FAJAR.CO.ID, LONDON — Chelsea FC tengah berada dalam sorotan menyusul laporan adanya ketegangan internal antara pelatih kepala Enzo Maresca dan jajaran manajemen klub. Pelatih asal Italia tersebut dikabarkan beberapa kali memiliki pandangan berbeda terkait pemilihan susunan pemain serta keputusan pergantian pemain di tengah pertandingan, yang disebut berdampak pada dinamika kerja internal dalam beberapa pekan terakhir.
Situasi tersebut muncul di tengah tekanan performa Chelsea yang belum sepenuhnya konsisten. Perbedaan pandangan itu terutama berkaitan dengan kewenangan di area teknis, di mana Maresca disebut tidak sepenuhnya menerima keputusan-keputusan yang menurutnya berada di luar kendali langsungnya sebagai pelatih kepala. Ia menginginkan otoritas penuh terhadap aspek taktik dan rotasi pemain selama pertandingan berlangsung.
Di sisi lain, pihak Chelsea menegaskan bahwa model kerja klub tidak mengalami perubahan. Klub menilai setiap keputusan terkait seleksi pemain dan rotasi didasarkan pada data medis serta pengelolaan beban kerja pemain. Kebijakan tersebut, menurut manajemen, merupakan rekomendasi murni dari departemen medis dan performa, bukan bentuk intervensi langsung dari jajaran direksi, sebagaimana dilaporkan Reuters, Kamis (1/1/2026).
Manajemen Chelsea menilai pendekatan tersebut penting untuk menjaga kebugaran skuad dalam jangka panjang, terutama di tengah jadwal kompetisi yang padat. Klub ingin meminimalkan risiko cedera, khususnya pada pemain muda, sehingga rotasi dianggap sebagai bagian dari strategi keberlanjutan tim. Pendekatan ini diklaim telah menjadi kesepakatan bersama sejak awal musim.
Namun demikian, Enzo Maresca diyakini memiliki pandangan berbeda. Ia menilai persoalan yang terjadi tidak hanya berkutat pada aspek medis, tetapi telah merambah ke berbagai departemen di dalam klub. Pelatih berusia 46 tahun itu disebut merasa ada dinamika internal yang memengaruhi ruang geraknya dalam mengambil keputusan penting, sehingga tekanan terhadap dirinya kian meningkat.
Tekanan lainnya datang dari dorongan untuk melakukan rotasi besar-besaran yang dikabarkan bertujuan memberi menit bermain lebih luas kepada pemain muda demi meningkatkan nilai pasar mereka. Pendekatan tersebut dinilai Maresca berpotensi mengganggu stabilitas tim jika tidak selaras dengan kebutuhan taktik pertandingan. Ia disebut lebih memilih keseimbangan antara pengembangan pemain dan target hasil.
Meski berada dalam situasi penuh tekanan, kontribusi Enzo Maresca bersama Chelsea tak bisa diabaikan. Sejak menukangi The Blues, Maresca telah mempersembahkan dua gelar juara di level domestik dan kompetisi Eropa, sekaligus mencatatkan persentase kemenangan mendekati 60 persen di semua ajang. Catatan tersebut menjadikannya salah satu pelatih dengan capaian terbaik Chelsea dalam beberapa musim terakhir.
Capaian tersebut memperkuat pandangan bahwa Chelsea telah menerima warisan fondasi tim yang solid dari Maresca. Dengan gaya permainan berbasis penguasaan bola, struktur bertahan yang rapi, serta pengembangan pemain muda, Maresca dinilai telah meninggalkan arah yang jelas bagi proyek jangka menengah klub.
Meski belum ada keputusan resmi terkait masa depannya, manajemen Chelsea disebut masih membuka ruang dialog untuk meredam ketegangan yang ada, sebagaimana dilaporkan The Guardian, Jumat (2/1/2026). Ke depan, hubungan Maresca dan manajemen akan sangat bergantung pada keselarasan visi kedua belah pihak. Jika kompromi tercapai, stabilitas tim diyakini masih bisa dijaga.
Profil Enzo Maresca
Enzo Maresca merupakan pelatih asal Italia yang dikenal sebagai bagian dari generasi pelatih modern dengan pendekatan taktik progresif. Sebelum menangani Chelsea, ia menimba pengalaman sebagai asisten pelatih di Manchester City dan terlibat langsung dalam pengembangan filosofi permainan berbasis penguasaan bola.
Karier kepelatihannya mulai mendapat sorotan saat sukses membawa klub sebelumnya tampil dominan dengan gaya permainan menyerang yang terstruktur. Pendekatan tersebut kemudian dibawanya ke Chelsea dengan adaptasi terhadap karakter pemain muda yang dimiliki klub.
Sebagai mantan gelandang, Maresca memiliki pemahaman mendalam soal kontrol permainan dari lini tengah. Hal ini tercermin dari upayanya membangun tim Chelsea yang mampu menguasai tempo pertandingan dan bermain efektif di berbagai situasi.
Di Chelsea, Maresca dikenal berani memberi kepercayaan kepada pemain muda. Sejumlah talenta akademi mendapatkan menit bermain reguler di bawah arahannya, sekaligus berkembang menjadi aset penting klub.
Dengan dua gelar juara dan win rate sekitar 60 persen, Enzo Maresca meninggalkan jejak signifikan di Stamford Bridge. Terlepas dari dinamika internal yang terjadi, kontribusinya menjadi fondasi penting bagi perjalanan Chelsea ke depan. (zak/fajar)




