Asli atau Palsu? Cara Mengidentifikasi Gambar dari Kecerdasan Buatan

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Kecerdasan buatan atau AI kini dapat menghasilkan gambar orang sungguhan yang semakin sulit dibedakan dari foto asli. Kemampuan AI untuk menghasilkan gambar-gambar baru dan sintetis dari orang sungguhan ini membuka peluang penggunaan dan penyalahgunaan. Misalnya, para kreator dapat menghasilkan gambar seorang tokoh yang mendukung produk atau sikap politik tertentu.

Menggunakan model AI ChatGPT dan DALL·E, tim peneliti dari Universitas Swansea dan Universitas Lincoln mengklaim bisa menciptakan gambar yang sangat realistis dari wajah fiktif dan terkenal, termasuk selebritas, yang sulit dibedakan dengan wajah asli, bahkan ketika mereka sudah familiar dengan penampilan orang tersebut.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cognitive Research: Principles and Implications pada Oktober 2025 ini menunjukkan tingkat ”realisme deepfake” yang baru. Laporan ini mengungkap bahwa AI kini dapat menghasilkan gambar palsu yang meyakinkan dari orang sungguhan yang dapat mengikis kepercayaan pada media visual.

Pelatihan selama lima menit dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan orang untuk mengidentifikasi gambar palsu hasil kecerdasan buatan.

Profesor Jeremy Tree dari Sekolah Psikologi, Universitas Swansea, Inggris, mengatakan, ”Studi telah menunjukkan bahwa gambar wajah orang fiktif yang dihasilkan menggunakan AI tidak dapat dibedakan dari foto asli. Namun, untuk penelitian ini, kami melangkah lebih jauh dengan menghasilkan gambar sintetis orang sungguhan.”

Fakta bahwa AI dapat melakukan ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran tentang misinformasi dan kepercayaan pada media visual, tetapi juga kebutuhan mendesak akan metode deteksi yang andal.

Pada satu eksperimen, peserta dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Selandia Baru diperlihatkan pada serangkaian gambar wajah asli dan hasil AI. Mereka lalu diminta untuk mengidentifikasi mana yang asli dan mana yang palsu.

Baca Juga”Deepfake”, Ancaman Manipulasi Konten yang Mengintai di Sekitar Kita

Hasilnya, sejumlah peserta salah mengira foto hasil AI sebagai foto yang asli. Fakta ini menunjukkan betapa masuk akalnya foto wajah-wajah hasil AI tersebut.

Dalam eksperimen lain, peserta diminta menebak mana gambar asli dan mana gambar yang dihasilkan komputer dari bintang Hollywood, seperti Paul Rudd dan Olivia Wilde. Sekali lagi, hasil penelitian menunjukkan betapa sulitnya bagi peserta untuk menemukan versi yang otentik.

Tree menambahkan, studi ini menunjukkan bahwa AI dapat menciptakan gambar sintetis dari wajah baru dan wajah yang sudah dikenal sehingga sebagian besar orang tidak dapat membedakan dari foto aslinya. Familiar dengan wajah atau memiliki referensi gambar asli tidak banyak membantu dalam mendeteksi gambar palsu. ”Itulah mengapa kita sangat perlu menemukan cara baru untuk mendeteksinya,” ujarnya.

Latihan mengidentifikasi perbedaan

Hasil studi lain dalam jurnal Royal Society Open Science pada November 2025 menunjukkan, pelatihan selama lima menit dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan orang untuk mengidentifikasi gambar palsu hasil kecerdasan buatan.

Para ilmuwan dari Universitas Leeds, Reading, Greenwich, dan Lincoln menguji kemampuan 664 peserta studi untuk membedakan antara wajah manusia asli dan wajah hasil perangkat lunak komputer bernama StyleGAN3, sistem paling canggih yang tersedia saat penelitian dilakukan.

Baca JugaGambar Buatan Teknologi AI Kian Meresahkan

Tanpa pelatihan apa pun, individu yang mendapat skor di atas rata-rata pada tes pengenalan wajah berhasil mengidentifikasi gambar palsu sebanyak 41 persen. Mereka ini adalah super-recognizer, seseorang dengan kemampuan pengenalan wajah yang lebih baik daripada rata-rata manusia biasa. Adapun peserta dengan kemampuan rata-rata hanya mengenali 31 persen.

Setelah menerima pelatihan singkat, tingkat akurasi pengenalan wajah para peserta meningkat. Para super-recognizer mencapai akurasi 64 persen dalam mendeteksi wajah palsu, sementara peserta pada umumnya mencetak akurasi 51 persen.

Wajah yang dihasilkan AI biasanya menampilkan kesalahan rendering, seperti gigi yang tidak sejajar, garis rambut yang tidak biasa, atau telinga dan anting-anting yang tidak berbentuk atau tidak serasi. Selama pelatihan, peserta diperlihatkan pada gambar hasil AI yang menunjukkan ini.

Eilidh Noyes dari Sekolah Psikologi Universitas Leeds mengatakan, gambar AI semakin mudah dibuat dan sulit dideteksi. Gambar-gambar tersebut dapat digunakan untuk tujuan jahat. Oleh karena itu, sangat penting untuk bisa mendeteksi gambar buatan.

”Studi kami menunjukkan bahwa penggunaan super-recognizer yang dikombinasikan dengan pelatihan dapat membantu dalam mendeteksi wajah AI,” kata Noyes.

Baca JugaEnam Kejahatan dengan Menggunakan AI Marak di Sekitar Kita

Katie Gray, koordinator peneliti di Universitas Reading, mengatakan, wajah hasil AI yang sangat realistis menimbulkan risiko keamanan yang nyata. Wajah-wajah tersebut telah digunakan untuk membuat profil media sosial palsu, melewati sistem verifikasi identitas, dan membuat dokumen palsu. Orang sering menilai wajah yang dihasilkan AI lebih realistis daripada wajah manusia sebenarnya.

Hasil penelitian Gray dan timnya menunjukkan, masih ada peluang untuk membedakan gambar wajah asli dengan buatan AI, terutama bagi super-recognizer. Namun, bagi awam, cara yang paling gampang untuk ditelisik adalah ciri visual yang sering ”bocor” pada gambar AI, terutama menyangkut anatomi dan detail tubuh.

Misalnya, perhatikan bagian jari tangan yang kadang kala jumlahnya tak konsisten, bentuk aneh, menyatu, atau kuku tidak realistis. Selain itu, perhatikan bagian telinga apakah asimetris, menempel aneh ke kepala, atau detail lipatan tidak masuk akal. Detail lain bagian gigi apakah terlalu sempurna, menyatu, atau ada pola berulang. Bagian lain adalah mata, lihat pantulan cahaya (catchlight) apakah konsisten antara mata kiri dan kanan.

Kita juga bisa melihat tekstur dan material. Misalnya, kulit terlalu mulus seperti plastik atau lilin tanpa pori, bekas luka kecil, atau noda alami bisa dicurigai sebagai buatan AI. Demikian halnya, ujung rambut “menghilang” ke latar, tidak jelas arah tumbuhnya, serta bayangan yang tidak mengikuti struktur tubuh.

Dalam gambar-gambar yang dibuat AI, kadangkala sumber cahaya tidak jelas atau tidak konsisten. Misalnya, bayangan jatuh ke arah yang berbeda-beda dan objek tidak “menempel” ke tanah (floating effect).

Baca JugaAI Kerap Salah, Bohong,  dan Otaknya Membusuk

Berikutnya, seringkali kita juga melihat latar terlalu sempurna atau generik seperti objek berulang dengan bentuk hampir sama. Perhatikan juga tulisan di papan, baju, spanduk yang kerapkali menggunakan huruf acak, ejaan salah, dan bahasa campur tanpa konteks.

Bagaimanapun, kesalahan dalam detail-detail teknis tersebut nantinya mungkin bisa disempurnakan oleh AI. Ke depan, sepertinya bakal semakin sulit kita membedakan, mana gambar sesungguhnya dan mana buatan AI.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bulog harap ada suntikan APBN dalam pengadaan 4 juta ton beras
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Jasa Marga: Puncak Arus Balik Nataru Diprediksi Terjadi pada Minggu 4 Januari 2026
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Wali Kota New York Zohran Mamdani Cabut Kebijakan Pro-Israel Era Eric Adams
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Realisasi KUR di NTT Capai Rp2,75 Triliun, Debitur Tembus Lebih dari Dua Kali Lipat Target
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Al-Ahli vs Al-Nassr: Al-Ahli Hentikan Rekor Tak Terkalahkan Al-Nassr
• 15 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.