Pada 3 Januari 2026, militer Amerika Serikat melancarkan operasi militer kilat terhadap Venezuela dan berhasil menangkap Nicolás Maduro. Operasi tersebut mencakup serangan udara, perang elektronik, hingga penyusupan pasukan khusus, yang mana seluruhnya berlangsung cepat dan sangat presisi.
Sementara itu, sistem pertahanan udara yang selama ini dipromosikan secara besar-besaran oleh Venezuela hampir tidak berfungsi sama sekali. Yang lebih ironis, hanya beberapa jam sebelum penangkapan, Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru saja mengirim delegasi untuk secara terbuka menyatakan dukungan kepada Maduro—dan kini dukungan itu langsung terbukti sia-sia.
EtIndonesia. Saat ini Nicolás Maduro ditahan di Metropolitan Detention Center (MDC) Brooklyn, dan dijadwalkan akan menjalani sidang perdana di Pengadilan Federal Distrik Selatan New York pada 5 Januari 2026.
Sebelumnya, akun resmi Gedung Putih merilis sebuah video yang memperlihatkan Maduro mengenakan jaket hitam, berjalan perlahan menyusuri lorong berkarpet biru di bawah pengawalan petugas Badan Penegakan Narkoba AS (DEA). Keterangan video tersebut menyebut adegan itu sebagai “perp walk” (arak-arakan tersangka).
Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap sebagian detail penangkapan Maduro. Ia mengatakan bahwa saat itu Maduro sempat berlari menuju pintu ruang rahasia, namun “belum sempat menutup pintu, ia sudah berhasil dilumpuhkan.” Peralatan pembobolan dan pemotongan yang dibawa militer AS “bahkan tidak sempat digunakan”.
Opini publik pun ramai membahas fakta bahwa hanya beberapa jam sebelum ditangkap hidup-hidup, Maduro dengan penuh publisitas menerima kunjungan utusan khusus PKT, Qiu Xiaoqi, yang datang untuk memberikan dukungan.
Ketika Maduro ditangkap, delegasi Tiongkok bahkan masih berada di Venezuela. Selain itu, Venezuela sebelumnya juga gencar mempromosikan sistem pertahanan udara buatan Tiongkok, seperti radar gelombang meter JY-27 dan radar tiga koordinat JYL-1, yang diklaim mampu mengunci pesawat siluman AS F-22 dan F-35.
Namun dalam pertempuran nyata, sistem-sistem tersebut praktis tidak berguna. Peralatan berat buatan Tiongkok di darat pun berubah menjadi sasaran empuk bagi militer AS.
Banyak warganet juga menggali kembali sebuah video lama Maduro, di mana ia secara terbuka memuji pemimpin PKT Xi Jinping karena memberinya sebuah ponsel Huawei, yang menurutnya dapat mencegah penyadapan dan pelacakan, sehingga Amerika Serikat tidak akan bisa menemukan dirinya.
Warganet pun menyindir: apakah keberhasilan militer AS melacak dan menangkap Maduro justru disebabkan oleh ponsel Huawei tersebut? (Hui)
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Rong Yu, dan reporter magang Ning Xiu.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F02%2F28%2F14c3cf93033ea1b51e8166442189dbfc-IMG_20250228_192326.jpg)


