Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pengalamannya bergabung dalam pemerintahan Presiden Ke-7 RI Joko Widodo selama lima tahun sebagai fase penting pembelajaran sebelum memimpin Indonesia.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam Perayaan Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Stadium Senayan, Jakarta, Senin (5/1/2026).
Presiden Ke-8 RI itu mengatakan keterlibatannya di pemerintahan Jokowi sejak 2019 memberinya kesempatan memahami langsung kerja kekuasaan eksekutif dan dinamika pengelolaan negara.
“Saya bersyukur saya mendapatkan kesempatan, saya diajak bergabung dalam pemerintah Presiden Joko Widodo selama lima tahun. Bagi saya, lima tahun itu adalah semacam masa magang, masa pembelajaran,” ujar Prabowo.
Dia mengenang pertemuan kabinet pertamanya setelah pelantikan pada 2019, saat dirinya masih berstatus sebagai kandidat presiden yang kalah dalam pemilihan umum.
“Waktu itu saya kandidat yang kalah, tetapi waktu masuk ruang kabinet saya melihat sekeliling dan saya katakan, seandainya saya menang, sebagian besar kabinet itu pasti saya ajak membantu saya,” kata Prabowo.
Baca Juga
- Prabowo Sebut Rakyat Indonesia Paling Bahagia di Dunia
- Prabowo Gelar Retret Kabinet di Hambalang Besok (6/11), Menteri & Pejabat Wajib Hadir
- Catat! Ini 8 Agenda Prioritas Prabowo yang Digeber Tahun Ini
Menurutnya, hal tersebut terbukti ketika dia terpilih sebagai presiden. Prabowo menyatakan tetap mengajak sejumlah tokoh yang sebelumnya berada di kabinet Jokowi untuk bergabung dalam pemerintahannya.
Kepala negara menegaskan, memimpin negara sebesar Indonesia membutuhkan keterlibatan putra-putri terbaik bangsa dan tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
“Memimpin, mengelola, dan mengendalikan pemerintahan untuk sebuah negara sebesar ini harus terdiri dari putra-putri terbaik. Tidak bisa kita sembarangan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung budaya sebagian elite yang dinilainya gemar bersikap nyinyir dan saling meremehkan capaian bangsa sendiri, berbeda dengan sikap rakyat di lapisan bawah yang ia nilai lebih tulus.
“Rakyat kita luar biasa. Tapi semakin ke atas, ada budaya suka nyinyir, suka mengejek. Apa yang dibuat oleh bangsa sendiri dianggap tidak bagus,” ucapnya.
Kendati demikian, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk menumbuhkan semangat kebaikan dan persatuan.
“Enggak apa-apa. Sekarang kita harus bicara kebaikan,” pungkasnya.




