Pasar Kombongan di Kemayoran, Jakarta Pusat, baru selesai direvitalisasi. Pasar yang berada di ujung Jalan Bungur Besar 17 itu diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Selasa (6/1).
Selayaknya gedung baru, bangunan Pasar Kombongan terlihat bersih dan nyaman. Pasar yang memiliki dua lantai ini telah dilengkapi drainase atau saluran air di area basah yang biasa ditempati pedagang ayam potong atau ikan.
Area basah berada di lantai dasar. Kios di sini tidak memiliki sekat tapi ada area berjalan yang cukup lebar sehingga tidak akan menyulitkan pembeli saat berbelanja. Di langit-langitnya juga terpasang banyak kipas angin, sementara di beberapa temboknya terdapat saluran udara.
Untuk area kering kini banyak ditempati oleh pedagang sembako. Mereka menata dagangannya dengan baik. Terdapat garis batas dagangan di setiap bagian depan kios sehingga ruas jalan tidak terasa sempit.
Pasar yang menempati lahan seluas 1.888 meter persegi itu sudah dilengkapi dengan musala, toilet, jaringan air PAM, ruang genset, ruang parkir, hydrant, hingga CCTV.
Saat meresmikan Pasar Kombongan, Pramono meminta pedagang dan pembeli untuk menjaga kebersihan pasar. Ia juga menyinggung soal pembayaran melalui QRIS yang telah bisa dilakukan di setiap kios.
"Kebersihan dijaga dan apalagi udah pake QRIS saya berharap pasar bisa bersih. Keuntungan digitalisasi enggak ada copet, preman enggak bisa malakin karena enggak ada duit, enggak ada duit karena cash semakin berkurang. Bisa memudahkan para pembeli berbelanja secara aman dan nyaman. Saya yakin Pasar Kombongan ini tipe C, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat di tempat ini," tuturnya," kata Pramono.
Akses yang DikeluhkanPedagang Pasar Kombongan telah menempati gedung baru itu selama 4 bulan. Meski bangunan baru nyatanya tidak membuat semuanya sempurna.
Salah satu pedagang bernama Tolib (48) mengatakan masalah akses menuju pasar jadi tantangan.
“Kalau masalah tempat emang ini lebih nyaman, lebih enak. Kalau masalah pembeli itu berkurang. Masalahnya apa? Akses. Jalannya yang di situ kan yang rel kereta itu ditutup. Tadi kan orang kampung jalannya lewat situ”, ucap Tolib (48).
Pasar Kombongan berada di ujung jalan. Di sebelahnya terdapat rel kereta api. Sebelumnya perlintasan rel kereta itu bisa dipakai warga untuk melintas, tapi sekarang sudah ditutup permanen. Hanya ada celah sedikit yang bisa dipakai untuk pejalan kaki menyeberang.
Kondisi tersebut membuat warga yang tinggal di seberang rel kereta harus memutar jauh untuk sampai ke Pasar Kombongan. Alhasil mereka memilih ke pasar lain, padahal banyak pelanggan Pasar Kombongan berasal dari pemukiman di seberang rel.
Edi (27), pedagang lainnya, mengatakan kondisi pasar makin sepi akibat akses jalan yang ditutup itu.
“Bukan berkurang lagi (pengunjungnya), hampir 80%. Itungannya pasar, tapi kayak bukan pasar,” ujar Edi.
Pedagang Pilih Berdagang di Luar PasarKondisi tersebut membuat pedagang memutar otak agar tetap dapat pembeli. Mereka memindahkan dagangannya ke lapak di luar pasar. Tepatnya di gang kecil, sebelah pagar rel kereta.
"Itu karena awalnya di sini karena sepi orang-orang enggak ke sini, akhirnya ke situ. Pindah,” ujar Edi.
Lapak yang ada di gang tersebut tidak seperti di dalam pasar. Hanya meja yang diletakkan di seberang pagar. Lalu atapnya ditutupi terpal agar tidak terkena terik matahari maupun hujan.
Weri (25), warga setempat mengatakan lapak-lapak itu sudah ada sejak Pasar Kombongan dibongkar untuk direvitalisasi. Pembeli datang dari warga sekitar.
“Ini atas seizin RT juga. Udah lama,” ucap Weri.
“Orang luar, orang sini juga ada, seberang. Muternya ini nih (menunjuk akses untuk pejalan kaki), buat jalan kaki doang, motornya gak bisa. Motor lewat Garuda sana,” tambah Weri.
Kini warga mengharapkan ada akses khusus bagi pembeli untuk berbelanja di Pasar Kombongan. Minimal untuk bisa dilalui sepeda motor agar pembeli tidak perlu memutar jauh.
Soal akses ini, pedagang sempat menyampaikan hal itu ke Pramono. Dia lalu memerintah stakeholders untuk mengatasinya.
“Pak Wali untuk (akses) ini segera diatasi, dan nanti saya minta untuk Pasar Jaya minimum untuk transportasi motor yang bisa. Tolong Pak Wali dilakukan, dan bila perlu saya turun tangan,” ucap Pramono.




