FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Rizal Fadillah, menyebut bahwa Presiden ke-7, Jokowi, kini berada dalam tekanan besar akibat terus bergulirnya isu dugaan ijazah palsu.
Dikatakan Rizal, persoalan tersebut justru semakin melebar setelah Jokowi berulang kali menyebut adanya orang besar di balik tuduhan tersebut.
“Jokowi benar-benar berada dalam masalah besar karena berulang kali menyebut ada orang besar di belakang isu ijazah palsunya,” ujar Rizal kepada fajar.co.id, Minggu (4/1/2026).
Ia menuturkan, kubu Jokowi bahkan mengarahkan tudingan tersebut kepada tokoh-tokoh besar nasional seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri.
Akibatnya, kata Rizal, Partai Demokrat dan PDIP bereaksi keras.
“Tentu Partai Demokrat dan PDIP berang. Keduanya mulai mengambil langkah hukum yang diawali dengan somasi,” ucapnya.
Rizal mempertanyakan siapa pihak yang membisikkan langkah tersebut kepada Jokowi. Ia menilai pernyataan mantan Presiden itu justru menjadi blunder politik serius.
“Siapa pembisik Jokowi sehingga blunder memperluas medan tempur di tahun malapetaka 2026 tersebut? Nampaknya Jokowi terjebak dalam kebodohannya sendiri,” tegasnya.
Rizal juga menyinggung posisi para pihak yang sebelumnya dilaporkan atau diadukan oleh Jokowi dan relawannya.
Baginya, para terlapor saat ini memprioritaskan menghadapi proses hukum di Polda Metro Jaya.
“Adalah para tersangka yang diadukan atau dilaporkan Jokowi dan relawannya yang juga telah mengajukan somasi akan tetapi belum berlanjut karena memilih prioritas untuk terlebih dahulu menghadapi proses hukum di Polda Metro Jaya,” jelas Rizal.
Namun demikian, ia menekankan bahwa Jokowi tetap berpotensi menghadapi laporan balik.
“Meskipun demikian para tersangka potensial untuk melaporkan Jokowi atas dasar delik pencemaran dan fitnah,” tukasnya.
Rizal juga menaruh perhatiannya pada posisi Jokowi kian terpojok dengan semakin banyaknya pihak yang berhadapan langsung.
“Jokowi akan semakin terpojok dan terbongkar kebohongannya. Di samping berhadapan dengan Roy, Rismon, Rizal, Rustam, Rayani, dan lainnya, juga kini berhadapan dengan SBY dan Mega,” katanya.
Ia menyebut pertarungan politik akan semakin panas dan sulit bagi Jokowi untuk bertahan.
“Pertarungan semakin seru dan panas. Jokowi akan sulit bertahan, benteng pertahanan kepalsuannya akan segera jebol,” Rizal menuturkan.
Tambahnya, Jokowi menggunakan strategi yang ia sebut sebagai firehose of falsehood atau semburan fitnah.
“Strategi firehose of falsehood atau semburan fitnah ala komunis dilakukan Jokowi sebagai senjata pamungkas,” imbuhnya.
Rizal bahkan menuding Jokowi telah menyembunyikan ijazahnya selama bertahun-tahun.
“Empat tahun Jokowi menyembunyikan ijazah dan menipu publik dengan biaya sangat besar. Diduga hasil korupsi,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa pembiayaan besar tersebut digunakan untuk melawan pihak-pihak yang terus mempertanyakan keabsahan ijazah.
“Pembiayaan besar itu dijadikan ukuran bahwa pemburu ijazah Jokowi dapat ditembak dengan isu yang sama. Orang-orang besar penyandang dana di belakangnya,” terangnya.
Rizal juga menyinggung isu yang menyeret Partai Demokrat melalui istilah “baju biru”.
“Termul cepat menyinggung baju biru dengan maksud Partai Demokrat. Mungkin karena Roy Suryo mantan kader partai ini. AHY membantah keras. Tapi tudingan terus disemburkan,” bebernya.
Selain Demokrat, PDIP juga disebutnya ikut diseret dalam pusaran isu tersebut.
“Beberapa kader PDIP sebelumnya diisukan ikut proses Pasar Pramuka lalu partai banteng ini disembur Jokowi sebagai orang besar juga,” katanya.
Rizal menilai Jokowi bertindak karena ketakutan, menghalalkan segala cara untuk menutupi kebohongan.
Ia bahkan menyebut serangan politik kini juga mengarah ke Presiden Prabowo Subianto dan Partai Gerindra.
“Bagusnya kebodohan Jokowi berlanjut. Orang besar lain ditarik juga. Kini Prabowo dan Partai Gerindra,” timpalnya.
Menurut Rizal, hal itu berkaitan dengan isu penyingkiran Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai Prabowo akan mengambil langkah penyelamatan politik.
“Prabowo akan menyelamatkan diri dari serangan dan desakan rakyat atas pemakzulan Gibran,” Rizal menegaskan.
Lanjut dia, kasus ijazah palsu Jokowi dan tidak berijazah SMA Gibran dianggap sangat mengguncangkan Jokowi.
Ia menggambarkan situasi Jokowi sebagai krisis besar. Jurus mabuk Jokowi di tahun 2026 membentur tembok. Adapun tembok besar China, kata dia, yang dibangun di Indonesia tidak mampu menahan serangan.
“Musuh-musuh besar Jokowi akan menggempur hebat. Jokowi menghadapi bencana dahsyat, pilihan menjadi sempit menyerah untuk ditangkap atau mati bunuh diri,” tandasnya.
Ia juga menyinggung kondisi personal Jokowi. Baik fisik, hati, maupun pikiran.
“Pendosa akan berbalas. Jokowi bukan dewa dia adalah manusia yang berwajah banyak tapi lemah. Tinggal waktu yang akan membuat dirinya ambruk dengan segala kenistaan. Semua kelak menjadi sesal yang tidak berguna,” kuncinya.
(Muhsin/fajar)



