat kita lakukan di bulan yang agung ini adalah membaca Alquran.
Selain memperoleh banyak pahala, kita mampu melatih kemampuan dan keinginan membaca Alquran lebih banyak serta membiasakan diri menuju bulan Ramadhan. Dapat dikatakan, bahwa ini adalah riyadhoh diri yang mungkin terhitung sederhana, tetapi jika kita konsisten dalam mengamalkannya, kita dapat meraih kebiasaan baik itu.
Makna Al-Ashobb, Mengalirnya Rahmat dari Sang KuasaJika at-tarjib merupakan makna yang diraih oleh hamba, al-ashobb adalah makna yang terletak di sisi Sang Pencipta. Ketika Allah memberi pahala yang berlipat ganda, itu artinya Allah menurunkan banyak rahmat untuk para hambanya. Kasih sayang mana lagi yang lebih besar dari rahmat Allah?
Tentu tak ada yang menyamakannya. Maka, salah satu bulan haram ini memiliki nama al-ashobb yang berarti kucuran. Berasal dari kata صَبَّ ـ يَصُبُّ, mengucurkan atau menyiram dan dapat dipahami sebagai kucuran rahmat dan ampunan. Dalam bulan hurum, seluruh manusia dianjurkan untuk melakukan kebaikan karena kelipatan pahala yang Allah limpahkan.
Dalam buku Keagungan Rajab dan Sya’ban karangan Abdul Manan bin Haji, “Pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan 70 kali lipat dalam bulan Rajab, 700 kali lipat dalam bulan Sya’ban, dan 1.000 kali lipat dalam bulan Ramadhan.”
Menanggapi hal tersebut, manusia dituntut untuk lebih produktif dan pandai dalam menempatkan niat pada semua pekerjaan yang dilakukan seharian penuh. Sebagaimana yang kita tahu pula, bahwa satu perbuatan yang didasari suatu niat, itulah yang ia dapatkan.
Makna Al-Ashomm, Terhindarnya Bulan Rajab dari Hal NegatifMakna al-ashomm adalah tuli, "Alasan penamaan ini karena pada bulan Rajab tidak terdengar gencatan senjata untuk berperang yang dilakukan oleh bangsa Arab jahiliah pada masa dahulu." (Fadilasari, 2024)
Akan tetapi orang arab jahiliyah zaman dahulu sangat bersemangat untuk berperang, tak peduli apa pun bulannya, sehingga mereka menambah bulan ketiga belas setelah semua bulan dalam setahun terjalani. Padahal, mereka telah diajarkan bahwa peperangan adalah hal yang dilarang di bulan hurum, ini menurut mayoritas ulama.
"Namun larangan berperang pada bulan-bulan haram ini kemudian dinasakh (dihapus hukumnya) dengan perintah untuk memerangi kaum musyrik di mana pun dan kapan pun mereka berada, meskipun bertepatan dengan bulan haram." (Saputra, 2024)
Maka, sebagian ulama memperbolehkan berperang di bulan Rajab, salah satu bulan hurum. Dan jika kita menerapkan keutamaan bulan Rajab ini di zaman modern, tentu saja perbuatan baik dan menyenangkan hari saudara-saudara kita lebih diutamakan, mengingat manfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain.
Sebagai contoh, tidak menyebarkan hoaks di media sosial, berperang alias bertengkar di kolom komentar konten orang lain, atau kejadian lainnya yang sering terjadi di media komunikasi kita saat ini.
Maka, peluang memanfaatkan kelipatan pahala di bulan Rajab sejatinya sangat banyak, di antaranya menyebarkan konten dakwah tentang puasa rajab, persiapan ibadah di bulan puasa guna meningkatkan ketakwaan, dan sebagainya.
Dengan ini, kita sudah dapat mengagungkan bulan yang Allah pilih untuk dilipatgandakannya ganjaran amal saleh. Melalui media terdekat kita, misalnya telepon genggam.
Rajab MudharDari Abu Bakar, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya waktu berputar sebagaimana yang ditetapkan Allah sejak hari Ia menciptakan langit-langit dan bumi, dalam satu tahun terdapat dua belas bulan dan empat di antaranya bulan haram. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak di antara Jumada dan Sya’ban.” (H.R. Bukhori)
Bulan Rajab disebut dengan mudhar karena jatuh di antara bulan Jumada dan Sya’ban. Namun, pendapat lain mengatakan bahwa mudhar di ambil dari salah satu nama suku Arab yang begitu disiplin waktu dan mengagungkan bulan Rajab.
Hal ini mencerminkan bahwa agama islam sangat menghargai waktu, misalnya menghargai bulan mulia yang penuh akan limpahan rahmat dan ganjaran dengan memperbanyak ibadah.
Jadi, bulan Rajab merupakan upaya pertemuan antara hamba kepada Tuhannya dengan siramanNya yang tak terhitung. Dengan cara men-tarjib waktu dan menertibkan diri guna kesiapan memasuki bulan Ramadhan yang memiliki kelipatan ganjaran yang jauh lebih besar. Mari kira rajabkan bulan ini supaya Allah mengashobbkan rahmatNya kepada kita.



