Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan Selasa (6/1/2026) menguat 0,26% atau 23,25 poin ke 8.882,44. Indeks komposit berpeluang menguji di 8.900 sebelum ke level psikologis 9.000. Penguatan indeks ditopang oleh laju saham berkapitalisasi besar seperti AMMN yang melonjak dua digit.
Pada sesi I ini, sebanyak 405 saham menguat, 289 saham melemah dan 264 saham belum berubah. Transaksi pasar mencapai 43,26 miliar saham dengan nilai Rp19,67 triliun. Kapitalisasi pasar saat ini mencapai Rp16.241 triliun.
Sejumlah saham berkapitalisasi pasar terbesar penggerak laju indeks yang menguat antara lain adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang melonjak 14,64% ke Rp8.025, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menguat 0,31% ke Rp8.100, sampai PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang naik 0,55% ke Rp3.650, serta PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) yang menguat 2,73% ke Rp12.225.
Di sisi lain, saham PT Astra International Tbk. (ASII) terkoreksi 1,82% ke Rp6.750, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 2,97% ke Rp4.900, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turun 1,25% ke Rp3.150, sampai saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang ditutup turun 1,34% ke Rp2.210.
Tim riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG hari ini akan bergerak di level resistance 8.900 dan level support di 8.700. Pada Senin (6/1/2026) kemarin, indeks komposit ditutup menguat 1,27% menyentuh all time high (ATH) penutupan baru di 8.859 dengan kenaikan terbesar terjadi pada saham sektor basic material seiring dengan kenaikan mayoritas harga komoditas logam.
"Serangan AS terhadap Venezuela tidak terlalu direspons negatif oleh pasar, namun mendorong kenaikan harga mayoritas komoditas logam," tulis riset tersebut, Selasa (6/1/2026).
Baca Juga
- Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini 6 Januari 2026
- Deretan Saham Blue Chips Konglomerat BYAN, DCII, AMMN Pendorong IHSG Awal 2026
- IHSG Hari Ini (6/1) Dibuka Menguat, Saham AMMN, IMPC, hingga MORA Dorong Laju Indeks
Secara teknikal, level IHSG pada sesi I saat ini menunjukkan pembentukan histogram positif pada MACD yang masih berlanjut, sedangkan stochastic RSI berada pada overbought area. Dengan begitu, sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi bergerak dalam rentang level 8.850-8.900 pada akhir sesi perdagangan hari Selasa (6/1/2026).
Penguatan IHSG pada perdagangan terakhir juga bersamaan dengan mayoritas indeks di bursa Asia yang juga ditutup menguat. Namun, nilai tukar rupiah kemarin ditutup melemah pada level Rp16.740 per dolar AS di pasar spot (5/1), seiring dengan mayoritas mata uang di Asia yang cenderung melemah.
Kali ini, investor menyoroti sejumlah data ekonomi penting yang telah dirilis pada Senin lalu, di mana inflasi Indonesia tercatat sebesar 2,92% YoY di Desember 2025, naik dari 2,72% YoY di November 2025. Laju inflasi pada Desember 2025 ini merupakan level tertinggi sejak April 2024, namun masih dalam kisaran target Bank Indonesia di 1,5% sampai 3,5%.
Kemudian, surplus neraca perdagangan bulan November 2025 berkurang menjadi US$2,66 miliar dari US$4,34 miliar di November 2024. Hal ini karena turunnya ekspor sebesar 6,6% YoY dan impor yang naik 0,46% YoY.
"Secara teknikal, indikator MACD membentuk Golden Cross seiring dengan penguatan Stochastic RSI di area pivot. Hal ini juga ditopang oleh kenaikan volume beli. Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menguji level 8.900, sebelum menuju level psikologis 9.000," tulis riset tersebut.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





