Bisnis.com, JAKARTA — Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dengan menyiapkan strategi yang lebih terukur dan selektif dalam menikmati periodeJanuary Effect di pasar saham awal tahun ini.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menilai momen January Effect sebaiknya dipandang sebagai peluang tambahan, bukan jaminan reli pasar. Menurutnya, pola musiman ini tidak selalu muncul setiap tahun dan sangat bergantung pada kondisi makro serta sentimen global.
“Kendati fenomena January Effect tidak dapat dijamin kepastiannya, investor perlu memandang tren ini sebagai peluang potensial pada awal 2026, alih-alih menjadikannya sebagai satu-satunya strategi andalan dalam portofolio,” ujar Nafan saat dihubungi Bisnis pada Jumat (2/1/2025).
Nafan menjelaskan bahwa secara historis, fenomena January Effect kerap ditopang oleh aksi beli ulang investor setelah tax-loss selling pada Desember, bonus akhir tahun, serta rebalancing portofolio awal tahun. Kondisi ini umum akan memberikan dorongan pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah.
Namun, peluang tersebut lebih relevan dibaca dalam konteks fundamental. Inflasi domestik yang masih dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) disebut memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Selain itu, stimulus fiskal pemerintah dan momentum konsumsi awal tahun, termasuk Imlek dan Ramadan, berpotensi menjadi penopang aktivitas ekonomi kuartal I/2026. Faktor ini dapat memperbaiki sentimen pasar secara bertahap.
Dari sisi global, Nafan melihat meredanya tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China serta meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed turut menjadi katalis pendukung. Namun, risiko volatilitas global dan pergerakan nilai tukar tetap perlu diantisipasi.
Dalam situasi ini, investor disarankan untuk tidak mengejar reli secara agresif. Strategi buy on dippada saham-saham tertentu dinilai lebih relevan dibandingkan spekulasi jangka pendek berbasis sentimen musiman.
“Akumulasi saham-saham pilihan dengan prospek yang solid dan gunakan strategi buy on dip. Selain itu, lakukan aksi ambil untung jika diperlukan dan terapkan manejemen risiko secara efektif,” pungkas Nafan.
Selain faktor fundamental, dia menyatakan bahwa konfirmasi teknikal tetap dibutuhkan untuk menangkap peluang secara lebih presisi. Area support dan resistance, serta indikator momentum, dinilai dapat membantu investor dalam meminimalkan risiko false signal di tengah volatilitas pasar.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5112646/original/088113300_1738171588-WhatsApp_Image_2025-01-29_at_23.49.21_5bd46ebb.jpg)


