tvOnenews.com - Meski kariernya tidak begitu panjang di Persija Jakarta, namun kontribusi playmaker Chile Javier Roca di Macan Kemayoran akan selalu diingat.
Kemampuannya dalam sepakan jarak jauh hingga sebagai eksekutor tendangan bebas membuat Javier Roca diandalkan di lini tengah Persija Jakarta.
Di Persija Jakarta jugalah, Javier Roca memilih untuk mengganti agamanya menjadi Islam setelah memutuskan mualaf pada tahun 2007 setelah menikah dengan gadis Indonesia.
Persija Jakarta bukan satu-satunya klub liga Indonesia yang pernah dibela Javier Roca. PSMS Medan, Persebaya Surabaya, dan Persitara Jakarta Utara contohnya.
Pensiun pada 2012 usai bermain di Persis Solo, Javier Roca sempat menghilang dari sepak bola Indonesia hingga kemudian muncul lagi satu dekade kemudian.
Momen comeback-nya ditandai dengan melatih dua klub asal Jawa Timur, namun kini Javier Roca dikabarkan mendapat jabatan strategis di salah satu tim asal Australia.
Lalu, bagaimana kabar Javier Roca sekarang?- ANTARA/HO-MO Arema FC
Lahir di Santiago, Chile pada 9 Agustus 1977, Javier Roca merupakan produk binaan dari akademi klub terbesar di negara tersebut yakni Colo-colo.
Namun saat masuk level senior, ia kesulitan masuk tim utama hingga akhirnya dipinjamkan ke Deportes Los Andes dan Union San Felipe periode 1998 hingga 1999.
Pemain bernama lengkap Javier Leopoldo Roca Sepúlveda ini kemudian merantau ke Venezuela dengan Deportivo Italchachao. Dua musim dia bermain di klub ini.
Keputusan Javier Roca untuk merantau terbukti tepat. Aksinya di Venezuela membuat sejumlah klub Chile seperti Coquimbo Unido dan Deportes Arica terpukau.
Di klub terakhir, Javier Roca bermain selama tiga musim. Kegemilangannya ini sampai membuat PSMS Medan kepincut dan merekrutnya pada 2004.
Selepas dari PSMS Medan, gelandang berpostur 175 cm itu pindah ke Persibom, Persegi Gianyar hingga Persitara Jakarta Utara hanya dalam dua musim saja.
Barulah kariernya di Indonesia mulai dikenal saat gabung Persija Jakarta. Di sini, ia menjadi 'pelayan' dua striker Macan Kemayoran seperti Aliyudin dan Bambang Pamungkas.




