Belasan orang menjadi korban ganasnya ombak di wilayah perairan utara Papua pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026. Di Kabupaten Kepulauan Yapen, sebanyak 16 orang korban perahu motor atau speedboat terbalik dinyatakan masih hilang. Sementara itu, di Kabupaten Sarmi, seorang pelajar masih dicari karena terseret ombak di pantai.
Di Kepulauan Yapen, Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Biak resmi menutup operasi pencarian korban speedboat terbalik pada Jumat (2/1/2026). Sebanyak 16 dari 21 orang yang naik speedboat itu tidak ditemukan.
“Kami telah berupaya semaksimal mungkin menyisir permukaan laut, (penyisiran melalui) udara, hingga area pesisir. Namun, hingga hari kesembilan, tidak ada tanda-tanda signifikan. Sesuai hasil evaluasi bersama keluarga dan instansi terkait, maka operasi SAR kami nyatakan ditutup," kata Kepala Kantor SAR Biak Kundori.
Insiden itu menimpa rombongan speedboat yang berangkat dari Serui, ibu kota Kepulauan Yapen, menuju Kampung Waindu, Distrik Raimbawi, Kepulauan Yapen, Rabu (24/12/2025). Perahu yang menggunakan dua unit mesin 40-PK ini terbalik karena dihantam gelombang tinggi di perairan Tanjung Andei, sekitar pukul 20.00 WIT.
Informasi dari Kantor SAR Biak menyebutkan, laporan kejadian ini pertama kali diterima pada Kamis (25/12/2025) sekitar pukul 17.00 WIT. Jika ditarik garis lurus, lokasi kejadian berjarak sekitar 41,24 mil dari Serui dan 1,7 mil dari Waindu.
Tiga orang penumpang speedboat ditemukan selamat. Sementara itu, dua orang lainnya ditemukan dalam keadaan meninggal. Dua korban meninggal ini masing-masing ditemukan pada hari ketiga dan hari ketujuh operasi SAR.
Selama operasi, upaya maksimal telah dilakukan oleh 185 personel SAR gabungan yang terdiri dari tim SAR Biak, TNI-Polri, hingga unsur masyarakat. Pencarian turut dilakukan melalui udara dan laut dengan menyisir sekitar 600 mil persegi wilayah perairan.
Namun, hingga hari ketujuh dan ditambah perpanjangan dua hari, korban lainnya tak kunjung ditemukan. Berdasarkan kesepakatan dengan keluarga, operasi SAR dinyatakan ditutup.
“Status ini bersifat fleksibel. Jika di kemudian hari ditemukan bukti baru atau tanda-tanda keberadaan korban, baik oleh nelayan maupun masyarakat sekitar, operasi SAR akan dibuka kembali,” ujar Kundori.
Sementara itu, pada Kamis (1/1/2026), Kantor SAR Jayapura juga menerima laporan terkait tenggelamnya seorang pelajar bernama Okta (18) di Pantai Taronta, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi. Remaja laki-laki ini dilaporkan terseret ombak saat bermain di pantai bersama dua rekannya.
Kepala Kantor SAR Jayapura Anton Sucipto mengatakan, saat awal kejadian, ketiga korban berusaha diselamatkan oleh warga setempat. Dua di antaranya berhasil diselamatkan.
“Teman korban bersama pihak keluarga sudah berupaya melakukan pencarian. Upaya ini belum membuahkan hasil sehingga melapor ke Pos SAR Sarmi untuk mendapatkan bantuan,” ucap Anton.
Akan tetapi, upaya pencarian bersama SAR juga belum membuahkan hasil. Hingga Sabtu (3/1/2026), pencarian dari tim SAR gabungan serta pihak keluarga masih terus dilakukan.
Dihubungi terpisah, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura Heri Purnomo menyatakan, saat ini gelombang tinggi di wilayah perairan utara Papua perlu diwaspadai. Hal ini tidak terlepas dari puncak musim hujan di wilayah Papua yang sedang berlangsung hingga dampak dari pertumbuhan siklon tropis.
“Musim hujan itu berlangsung sejak akhir tahun hingga awal tahun 2026 ini. Dengan begitu, cuaca ekstrem pasti mengikuti. Namun, ada juga pertumbuhan siklon tropis di wilayah selatan yang sirkulasinya dan pola angin mempengaruhi laut di wilayah utara,” ujarnya.
Berdasarkan, peringatan yang dikeluarkan oleh Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura, pada 3-4 Januari 2026, gelombang setinggi 1,25 meter - 2,5 meter berpeluang terjadi di berbagai perairan Papua. Hal itu meliputi perairan utara dan selatan Serui, perairan Jayapura, perairan Kepulauan Mapia, perairan Sarmi-Mamberamo, hingga perairan barat, timur, utara, dan selatan Biak.
Selain itu, pada periode tersebut, angin bertiup dari arah barat ke utara dengan kecepatan berkisar 4-26 knot di perairan utara Papua. Dengan kecepatan angin 15 knot, nelayan sangat tidak disarankan beraktivitas di laut.
Musim liburan ini kan selalu ramai dan biasanya membeludak. Tantangannya, ketika semakin ramai, akan ada orang yang mencoba mencari tempat sehingga melewati batas aman kawasan pantai
Namun, Heri menyatakan, masih ada kendala terkait kondisi sosial budaya yang ada di masyarakat pesisir. Selama ini, imbauan dan pemberitahuan terkait keselamatan laut selalu disampaikan.
“Meskipun imbauan itu telah disampaikan, terkadang dari masyarakat merasa sudah terbiasa dengan situasi laut seperti ini. Apalagi dengan alasan kebutuhan ekonomi sehingga tetap saja menerobos. Di sisi lain, tidak semua aktivitas perahu nelayan itu bisa dipantau otoritas pelabuhan,” ucapnya.
Sementara itu, kegiatan wisata di wilayah pesisir juga mesti memperhatikan kondisi cuaca. Di pesisir utara Papua, wisata pantai tetap menjadi primadona, khususnya memasuki libur Natal dan Tahun Baru.
Heri menyebut, sejumlah pantai di wilayah utara Papua masih aman untuk aktivitas wisata. Namun, ada beberapa bagian pantai yang memiliki kondisi gelombang dan arus laut yang perlu dihindari.
“Musim liburan ini kan selalu ramai dan biasanya membeludak. Tantangannya, ketika semakin ramai, akan ada orang yang mencoba mencari tempat sehingga melewati batas aman kawasan pantai,” katanya.
Menurut Heri, hal ini perlu menjadi perhatian bersama bagi masyarakat dan instansi terkait. Kendati telah ada pos dan petugas pengamanan, jumlah personelnya harus mencukupi agar semua titik bisa dijangkau. Apalagi, insiden seperti ini terus berulang dengan alasan yang hampir selalu sama.



