Teheran: Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, disebut telah merancang rute pelarian keluar dari Teheran jika pasukan keamanan gagal mengendalikan demonstrasi atau mulai membelot. Mengutip laporan intelijen yang dibagikan kepada The Times, rencana ini mencakup evakuasi Khamenei bersama sekitar 20 orang dalam lingkaran terdekatnya, termasuk putranya dan calon penerus, Mojtaba.
"Rencana B disiapkan untuk Khamenei dan lingkaran dekatnya, termasuk putranya dan calon penerus yang telah ditunjuk, Mojtaba," kata seorang sumber intelijen sebagaimana dikutip The Times.
Beni Sabti, mantan anggota intelijen Israel yang melarikan diri dari Iran delapan tahun setelah Revolusi Islam, menyebut Moskow sebagai tujuan pelarian Khamenei. "Tidak ada tempat lain untuknya," ujarnya. Khamenei juga disebut mengagumi Presiden Rusia Vladimir Putin dan menilai budaya Iran lebih dekat dengan Rusia dibanding negara lain.
Rencana ini disebut mengikuti pola pelarian Bashar al-Assad yang meninggalkan Damaskus ke Moskow pada Desember 2024, sebelum ibu kota Suriah direbut oposisi. Langkah Khamenei juga dikabarkan melibatkan pengumpulan aset, properti luar negeri, dan uang tunai demi menjamin keselamatan selama pelarian.
Khamenei disebut mengendalikan jaringan kekayaan besar melalui Setad, organisasi semi-negara yang dikelola tanpa transparansi. Investigasi Reuters pada 2013 memperkirakan total asetnya mencapai US$95 miliar.
Baca Juga:
Setelah Serang Venezuela, Trump Kembali Ancam Serang Iran
Beberapa ajudan senior Khamenei disebut memiliki keluarga yang tinggal di luar negeri, termasuk di AS, Kanada, dan Dubai. Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, termasuk yang disebutkan dalam laporan tersebut.
Demonstrasi di Iran dipicu oleh tekanan ekonomi dan menyebar ke berbagai kota, termasuk Qom. Aparat keamanan seperti Garda Revolusi (IRGC), milisi Basij, polisi, dan tentara dituding menggunakan kekerasan termasuk peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan aksi. Semua kekuatan ini berada di bawah komando Khamenei sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.
Namun, laporan intelijen menyebut bahwa sejak perang 12 hari melawan Israel tahun lalu, Khamenei menjadi lebih lemah secara fisik dan mental. Ia dikabarkan bersembunyi di bunker selama perang, menghindari nasib serupa beberapa pejabat tinggi IRGC yang tewas.
Penilaian intelijen Barat menyebut sifat paranoidnya mendorong penyusunan rencana pelarian.
Protes nasional juga dipicu kemarahan publik atas prioritas politik luar negeri Iran. Investasi besar Khamenei dalam poros perlawanan—termasuk Hezbollah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan milisi Syiah di Irak, Suriah, serta Yaman—dipertanyakan karena rakyat menghadapi inflasi tinggi dan kondisi hidup yang memburuk.



