Pasutri Tunanetra di Cibinong Menebar Kebaikan: Mengajar Al-Quran Braille

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Tanggal 4 Januari 2026 kemarin, dunia memperingati Hari Braille Sedunia yang jatuh tepat pada hari kelahiran Louis Braille, seorang penemu sistem tulisan braille. Tanggal ini dipilih oleh Majelis Umum PBB untuk memperingatkan kesadaran masyarakat dunia akan tulisan braille sebagai hak asasi manusia bagi orang tunanetra dalam bidang komunikasi.

Di Indonesia, pemerintah telah berupaya untuk memenuhi hak-hak masyarakat disabilitas, tak terkecuali tunanetra. Contoh kecilnya adalah dengan membuat guiding block pada trotoar sebagai alat bantu untuk orang tunanetra, mendirikan Sekolah Luar Biasa (SLB), dan masih banyak lagi.

Berdasarkan catatan Kemensos pada tahun 2023, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 11,3 juta orang. Di Cibinong, ada kisah inspiratif dari pasangan suami-istri yang mengajarkan Al-Quran braille. Bagaimana kisahnya? Seperti apa gambaran penyandang disabilitas saat ini?

Kisah Syifa, Perintis Rumah Quran Khusus Tunanetra di Indonesia

Syifa Amalia (31) awalnya terlahir normal seperti kita. Namun, perempuan kelahiran 1994 itu didiagnosis penyakit radang selaput otak di usianya yang keempat. Penyakit itu menyebabkan penglihatannya menurun secara tajam (low vision). Di umurnya yang kedelapan, Syifa didiagnosis kebutaan total.

Syifa adalah lulusan SMA Negeri 1 Depok. Pada saat itu dia mengenyam pendidikan di sekolah umum yang belum pernah menerima siswa tunanetra. Pihak sekolah mengharuskan Syifa untuk menandatangani surat perjanjian yang jika dalam waktu 3 bulan beliau tidak bisa mengikuti pembelajaran, maka Syifa harus keluar dari sekolah.

"Alhamdulilah [saat itu] teman-teman saya suportif," kenang Syifa saat dihubungi kumparan pada Senin (5/1).

Semasa sekolah, Syifa menggunakan media belajar berupa laptop, ponsel, dan alat rekam dalam proses belajarnya. Laptop dan ponselnya sudah terpasang aplikasi pembaca layar yang diperuntukkan untuk penyandang tunanetra, serta sudah mendapatkan izin dari kepala sekolah untuk digunakan saat jam pelajaran.

Saat ujian, Syifa banyak dibantu oleh pendamping dari salah satu lembaga pendidikan inklusif ketika duduk di bangku tahun pertama. Pada tahun kedua, Syifa mencoba untuk bernegosiasi dengan pihak sekolah untuk mencari solusi agar bisa mengikuti ujian dengan mudah. Akhirnya, Syifa diperbolehkan untuk mengikuti ujian semester di ruangan, sendirian dengan bantuan laptop dan soal dalam bentuk soft copy.

Pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Syifa menghadapi kendala lantaran soal ujian yang tidak bisa dibaca dengan pembaca layar. Sebagai solusi, pihak sekolah memperbolehkan Syifa untuk mengikuti UNBK di ruangan sendiri dan dengan bantuan pembina dari lembaga pendidikan inklusif.

Kegiatan non-akademik seperti study tour juga bisa diikuti oleh Syifa. Berkat bantuan teman-temannya yang suportif serta izin dari guru, Syifa bisa mengikuti study tour selama 10 hari ke Yogyakarta dan Malang. Tidak main-main, destinasi wisatanya pun bukan tempat yang mudah diakses untuk penyandang tunanetra. Syifa sendiri lulus SMA pada 2017.

"Pernah pas waktu itu ke Borobudur, saya 'kan biasa pakai tongkat. Teman-teman saya malah nyuruh saya buat nggak usah pakai tongkat, biar mereka yang mengarahkan kanan-kirinya," kenang Syifa.

Setelah lulus SMA, Syifa memutuskan untuk bermukim di salah satu rumah quran di Ciputat. Syifa bermukim selama 6 bulan, sampai akhirnya memutuskan untuk mengikuti program pulang-pergi dan daring. Sebab, jadwal terapinya berbenturan dengan peraturan mukim di rumah quran tersebut.

Saat ini Syifa dan suami, Muhammad Irfan Priyadi, tinggal di Cibinong. Keduanya merupakan tunanetra yang merintis Rumah Quran Multazam yang berlokasi di Masjid Al-Ihsan, Cibinong. Rumah quran tersebut diperuntukkan untuk penyandang tunanetra belajar mengaji dengan al-quran berhuruf braille. Jamaahnya mencapai 35 orang dengan latar belakang tukang pijat, penjual kerupuk keliling, dan pengamen.

Rumah Quran Multazam tidak dipungut biaya sama sekali, tapi dari pihak pengurus sesekali memberikan apresiasi kepada santri karena sudah berinisiatif untuk belajar. Bahkan, pihak rumah quran juga memberikan uang transport untuk santri yang lokasi rumahnya jauh.

Pembelajaran yang ditawarkan adalah tahfidz, fiqh, dan baca quran braille. Total pengajarnya ada lima orang, salah satunya Syifa sendiri. Sesekali ada pengajar lain yang datang untuk mengisi kajian di Rumah Quran Multazam tanpa berharap imbalan.

Biaya untuk Rumah Quran Multazam berasal dari individu atau kelompok yang ikhlas ingin bersedekah. Meski demikian, Syifa mengaku tidak ingin banyak menerima murid baru dengan dalih untuk uang meminta uang donasi. Dia hanya ingin membangun komunitas yang berbeda, yaitu ikhlas mengajar dengan kualitas yang baik tanpa memperhatikan kuantitas.

"Alhamdulillah quran [braille] kita selalu dapat dari wakaf, kalau beli harganya memang cukup mahal," ungkap Syifa.

Hidup sebagai tunanetra di Indonesia memiliki tantangan tersendiri bagi Syifa. Ada kalanya, kata dia, dirinya perlu mengedukasi masyarakat bagaimana cara berinteraksi dengan orang tunanetra.

"[Penyandang tunanetra] sama saja seperti masyarakat pada umumnya, tapi tidak lupa juga dengan keterbatasan yang dimiliki oleh orang-orang tunanetra," kata ujarnya.

Sebagai minoritas, Syifa mengaku sering menghadapi tantangan-tantangan di kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah ketika berobat di rumah sakit, tidak semua rumah sakit menyediakan layanan untuk pasien prioritas yang baik meskipun pasien tersebut pemegang BPJS Prioritas.

"Kalau kita turun dari kendaraan kayak angkot atau ojek online, itu masih banyak yang cuek gitu, loh. Kita harus muter-muter dulu sampe kita nabrak-nabrak orang segala macem, itu yang menurut kita kurang," kenang Syifa ketika ada masanya beliau harus bolak-balik ke rumah sakit.

Fasilitas publik yang menurut Syifa perlu perhatian khusus lebih adalah akses pejalan kaki, karena seringkali guiding block di trotoar malah digunakan sebagai tempat jualan. Begitupun dengan buku braille yang masih terbatas karena mulai dari proses pencetakan hingga penerbitannya yang panjang.

"Selain dukungan publik, yang paling penting adalah dukungan dari orang-orang sekitar terutama keluarga karena ada banyak orang tunanetra yang diabaikan oleh keluarganya sendiri," pesan Syifa.

Distribusi Penduduk Indonesia dengan Disabilitas Tunanetra

Tim kumparan melakukan riset terkait persebaran penyandang disabilitas penglihatan di Indonesia. Berdasarkan Long Form Sensus Penduduk 2020 yang diterbitkan tahun 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mengkategorikan disabilitas penglihatan dengan tingkat paling tinggi sebagai disabilitas tipe 3.

Berikut persentase penduduk dengan gangguan penglihatan berdasarkan disabilitas tipe 3 menurut 34 provinsi di Indonesia tahun 2022.

Berdasarkan data tersebut, Papua menjadi provinsi terbanyak dengan masyarakat penyandang disabilitas penglihatan tipe 3 dengan angka persentase sebesar 0,67 persen. Provinsi dengan masyarakat penyandang disabilitas tipe 3 terendah adalah Banten dengan angka persentase sebesar 0,25 persen.

Selain itu, tim kumparan juga melakukan riset jumlah peserta didik tunanetra di tiap provinsi Indonesia. Berdasarkan Statistik SLB yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2025, Indonesia memiliki 4.297 peserta didik tunanetra Sekolah Luar Biasa (SLB) dari tingkat SD hingga SMA baik di sekolah swasta maupun negeri dengan jumlah satuan pendidikan SLB sebanyak 2.366 sekolah.

Adapun tabel data jumlah satuan pendidikan menurut akreditasi dan status tiap provisi tahun ajaran 2024/2025, antara lain sebagai berikut.

Berdasarkan tabel tersebut, Jawa Timur menjadi provinsi terbanyak yang memiliki SLB dengan jumlah 398 sekolah. Provinsi dengan SLB paling sedikit di Indonesia adalah Papua Pegunungan yang tidak memiliki SLB baik negeri maupun swasta.

Selain itu, kami juga menemukan data jumlah peserta didik tunanetra SLB di 38 provinsi Indonesia tahun ajaran 2024/2025. Berikut datanya.

Berdasarkan data di atas, provinsi di Indonesia yang paling banyak memiliki murid disabilitas tunanetra adalah Jawa Timur dengan jumlah 810 peserta didik SLB mulai dari SD hingga SMA negeri dan swasta.

Provinsi Papua Pegunungan menjadi provinsi terendah dengan jumlah murid disabilitas yang tidak ada. Selain itu, Papua Pegunungan juga tidak memiliki Sekolah Luar Biasa di tahun ajaran 2024/2025. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah karena pendidikan adalah hak untuk semua masyarakat Indonesia, tak terkecuali penyandang tunanetra.

Layanan Pendidikan Tunanetra yang Tepat Itu Penting

Marja, dosen mata kuliah Kajian Tunanetra di Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mengungkapkan bahwa ketunanetraan memiliki banyak faktor penyebabnya.

Ketunanetraan, kata dia, bisa terjadi setelah kelahiran karena sakit atau kecelakaan dan faktor keturunan. Pasangan suami-istri yang tunanetra juga belum tentu memiliki anak yang tunanetra.

"Dalam dunia pendidikan, kita enggak mempermasalahkan faktor penyebabnya. Layanan pendidikan yang tepat, itu yang penting," ungkap Marja saat dihubungi kumparan pada Senin (5/11).

Menurutnya, layanan pendidikan yang tepat adalah kunci. Secara umum, kata dia, akses di Indonesia pun sudah mudah karena hadirnya pendidikan inklusif seperti Sekolah Luar Biasa (SLB).

Dalam pendidikan penyandang disabilitas tunanetra, kata Marja, mempelajari braille bersifat wajib untuk tingkat awal seperti TKLB (Taman Kanak-kanak Luar Biasa) dan SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa). Menurutnya, anak-anak penyandang tunanetra perlu melatih pengenalan bentuk dan sensitivitas perabaan melalui pembelajaran Pre-Braille di tingkat TK yang kemudian dilanjut dengan braille di SD tingkat bawah.

Ketersediaan bacaan bertulisan braille juga sudah cukup banyak di Indonesia yang juga dibantu oleh pemerintah. Untuk buku pelajaran SD sampai SMA menggunakan buku cetak braille, ada juga buku audio yang direkam dari isi buku-buku tersebut.

"Sekolah menengah, para murid sudah bisa [baca huruf] braille, bahkan di antara mereka sudah belajar Ilmu Teknologi (IT)," kata Marja.

Sayangnya, kata Marja, braille kini mulai jarang digunakan oleh masyarakat tunanetra tingkat mahasiswa. Menurut dosen pengajar mahasiswa tunanetra sejak 1999 itu, mahasiswa kini lebih banyak menggunakan teknologi sebagai alat bantu seperti ponsel dan laptop.

Ponsel dan laptop yang dimaksud Marja sama seperti yang digunakan Syifa, yaitu perangkat teknologi yang sudah dipasang aplikasi pembaca layar. Selain itu, penyandang tunanetra juga lebih memilih untuk menggunakan e-book karena lebih mudah diakses dan praktis dibandingkan buku braille.

"Mudah dan praktis sesuai dengan tuntutan zaman juga dunia kerja atau kuliah," imbuh Marja.

Reporter: Safina Azzahra Rona Imani


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cek Daftar Harga Mobil Hybrid per Januari 2026
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Hasil dan Klasemen Terbaru Liga Inggris 2025-2026: Satu Pelatih Lagi Dipecat Susul Ruben Amorim dan Enzo Maresca?
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Merdeka Gold (EMAS) Mulai Produksi Tahun Ini, Harga Saham Bakal Tembus Rp 7.000?
• 8 jam lalukatadata.co.id
thumb
Rumah Zakat Buka Layanan Pos Segar untuk Anak-anak dan Warga di Sekitar Masjid Al Furqan
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ketua Satgas Pemulihan Pascabencana Sumatera: Kita Akan Bekerja Secepat Mungkin
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.