Amerika Serikat, VIVA – Awal tahun 2026 dunia dikejutkan dengan serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Venezuela. Insiden yang terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari 3 Januari 2026 kemarin di ibu kota Venezuela, Caracas.
Tak hanya menyerang ibu kota negara tersebut, pasukan militer AS juga menangkap presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Trump juga membagikan foto presiden Venezuela tersebut di platfor, Truth Social miliknya dengan caption ‘Nicholas Maduro di atas USS Iwo Jima’.
Maduro dan Flores saat ini diketahui telah berada di Amerika Serikat. Keduanya juga akan diadili di New York atas tuduhan keterlibatan dalam aksis nakroterorisme, kata Jaksa Agung AS, Pam Bondi dikutip dari laman The Guardian, Senin 5 Januari 2026.
Serangan mengejutkan dan penangkapan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seorang presiden yang masih menjabat ini merupakan puncak dari kampanye tekanan intensif AS terhadap Venezuela selama berbulan-bulan.
Sejak September, angkatan laut AS telah mengerahkan armada besar di lepas pantai Venezuela, melakukan serangan udara terhadap kapal-kapal yang dituduh terlibat perdagangan narkoba di Karibia dan Pasifik, serta menyita kapal tanker minyak Venezuela.
Sedikitnya 110 orang dilaporkan tewas akibat serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Kelompok hak asasi manusia menilai aksi itu berpotensi dikatagorikan sebagai kejahatan perang.
Langkah ini menjadi tindakan militer AS yang paling besar dan paling terbuka di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989. Operasi kilat tersebut mengejutkan komunitas internasional, baik sekutu maupun lawan AS, yang tidak menyangka akan adanya campur tangan terang-terangan di negara lain.
Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Trump mengatakan bahwa AS akan menjalankan negara itu sampai terjadi transisi kepemimpinan. Ia juga menyebut perusahaan-perusahaan minyak AS akan masuk ke Venezuela.
“Tidak ada negara di dunia yang bisa mencapai apa yang telah dicapai Amerika,” kata Trump dengan sombong.
Pemboman Venezuela dan penangkapan Maduro menandai eskalasi serius dan dramatis dari kampanye AS. Masa depan rezim yang berkuasa di Venezuela kini tidak menentu. Meski Trump menyatakan bahwa AS akan menentukan nasib negara tersebut, militer Venezuela tampaknya masih menguasai wilayah dan aset militernya.




