Gempuran AS ke Venezuela Dinilai Hanya Berpengaruh dalam Jangka Pendek

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Konflik antara Amerika Serikat atau AS dan Venezuela diperkirakan tidak begitu berdampak terhadap harga minyak mentah dunia. Sebab, kontribusi produksi minyak Venezuela kurang dari 1 persen dari total produksi global.

Serangan AS ke Venezuela menimbulkan kekhawatiran dari ragam aspek, mulai dari hukum internasional hingga harga minyak mentah dunia. Hal ini diperkuat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa Washington akan campur tangan dalam industri minyak Venezuela.

Venezuela mengklaim memiliki lebih dari 300 juta barel minyak bawah tanah, sekaligus cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, negara tersebut mesti berupaya keras untuk memproduksi sekitar 1 juta barel per hari atau sekitar 1 persen produksi global.

Kebanyakan minyak Venezuela berkarakter sangat berat sehingga membuatnya berpolusi dan berbiaya tinggi untuk diproses, demikian dilaporkan The New York Times.

Baca JugaSerangan AS di Venezuela Langgar Hukum Internasional

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia memperkirakan, rendahnya kontribusi minyak Venezuela tidak akan begitu berdampak terhadap harga minyak dunia.

“Kalaupun berpotensi mendongkrak harga minyak, it takes time, enggak langsung berdampak terhadap harga,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Minggu (4/1/2026).

Meski dampak serangan AS dinilai belum berdampak dan harga minyak dunia sedang turun, namun industri penerbangan tetap khawatir. Sekretaris Jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional (INACA) Bayu Sutanto mengemukakan, konflik AS dan Venezuela dapat berpengaruh pada industri penerbangan, khususnya dari aspek harga minyak dunia dan imbasnya ke harga avtur.

“Dengan harga minyak dunia turun menjadi 60-62 dollar AS per barel, tentunya akan menurunkan juga harga avtur (fuel jet A1) dalam mata uang dollar AS. Kalau di Indonesia, walaupun harga avtur dunia turun, tetapi dengan kurs dollar AS tinggi atau cenderung naik, tentu penurunan harga tersebut tidak bisa dinikmati industrinya,” tutur Bayu.

Dalam laporan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), harga bahan bakar pesawat jet sempat turun pada 2025. Minyak Brent yang sangat memengaruhi harga avtur, turun hingga 14,5 persen secara tahunan sepanjang Januari-Oktober, menyentuh angka 60 dollar AS per barel pada Juni 2025.

Penyusutan ini ikut menurunkan harga rata-rata minyak menjadi 89 dollar AS per barel pada semester I-2025 dibandingkan 106 dollar AS per barel pada awal 2024.

Baca JugaDi Balik Serangan AS ke Venezuela, Narkoba Dalih Trump Incar Cadangan Minyak?

Menurut Bayu, angin segar yang seharusnya dinikmati industri penerbangan justru tidak dirasakan. Alasannya, harga tiket pesawat dalam negeri tetap dalam mata uang rupiah yang belum disesuaikan dengan kurs saat ini.

Sebagai informasi, tarif batas atas dan bawah tiket pesawat tidak berubah sejak 2019. Padahal, nilai komponennya telah berubah. Kebijakan tarif itu tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Presiden Direktur Lion Group Daniel Putut Kuncoro mengatakan, pihaknya saat ini masih mengikuti harga avtur yang dipublikasikan PT Pertamina (Persero). Ia berharap, serangan AS ke Venezuela tidak terlalu berpengaruh terhadap harga minyak dunia.

“Saat ini, kami ikut harga yang di-publish Pertamina. Mudah-mudahan tidak terlalu berdampak di Indonesia,” katanya.

Berdasarkan data Pertamina periode 1-31 Januari 2026, harga avtur untuk penerbangan domestik Indonesia berkisar Rp 13.389,39 per liter hingga Rp 15.470,7 per liter, bergantung lokasi bandara. Harga itu sudah termasuk biaya pajak pemerintah dan pajak pertambahan nilai (PPN).

Tidak berdampak langsung

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan Bisman Bakhtiar berpendapat, konflik AS dan Venezuela akan mengerek harga minyak mentah dunia. Hanya saja, sejauh ini dampaknya tidak signifikan juga pengaruhnya jangka pendek sekitar 1-2 pekan mendatang.

“Kenapa? Karena Venezuela walau resource-nya besar, tetapi produksinya kecil. Jadi pasti berpengaruh, tetapi tidak signifikan. Sampai hari ini, menurut kami, masih belum ada alasan untuk bisa naik signifikan karena pengaruhnya hanya pada Venezuela, belum sampai ke region,” tuturnya.

Hal ini berbeda dengan kawasan Timur Tengah sebagai pemasok minyak mentah dunia sekaligus sumber yang diandalkan Indonesia. Selain produsen, kawan itu berpengaruh karena jalur distribusinya yang strategis. Norwegia sebagai produsen minyak juga dinilai lebih signifikan perannya terhadap naik-turun harga minyak mentah dunia ketimbang Venezuela.

Selama ini, Venezuela memasok minyak mentahnya ke China. Namun, negara tersebut masih sangat memungkinkan mencari alternatif sumber impor dari negara lain.

“Avtur juga belum berdampak banyak. Kalau pun terdampak, masih dampak psikologis jangka pendek,” kata Bisman.

Baca JugaRayakan Penangkapan Maduro,  Trump Siratkan Ambisi Kendalikan Venezuela

Menurut Bisman, konflik geopolitik AS dan Venezuela perlu terus dipantau. Jika berlanjut hingga melibatkan negara-negara lain, baik Rusia dan China dengan sekutu AS, maka pengaruhnya cukup besar terhadap harga minyak mentah dunia.

Untuk saat ini, Bisman menyarankan agar Pemerintah Indonesia juga menyiapkan mitigasi, misalnya dengan menambah cadangan minyak. Dana juga perlu disiapkan demi berjaga-jaga, apabila subsidi dan dana kompensasi ketika harga bahan bakar minyak (BBM) naik. Selain itu, pemerintah juga perlu mencari alternatif sumber-sumber impor apabila ada dampak meluas karena konflik ini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
RKAB Vale Belum Terbit, Pengamat: Potensi Penerimaan Negara Berisiko Tertahan
• 40 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sentil Siniar Suka Ngarang, Presiden Prabowo: Banyak Pakar Asal Bicara!
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Caracas Bergejolak, Pendukung Maduro Suarakan Perlawanan terhadap AS
• 9 jam laludetik.com
thumb
Dugaan Penggelapan Dana Haji Furoda, Kemenhaj Panggil Pihak Travel
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Bank Jatim (BJTM) Bukukan Laba Bersih Rp1,27 Triliun per November 2025
• 20 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.