Misteri Tembok Kantor: Kenapa Pesan di Kantor Sering Nyangkut di Tengah Jalan?

kumparan.com
2 hari lalu
Cover Berita
Tentang hierarki, kode-kode kantor, dan pesan yang berubah arti di tengah jalan.

Hampir semua orang pernah mengalami ini: duduk di rapat yang panjang, mencatat seperlunya, mengangguk seperlunya, lalu keluar ruangan dengan satu kebingungan yang sama, sebenarnya barusan kita sepakat soal apa sih?

Di kantor, komunikasi sering terlihat berjalan. Rapat ada, grup WhatsApp aktif, email keluar masuk. Tapi anehnya, pesan tetap saja nyangkut. Instruksi berubah arti, ekspektasi beda tafsir, dan ujung-ujungnya pekerjaan harus diulang. Masalahnya, kenapa hal sesederhana bicara bisa jadi serumit ini?

Jawabannya sering kali bukan soal teknologi, tapi soal budaya. Di banyak kantor, komunikasi masih sangat dipengaruhi hierarki. Atasan bicara, bawahan mendengar. Bertanya dianggap lambat, mengkritik dianggap melawan. Kadang masalahnya bukan orangnya nggak pinter, tapi takut salah ngomong. Dan ironisnya, semua ini sering terjadi di kantor yang paling sering bilang “kita terbuka kok”.

Situasi ini sering berujung pada pertanyaan klasik dari pimpinan: “Kenapa tim saya kurang inisiatif?”

Masalahnya bukan karena orang kantor tidak punya ide, tapi karena terlalu sering belajar bahwa diam lebih aman daripada jujur.

Padahal jawabannya sering kali nggak nyaman: karena inisiatif memang nggak pernah benar-benar dikasih ruang. Saat kepatuhan lebih dihargai daripada kejujuran, komunikasi akhirnya cuma jadi formalitas, bukan tempat tukar pikiran.

Contohnya sederhana. Dalam rapat, atasan berkata, “Tolong dipikirkan ya.” Semua mengangguk. Tapi tidak ada yang benar-benar tahu: ini tugas, masukan, atau sekadar basa-basi. Seminggu kemudian, atasan kecewa karena merasa idenya diabaikan, sementara tim bingung karena merasa tidak pernah diminta apa-apa.

Masalah lain muncul dari cara kita berbicara di kantor. Terlalu sering pesan dibungkus dengan istilah-istilah teknis yang terdengar keren, tapi membingungkan. Instruksi jadi panjang, abstrak, dan multitafsir. Semua terdengar profesional, tapi tidak semua orang benar-benar paham harus melakukan apa.

Sayangnya, banyak yang masih menganggap bahasa seperti ini sebagai standar profesionalisme. Padahal, profesional bukan berarti rumit. Profesional justru berarti jelas. Pesan yang baik bukan yang membuat orang kagum, tapi yang membuat pekerjaan berjalan tanpa perlu ditebak-tebak.

Belum lagi soal banjir informasi. Email, grup WhatsApp, Slack, notifikasi proyek, semuanya datang bersamaan. Kita merasa sudah berkomunikasi hanya karena cepat membalas pesan. Padahal, kecepatan tidak selalu berarti pemahaman. Pesan penting sering tenggelam di antara obrolan yang sebenarnya tidak mendesak.

Akhirnya, tembok-tembok tak terlihat pun terbentuk di kantor. Bukan tembok fisik, tapi jarak emosional dan psikologis. Jarak antara atasan dan bawahan. Antara pesan yang dikirim dan pesan yang benar-benar diterima.

Padahal, komunikasi di kantor seharusnya sederhana: jelas, dua arah, dan manusiawi. Tidak perlu rapat panjang atau aplikasi mahal, tapi butuh keberanian untuk bicara apa adanya dan kesiapan untuk mendengar tanpa defensif.

Banyak orang akhirnya tidak berhenti bicara karena tidak peduli, tapi karena terlalu sering merasa tidak didengar.

Karena di balik setiap meja kerja, bukan hanya ada jabatan atau target, tapi ada manusia yang ingin dipahami bukan sekadar diperintah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Manchester United Bidik Duet Carrick dan Solskjaer sebagai Manajer Interim, Ini Alasannya!
• 9 jam lalumediaindonesia.com
thumb
KPK Berpeluang Periksa Pihak Lain Dalam Kasus Bank BJB
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Wagub Babel Hellyana Dicecar 25 Pertanyaan saat Diperiksa di Bareskrim Polri Hari Ini
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Hadiri Panen Raya, Presiden Prabowo Coba Buah dan Susu Sebelum Deklarasi Swasembada Pangan
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Sebagian Wilayah Sulsel Berpotensi Diguyur Hujan Sejak Siang pada Rabu, 7 Januari 2026
• 20 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.