Kelangkaan RAM yang akhirnya menyebabkan harga RAM naik, yang sekarang dirasakan konsumen masyarakat seluruh dunia bukan sekedar anomali pasar teknologi, tapi ini merupakan pergeseran besar dalam ekonomi politik global. Dalam beberapa bulan terakhir, harga RAM baik DDR4 maupun DDR5 mengalami lonjakan signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Media teknologi mencatat bahwa pasokan semakin ketat, sementara permintaan terus meningkat. Namun, penyebab utamanya bukanlah lonjakan konsumsi PC rumahan, melainkan ledakan kebutuhan memori oleh industri kecerdasan buatan/Artificial Intelligence (AI) dan pusat data berskala global.
AI modern dan sistem komputasi intensifnya sangat memerlukan banyak penyimpanan. Pusat data raksasa yang dimiliki Google, Microsoft, Meta, dan Amazon menyerap High Bandwidth Memory (HBM) dan RAM server dalam volume masif. Produsen besar seperti Samsung pun mengalihkan kapasitas produksinya ke segmen AI karena margin keuntungan jauh lebih tinggi dan kontrak jangka panjang lebih menjanjikan. Akibatnya, pasar RAM konsumen menjadi korban. Produksi DDR4 dikurangi lebih cepat dari perkiraan, sementara DDR5 ikut terseret kelangkaan karena sebagian kapasitas wafer dialihkan ke HBM.
Tentunya masalah ini tidak berdiri sendiri. Industri teknologi global sekarang tidak beroperasi sebagai pasar bebas yang netral, tetapi menjadi ruang strategis yang ada fragmentasi geopolitik. Produksi memori seperti DRAM dan NAND terkonsentrasi pada segelintir negara dan perusahaan. Korea Selatan melalui Samsung dan SK Hynix, Amerika Serikat lewat Micron, Taiwan melalui ekosistem manufaktur dan foundry, serta Tiongkok yang agresif membangun kapasitas domestiknya. Konsentrasi ini menciptakan structural choke points yaitu ketika keputusan produksi diambil oleh sedikit aktor, dampaknya terasa global.
Fragmentasi tersebut diperparah oleh rivalitas geopolitik, terutama antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Pembatasan ekspor teknologi canggih, kontrol atas peralatan manufaktur chip, hingga pembatasan investasi lintas negara membuat rantai pasok semikonduktor kehilangan fleksibilitas alaminya. Produksi tidak lagi dialokasikan berdasarkan efisiensi pasar semata, melainkan berdasarkan pertimbangan politik, keamanan nasional, dan kepentingan strategis jangka panjang. Dalam konteks ini, memori bukan lagi sekadar komoditas industri, melainkan instrumen kekuasaan ekonomi.
Dampaknya adalah terjadi pergeseran daya tawar. Perusahaan teknologi besar dari negara maju terutama hyperscaler AI seperti Google, Microsoft, Amazon, dan Meta memiliki posisi istimewa. Mereka mampu mengamankan pasokan memori melalui kontrak jangka panjang dan pembelian yang maasif. Sebaliknya, konsumen individu, UMKM yang di sektor atau menggunakan teknologi, dan negara berkembang berada di ujung paling lemah rantai nilai, mereka membeli sisa kapasitas, dengan harga yang sudah terdongkrak. Perilaku produsenpun berubah, dalam situasi kapasitas terbatas dan risiko geopolitik tinggi, produsen memori secara rasional memilih pelanggan strategis yang menjamin stabilitas pendapatan dan perlindungan politik. Inilah sebabnya produksi DDR4 dihentikan lebih cepat, DDR5 tetap langka, dan kapasitas wafer dialihkan ke HBM untuk AI. Bukan karena dunia kehabisan silikon, melainkan karena alokasi produksi sengaja diarahkan ke segmen yang paling kuat secara ekonomi dan politik.
Indonesia tidak boleh menganggap remeh hal tersebut. Karena RAM adalah komponen inti hampir semua perangkat digital seperti laptop yang digunakan pelajar, komputer yang digunakan pelaku UMKM, hingga infrastruktur digital perusahaan dan pemerintah Indonesia. Ketika harga RAM naik, harga perangkat ikut naik, biaya transformasi digital meningkat, dan akses teknologi menjadi semakin timpang.
Di tengah ambisi Indonesia mendorong ekonomi digital, AI nasional, dan transformasi birokrasi berbasis teknologi, krisis komponen ini menjadi peringatan keras. Ketergantungan penuh pada rantai pasok global membuat Indonesia rentan terhadap guncangan yang tidak bisa dikendalikan dari dalam negeri. Ini memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi digital tidak cuma hanya berbicara soal aplikasi dan talenta saja, tetapi juga soal kedaulatan rantai pasok teknologi. Tanpa adanya strategi yang jelas, khususnya dalam industri semikonduktor, Indonesia akan terus menjadi penonton atau konsumen saja dalam ekonomi berbasis teknologi ini.
Maka, lonjakkan harga RAM adalah alarm dini bahwa dunia mulai masuk fase baru. Fase dimana teknologi semakin maju, tetapi aksesnya semakin diperebutkan. AI, geopolitik, dan fragmentasi pasar telah mengubah komponen kecil seperti RAM menjadi arena persaingan global. Dan untuk Indonesia, pilihannya ada dua, antara penonton yang menanggung dampak, atau mulai memposisikan diri secara strategis dalam peta industri teknologi dunia. Jika tidak, setiap gelombang inovasi global akan selalu datang bersama kenaikan harga dan ketertinggalan baru.





