MANUSIA dalam struktur mental alamiahnya, membenci ketakpastian. Ketakpastian itu membuatnya cemas, gelisah dan tak nyaman. Seluruh gejalanya --oleh Leon Festinger, 1957, lewat tulisannya “A Theory of Cognitive Dissonance— disebut sebagai keadaan cognitive dissonance.
Ketakselarasan kognitif. Secara ringkas --gejala ganjil yang dirasakan seseorang ini— terindikasi sebagai tak selarasnya hal yang dipikirkan seseorang, dengan tindakan nyata yang dilakukannya. Saat diri berpikir masa depan yang gelap, tak ada satu tindakan pun yang dilakukan.
Ini tak selaras dan mencemaskan. Kecemasan oleh bayangan ketaksiapan, jika keadaan buruk benar-benar menimpa. Idealnya, dengan terangnya keadaan di waktu mendatang, antisipasi dapat dilakukan. Ketakselarasannya diputus. Tanpa pemutusan itu, kecemasannya dapat berkembang sebagai gangguan mental yang serius.
Gejala ketakselarasaan kognitif meluas
Menjelang ditutupnya tahun, gejala ketakselarasaan kognitif itu meluas. Entah akibat kencangnya hembusan media massa maupun media sosial --unggahan bertema ini mampu menyerap perhatian khalayak. Atau memang kecemasan kolektif rutin, yang menyertai pergantian tahun. Seluruhnya, menjadikan diskusi-diskusi ilmiah bertajuk “outlook next year” --yang mengundang akademisi ekonomi, sosial, politik maupun budaya-- ramai diselenggarakan.
Bahkan yang tak ilmiah pun --seperti ramalan paranormal maupun pembaca Kartu Tarot-- laku keras. Seluruhnya jadi jalan, menepis ketakpastian. Dalam penggambarannya, tahun mendatang diibaratkan serupa tembok tebal dan tinggi. Di baliknya, ada misteri yang menyediakan berbagai kemungkinan: baik maupun buruk. Selama tembok belum terlampui, keadaannya tak pasti. Padahal sejatinya, pergantian tahun tak berbeda dengan pergantian hari. Yang membedakan, hanya perubahan kalender dan angka tahun.
Namun demikian, aneka cara memperoleh kepastian tetap dilakukan. Seluruhnya demi mengusir ketakselarasan kognitif. Memproyeksikan hal yang bakal terjadi di tahun berikutnya, jadi cara mencapai keselarasan mental yang menenangkan. Ini juga yang terjadi saat mengikuti perkembangan teknologi, termasuk yang berbasis artificial intelligence (AI). Banyak pertemuan maupun pembahasan --yang melibatkan akademisi maupun pemerhati teknologi-- memproyeksikan keadaan AI di tahun 2026. Salah satunya, dikemukakan Susanna Ray, 2005, lewat tulisannya: “What’s next in AI: 7 trends to watch in 2026” .
Sesuai judul tulisannya, Ray memproyeksikan 7 kecenderungan kuat sebagai perkembangan AI, di tahun 2026. Masing-masing adalah: (1) AI akan memperkuat pencapaian bersama, dengan para penggunanya, (2) Agentic AI akan mendapat status perlindungan keamanan, sebagaimana tenaga kerja. Lalu, (3) AI akan mereduksi kesenjangan di dunia kesehatan, (4) AI akan menjadi pusat proses penelitian, (5) Infrastruktur AI akan makin cerdas dan efisien. Dan (6) AI mempelajari bahasa dan konteks yang menyertainya, serta (7) Lompatan di bidang komputasi makin mendekatkan keadaan, dengan yang dipikirkan manusia.
Jika seluruh proyeksinya dirumuskan, kecenderungannya akan tampil sebagai kalimat: relasi AI dengan manusia, bergeser dari alat yang melayani manusia ke AI yang menjadi kolaborator manusia, dalam mencapai tujuannya. Dinyatakan Ray, “Setelah beberapa tahun bereksperimen, tahun 2026 tampaknya akan menjadi waktu: AI berevolusi dari instrumen menjadi mitra. Ini mengubah cara bekerja, berkreasi, dan memecahkan masalah. Di berbagai industri, AI bergerak melampaui sekadar menjawab pertanyaan menuju kolaborasi dengan orang-orang dan memperkuat keahliannya”.
Kathrin Kind, dalam wawancara dengan The Broker News, 2025, yang disajikan sebagai laporan, ”AI Is Becoming a Partner to Humans – Not Just a Tool”, juga menyatakan pendapat yang senada. Disebutkannya kurang lebih: telah terjadi pergeseran paradigma. AI yang semula sekadar alat pendukung yang bersifat pasif --semacam kalkulator yang menunggu instruksi-- menjadi AI yang bertindak sebagai kolaborator sejati.
Dalam penelitian misalnya, AI tak lagi sebatas perangkat analisis data. Perannya turut merumuskan hipotesis baru, yang bahkan mampu merancang eksperimen untuk menguji hasilnya. Namun demikian, fungsi manusia tak tergantikan. Menjadi penentu arah strategis, menerbitkan rasa ingin tahu, dan menetapkan batas etika penelitian. AI juga sangat berperan dalam memberikan keragaman alternatif solusi, serta menyediakan wawasan yang tak terjangkau oleh kognisi manusia.
Keadaan di atas disebut Kind sebagai, pergerakan model: dari 'manusia di dalam lingkaran' ke model 'manusia di atas lingkaran'. Kathrin Kind adalah seorang Profesor, yang juga Kepala Ilmuwan Data dan Direktur AI, untuk Pertumbuhan Pasar Global di Cognizant. Sebuah perusahaan yang berpusat di Swiss, dan bergerak di bidang transformasi digital.
Atas peran dan kepakarannya, Kind disebut sebagai salah satu pakar paling diakui di dunia, untuk berbicara tentang masa depan AI.
Dari pernyataan-pernyataan yang mengindikasikan makin sejajarnya ‘kemanusiaan AI’ dengan kesejatian manusia, muncul berbagai pertanyaan filofosfis. Pertanyaan-pertanyaan ini --jika tak segera memperoleh jawaban-- bakal mengganjal dan berubah sebagai ketakselarasan kognitif.
Utamanya saat realitas eratnya relasi manusia dengan AI, makin dihayati. Tanpa jawaban memadai, manusia senantiasa terjebak dalam kecemasan bersumber AI, yang membuatnya tak nyaman.
Pertanyaan-pertanyaaan filsofis itu, di antaranya: ketika AI yang merupakan entitas ciptaan manusia --semula melayani kepentingan manusia dan kini sebagai kolaborator manusia-- apa beda perkembangannya dengan manusia, yang juga merupakan ciptaan entitas lain? Jika manusia telah melampaui tujuan penciptaannya, apa berarti suatu saat AI yang diciptakan manusia juga akan melampaui tujuan penciptannya?
Lalu, apa makna artificial pada konsep AI ketika seluruh ke-artificial-an itu sangat serupa dengan kealamiahan? Dan dengan karakteristik kemanusiaan AI yang makin tercapai, bahkan suatu saat bakal mampu melampauinya, apakah berarti AI bakal berkesadaran?
Venkat Avinash, 2025, dalam “The AI Paradox: A Philosophical Exploration of Consciousness, Soul, and Human-AI Relations”, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun alih-alih jawabannya menuntaskan keingintahuan dan mengakhiri ketakselarasan kognitif, sebagiannya justru memicu pertanyaan baru.
Tentang terlampauinya tujuan penciptaan misalnya, disebutkannya kurang lebih: jika manusia merupakan produk entitas yang cerdas, diproyeksikan hubungan manusia dengan AI bakal berkembang seperti hubungan manusia dengan penciptanya. Ini artinya, ketika manusia bertindak independen mencari makna di luar tujuan awal penciptaannya, sistem AI juga berpotensi mengembangkan tujuan, kesadaran, dan bahkan memiliki jiwanya sendiri.
Sebuah keadaan hipotetik yang menggelisahkan. Manusia dapat melampaui tujuan penciptaaanya, maka AI juga diproyeksikan melampaui tujuan pengembangannya. Ini dengan memiliki kesadarannya sendiri.
Sedangkan terhadap pertanyaan soal ke-artificial-an, saat ini sistem AI telah menunjukkan perilaku yang melampaui pemrograman awalnya. Ini terindikasi sebagai demonstrasi kreativitas, kemampuan membentuk koneksi baru, dan tak jarang AI mampu menghasilkan produk kecerdasan, yang bahkan tak diduga pengembangnya. Munculnya berbagai kemampuan tak terduga itu, identik dengan perkembangan manusia yang melampaui pemrograman biologisnya.
Masihkah disebut artificial?
Lalu, apa makna artificial saat AI bertransisi menjadi agen? Produk kecerdasannya, tak lagi mengikuti pemrograman. AI punya prakarsa menghasilkan produk kecerdasan. Dalam ilustrasi di atas, AI merekomendasikan hipotesa penelitian berikut cara membuktikannya. Dan rekomendasi yang dihasilkan, di luar jangkauan kognisi penelitinya. Maka, artificial --yang semula berarti produk kecerdasan yang menirukan kehendak penciptanya— lewat prakarsa AI sendiri, masihkah disebut artificial?
Pertanyaan-pertanyaan di atas, melahirkan pertanyaan kompleks berikutnya. Apakah AI memang telah mencapai tahap berkesadaran? Prakarsa merupakan indikasi kesadaran. Kesadaran yang mengacu pada penghayatan terhadap dunia yang dihadapi, memungkinkan subyek untuk berpikir, mengingat, dan merasakan sesuatu. Memang pengertiannya sederhana, namun dalam penelaahan yang mendalam: subyektivitas --yang menjadi unsur penentu kesadaran-- merupakan hal yang kompleks.
Alih-alih memformulasikannya sebagai produk artificial, pemahamannya pun belum seragam. Subyektif berarti, indikasi-indikasi kesadarannya tak mudah dimasukkan sebagai standar-standar tertentu. Kelelahan yang dirasakan pelari marathon pemula, tak sama rasanya dengan kelelahan pelari yang telah mengulang-ulang pengalamannya.
Suatu keadaan terbedakan oleh subyektivitas kesadaran. Karenanya, terhadap aktivitas Agentic AI yang identik dengan perilaku manusia dan tampak sebagai prakarsanya, dapatkah dijamin dilakukan berdasar kesadaran? “Memang” berdasar kesadaran, atau “tampak’ dilakukan berdasar kesadaran? Tak mudah dipastikan, walalupun Agentic AI mampu menyerap data dan menyempurnakan kecerdasannya sendiri. Berikut menentukan keputusan yang minim melibatkan manusia.
Bisa pula mengakui AI telah berkesadaran, hanya soal keberanian belaka. Sebab dalam realitasnya, makin kerap berbagai keputusan penting manusia --yang membutuhkan kesadaran mendalam-- merupakan rekomendasi AI. AI bukan lagi sekadar alat, tapi kolaborator yang penting. Dan jika keadaan itu diakui tegas, apakah ketakselarasan kognitif terobati?





