Trump : Militer AS Menangkap Maduro, Rakyat Merayakan Runtuhnya Kediktatoran

erabaru.net
1 hari lalu
Cover Berita

Pada Sabtu dini hari, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkonfirmasi bahwa militer AS melancarkan operasi militer dan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, lalu membawanya keluar dari Venezuela. Trump juga mengatakan bahwa pada pukul 11.00 waktu Pantai Timur AS, ia akan mengadakan konferensi pers di Mar-a-Lago. Warga Venezuela yang tinggal di luar negeri, setelah mengetahui kabar penangkapan Maduro, berkumpul untuk merayakan runtuhnya rezim diktator.

EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump menulis di platform media sosial sekitar pukul 04.00 dini hari pada Sabtu:  “Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan para pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro. Presiden Maduro dan istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu.”

Trump juga menyatakan:  “Operasi ini dilakukan bersama dengan lembaga penegak hukum Amerika Serikat.”

Menurut keterangan para saksi mata, beberapa jam sebelumnya terdengar beberapa ledakan di ibu kota Venezuela, Caracas.

Infrastruktur di Pangkalan Udara La Carlota, yang terletak di dekat Caracas, mengalami kerusakan, dan sejumlah kendaraan terbakar.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Maduro ditangkap oleh pasukan khusus elite AS.

Sekitar pukul 06.00, Senator AS Mike Lee menulis di platform X bahwa ia baru saja berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Ia mengatakan:  “Rubio memberi tahu saya bahwa Nicolás Maduro telah ditangkap oleh personel militer AS dan akan dibawa ke Amerika Serikat untuk menjalani proses peradilan pidana. Aksi militer yang kita saksikan malam ini bertujuan untuk melindungi dan membela personel yang melaksanakan surat perintah penangkapan.”

Mike Lee sebelumnya secara terbuka mempertanyakan tindakan AS di Venezuela, namun setelah berbicara dengan Rubio ia menyatakan:  “Operasi ini kemungkinan berada dalam lingkup kewenangan inheren presiden, berdasarkan Pasal II Konstitusi, untuk melindungi personel Amerika dari serangan nyata atau yang akan segera terjadi.”

Pemerintah Venezuela menyatakan bahwa serangan udara pada hari Sabtu menyebabkan kematian warga sipil dan personel militer, namun tidak merinci jumlah korban.

Menurut hukum Venezuela, Wakil Presiden Delcy Rodríguez akan menjalankan kekuasaan presiden. Ia sebelumnya menuntut agar Amerika Serikat segera memberikan bukti bahwa Presiden Maduro dan istrinya masih hidup.

Pada November tahun lalu, Amerika Serikat menetapkan Maduro sebagai pemimpin organisasi teroris asing, dengan alasan keterkaitannya dengan kartel narkoba.

Belakangan ini, ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela terus meningkat. AS telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan Karibia untuk menindak kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba.

Sejatinya, sejak tahun 2020 Maduro telah menghadapi tuduhan terorisme narkoba di Amerika Serikat. Saat itu, jaksa federal New York menuduhnya bekerja sama dengan kelompok pemberontak Kolombia untuk membanjiri Amerika Serikat dengan kokain, yang membahayakan kesehatan warga Amerika.

Jaksa Agung AS Bondi pada pukul 08.00 mengonfirmasi melalui media sosial bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah didakwa oleh Pengadilan Distrik Selatan New York.

Bondi mengatakan:  “Nicolás Maduro didakwa melakukan konspirasi terorisme narkoba terhadap Amerika Serikat, konspirasi penyelundupan kokain, kepemilikan ilegal senapan mesin dan bahan peledak, serta konspirasi kepemilikan senapan mesin dan bahan peledak.”

Bondi menambahkan:  “Mereka akan segera diadili sepenuhnya oleh sistem peradilan Amerika Serikat di pengadilan di wilayah AS.”

Warga Venezuela yang tinggal di Chili, setelah mengetahui kabar bahwa Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat, berkumpul dan merayakan runtuhnya rezim diktator Maduro.

Warga Venezuela, Jose Gregorio, mengatakan:  “Bagi saya, ini adalah kebahagiaan yang tak terlukiskan. Hari ini saya merasa seperti orang Venezuela yang sejati. Setelah bertahun-tahun, begitu banyak perjuangan dan usaha, akhirnya hari ini tiba.”

Banyak komunitas diaspora Venezuela di Chili terpaksa meninggalkan tanah air mereka untuk melarikan diri dari kehancuran ekonomi dan penindasan politik di bawah rezim Maduro.

Di lokasi perayaan, massa meneriakkan “kebebasan” sambil mengibarkan bendera Venezuela dan Amerika Serikat. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Li Mei dan Liu Fang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
LBH Muhammadiyah: Roy Suryo Cs Wakili Ratusan Juta Orang yang Ingin Kebenaran Diungkap Sekalipun Pahit
• 21 jam lalufajar.co.id
thumb
TOP 5: Dokter Richard Lee Jadi Tersangka hingga 4 Akun Fitnah SBY Dilaporkan
• 9 jam laluidntimes.com
thumb
Waspada Super Flu, Anak dan Lansia Paling Rawan Tertular
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Temui Bupati, PT Moya Indonesia Bahas Investasi Air Bersih dan Revitalisasi PDAM Bulukumba
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Produksi Jagung Rawan Tak Terserap, Ini Saran Petani ke Bulog
• 15 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.