EtIndonesia. Pada 5 Januari 2026, mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro secara resmi menghadiri sidang perdananya di pengadilan federal New York. Dalam persidangan tersebut, Maduro menolak seluruh dakwaan dan tetap bersikukuh mengklaim dirinya sebagai presiden sah Venezuela, meskipun telah ditangkap dan diekstradisi oleh Amerika Serikat dalam operasi militer lintas negara pada 3 Januari lalu.
Dakwaan Berat: Narkotika, Terorisme, dan Kejahatan Kemanusiaan
Jaksa federal Amerika Serikat menuduh Maduro selama bertahun-tahun menyalahgunakan kekuasaan negara, berkolusi dengan kartel narkoba lintas negara serta organisasi teroris. Dia diduga menggunakan paspor diplomatik dan perlindungan resmi negara untuk menyelundupkan ribuan ton kokain ke pasar internasional.
Lebih jauh, Maduro juga dituduh memerintahkan penculikan, penganiayaan, hingga pembunuhan terhadap individu atau kelompok yang dianggap menghalangi jaringan peredaran narkoba yang dikendalikannya. Dakwaan ini menempatkan kasus Maduro sebagai salah satu perkara kejahatan terorganisir tingkat negara paling serius dalam sejarah peradilan Amerika Serikat.
Istri Maduro Terancam Penjara Seumur Hidup
Tak hanya Maduro, istri Maduro juga didakwa dalam perkara terpisah. Dia dituduh menerima suap, membantu penyelundupan narkoba, serta terlibat dalam kejahatan senjata lintas negara. Jika terbukti bersalah, ancaman hukuman maksimal yang dihadapi adalah penjara seumur hidup.
Kalangan hukum menilai Maduro kemungkinan akan mengajukan klaim kekebalan pidana sebagai kepala negara asing. Namun, preseden kasus Manuel Noriega—mantan pemimpin Panama yang ditangkap dan diadili Amerika Serikat pada 1989—dinilai sangat merugikan posisi Maduro.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa Maduro akan divonis bersalah, seraya menegaskan bahwa bukti yang dimiliki jaksa sangat kuat dan berlapis.
Swiss Bekukan Seluruh Aset Maduro
Masih pada 5 Januari 2026, Dewan Federal Swiss mengumumkan kebijakan pembekuan total seluruh aset milik Maduro dan para kroninya di wilayah Swiss. Kebijakan ini berlaku segera dan memiliki masa berlaku empat tahun.
Pemerintah Swiss menyatakan langkah tersebut bertujuan mencegah aliran dana ilegal ke luar negeri, serta menjadi pelengkap sanksi terhadap Venezuela yang telah diberlakukan sejak 2018. Swiss menegaskan bahwa pembekuan ini tidak menyasar anggota pemerintah Venezuela yang sedang menjabat, namun secara khusus menargetkan Maduro dan lingkaran dekatnya sebagai tokoh politik asing berisiko tinggi.
Setiap dana yang terbukti diperoleh secara ilegal akan disita dan dikembalikan demi kepentingan rakyat Venezuela, guna memastikan hasil kejahatan tidak dapat diselamatkan di tengah krisis politik saat ini.
Reaksi Panik di Tiongkok: Propagandis PKT Emosional
Di dunia maya Tiongkok, beredar luas video Li Yi, seorang intelektual propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang tampak mengalami luapan emosi ekstrem saat membahas operasi militer Amerika Serikat.
Dalam kanal YouTube-nya, Li Yi berteriak marah, menyebut bahwa jarak daratan Tiongkok ke Taiwan hanya sekitar 180 kilometer, sementara Amerika Serikat yang berjarak 1.800 kilometer justru mampu menangkap Maduro hidup-hidup. Dia terlihat menampar mulutnya sendiri, memukul meja, menangis tersedu, bahkan mencaci dirinya dengan sebutan “bukan manusia”.
Sementara itu, “penasihat negara” PKT Jin Canrong pada 4 Januari 2026 merilis video peringatan bahwa Tiongkok tidak memiliki kehadiran militer di belahan bumi barat. Dia memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat menguasai kawasan tersebut, maka investasi dan kepentingan ekonomi Tiongkok di Amerika Latin akan menghadapi risiko politik besar.
Topik “Jin Canrong menyebut penangkapan Maduro berdampak besar bagi Tiongkok” sempat menjadi trending di Weibo sebelum disensor.
Sindiran Warganet dan Lagu yang Dilarang
Sebagai bentuk sindiran, warganet Tiongkok membanjiri kolom komentar dengan lagu “Sayang Bukan Kamu” milik Liang Jingru, disertai komentar bernada satire seperti “Sayang bukan kamu” dan “Amerika salah tangkap orang”. Lagu tersebut mendadak viral sebelum akhirnya ikut dilarang tayang.
Warganet Taiwan kemudian menyarankan lagu lain berjudul “Semoga Selalu Kamu”, sebagai kelanjutan sindiran politik lintas Selat.
Kuba Akui Korban dan Tetapkan Hari Berkabung
Pemerintah Cuba pada 5 Januari 2026 mengakui bahwa 32 warga negaranya tewas selama serangan mendadak Amerika Serikat ke Caracas. Seluruh korban merupakan anggota militer dan badan intelijen Kuba.
Havana menetapkan dua hari berkabung nasional, mengungkap kedalaman keterlibatan Kuba dalam struktur militer dan politik Venezuela.
Para analis menilai jaringan intelijen Kuba merupakan pilar utama penopang kekuasaan Maduro, mulai dari manipulasi pemilu hingga pengawasan aparat keamanan.
Trump sebelumnya, pada 3 Januari 2026, menyatakan bahwa Kuba akan menjadi fokus berikutnya. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyebut kondisi Kuba sebagai “bencana yang sedang runtuh”, seraya menegaskan bahwa jaringan intelijen Kuba dan PKT di Amerika Selatan telah dilumpuhkan.
Dampak Regional dan Global
Di Iran, meskipun juru bicara Kementerian Luar Negeri Nasser Kanaani (Baqaei) pada 5 Januari menyatakan hubungan Iran–Venezuela tetap stabil, organisasi HAM melaporkan kerusuhan telah menyebar ke 60 kota dengan sedikitnya 15 demonstran tewas.
Analis geopolitik Parkzad menilai tahun 2026 akan menjadi periode paling gelap bagi kepemimpinan Iran, sementara media Rusia Metas melaporkan bahwa Kedutaan Besar Rusia di Caracas menyarankan warganya menunda perjalanan ke Venezuela.
Aksi Massa di New York dan Dugaan Operasi Asing
Pada hari yang sama, ribuan orang menggelar aksi protes terkoordinasi di Times Square, New York. Spanduk dan papan slogan dicetak rapi dan seragam, memicu pertanyaan publik mengenai sumber dana, logistik, dan pengorganisasian kilat.
Jurnalis Nate Friedman mengonfirmasi bahwa aksi tersebut terkait dengan organisasi People’s Forum, yang disebut memiliki afiliasi dengan PKT dan dukungan dana hingga 20 juta dolar AS, sehingga memunculkan dugaan campur tangan kekuatan asing.
Venezuela Tetap Stabil Pasca Penangkapan
Laporan lapangan menunjukkan bahwa pasca penangkapan Maduro, kehidupan di Venezuela tetap berjalan normal. Harga stabil, pasar tertib, dan banyak warga secara terbuka menyampaikan rasa lega dan terima kasih kepada Amerika Serikat.
Di media sosial, warganet kembali menyindir perbandingan kemampuan militer: 76 tahun Selat Taiwan hanya menjadi retorika, sementara Amerika Serikat menempuh 1.800 kilometer dan mengeksekusi operasi presisi dalam hitungan jam.
Peringatan Terakhir Trump ke Kolombia
Pada 4 Januari 2026, Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Presiden Kolombia, Gustavo Petro, menuduhnya terkait narkoba dan produksi kokain.
Sehari kemudian, Petro menantang balik: “Tangkap saya saja. Saya di sini menunggu.” Pernyataan tersebut langsung memicu gelombang komentar warganet yang berharap tantangan itu benar-benar menjadi kenyataan.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5193686/original/055726300_1745237513-Pemeliharaan_bibit__penanaman_hingga_perawatan_bibit_pohon.jpg)