Satu peterjun payung yang hilang empat hari lalu ditemukan tak bernyawa di Perairan Pangandaran, Jumat (2/1/2026). Terkait ini, semua pihak diminta mewaspadai peningkatan kecepatan angin dan cuaca buruk yang rawan mengakibatkan kejadian fatal di Jawa Barat.
Jenazah itu dipastikan bernama Widiasih (57). Dia satu dari dua peterjun payung yang dinyatakan tewas akibat kecelakaan penerjunan di Bojongsalawe, Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Selasa (30/12/2025). Satu tewas lainnya adalah Rusli. Keduanya berasal dari Kabupaten Bandung, Jabar.
“Jenazah Widiasih pertama kali ditemukan nelayan Cilacap yang ada di KM Murah Rezeki, pukul 07.45 WIB. Nelayan lalu melaporkan penemuan jenazah ini pada kami,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Bandung Ade Dian Permana, Jumat.
Ade mengatakan, korban ditemukan di sekitar kawasan Bagolo atau berjarak 9 nautical mile dari lokasi kejadian. Setelah kapal SAR mendarat di Tempat Pelelangan Ikan Batukaras, jenazah langsung dibawa ke RSUD Pandega, Pangandaran.
“Dengan telah ditemukannya korban maka operasi SAR dinyatakan selesai dan ditutup,” katanya.
Kecelakaan penerjunan itu terjadi pada Selasa, pukul 11.40 WIB. Kecelakaan melibatkan lima orang. Selain dua tewas, Widiasih dan Rusli, ada tiga lain yang dinyatakan selamat. Peterjun yang selamat adalah Khudlori, Muhammad Almuthofa, dan Karni.
Peristiwa ini bermula pada kegiatan terjun payung tersebut menggunakan pesawat latih Cessna 185 PK-SRC milik Fly School Ganesha. Pesawat lepas landas dari Bandara Nusawiru, Pangandaran, pukul 10.15 WIB.
Akan tetapi, penerjunan itu tidak mulus. Setelah terjun dan berada pada ketinggian kurang lebih 10.000 kaki atau 3.048 meter, terjadi perubahan arah angin yang cukup signifikan. Kondisi ini menyebabkan para peterjun kehilangan kendali dan arah pendaratan.
Dalam beberapa pekan terakhir, angin kencang sangat rawan di selatan Jabar. Di hari saat insiden yang dialami para peterjun itu terjadi, misalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya pertumbuhan bibit siklon tropis 96S di Samudra Hindia selatan NTB dan bibit siklon tropis 98S di daratan Australia bagian utara.
Hal ini berpengaruh terhadap peningkatan kecepatan angin di wilayah Jabar. Selain itu, terpantau juga adanya belokan angin dan konvergensi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan awan hujan.
Di awal 2026, potensi cuaca buruk masih terjadi. Pada Jumat, terpantau siklon tropis Iggy berkembang dari bibit siklon tropis 90S yang tumbuh sejak 29 Desember 2025.
Terkait ini, hingga Sabtu (3/12), Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah pesisir selatan Banten, pesisir selatan Jabar, pesisir selatan Jawa Tengah, dan pesisir selatan Yogyakarta.
Selain itu, rentan juga terjadi gelombang tinggi, antara 1,25-2,5 m dari Selat Sunda bagian selatan hingga Nusa Tenggara Timur. Bahkan, berpotensi juga muncul gelombang tinggi antara 2,5-4 m di Samudra Hindia selatan Jatim.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu kembali mengingatkan masyarakat selalu waspada. Alasannya, cuaca ekstrem rawan muncul dan dapat berubah kapan saja memicu potensi bencana hidrometeorologi.



