Lonjakan Harga Emas Berisiko Kerek Laju Inflasi pada 2026

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Lonjakan harga emas masih berisiko mengerek inflasi pada 2026. Risiko ini, antara lain dipicu oleh ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik. Sebagai salah satu konsekuensinya, ruang penurunan suku bunga acuan ke depan cenderung kian menyempit.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Selasa (6/1/2026), mengatakan, risiko inflasi dari kenaikan harga emas pada 2026 perlu dicermati. Sebab, andil komoditas emas perhiasan terhadap inflasi sepanjang 2025 tergolong besar.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, emas perhiasan berkontribusi terhadap inflasi tahunan pada 2025 sebesar 0,79 persen dan inflasi bulanan per Desember 2025 sebesar 0,07 persen. Tanpa emas perhiasan, inflasi diperkirakan hanya sebesar 2,13 persen secara tahunan, jauh lebih rendah dibanding realisasi 2,92 persen.

Data tersebut menunjukkan, sebagian lonjakan inflasi sepanjang 2025 tidak hanya didorong oleh kenaikan harga kebutuhan harian semata. Inflasi juga didorong oleh kenaikan harga emas global dan pelemahan rupiah.

Adapun rerata harga emas sepanjang 2025 sebesar 3.442 dollar AS per troy ons atau naik 44,13 persen dibandingkan pada 2024 yang rata-rata mencapai 2.388 dollar AS per troy ons. Per Selasa (6/1/2026), harga emas telah menyentuh 4.468 per troy ons, melonjak sebesar 66,18 persen secara tahunan.

“Ke depan, ketika ketegangan geopolitik global memanas, termasuk eskalasi tensi AS dan Venezuela, harga emas cenderung lebih mudah terdorong naik, karena pelaku pasar mencari pegangan yang dianggap lebih aman saat ketidakpastian meningkat,” kata Josua saat dihubungi dari Jakarta.

Akibat dari ketidakpastian tersebut, tren kenaikan harga emas diperkirakan akan berlanjut pada 2026. Meski demikian, kenaikannya cenderung terbatas dibanding 2025. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga dapat memperbesar kenaikan harga emas domestik.

Jika kenaikan emas 2026 memang lebih moderat dibanding 2025, efek tambahannya ke inflasi juga cenderung mengecil dan lebih dekat ke pola normal, sehingga inflasi masih berpeluang terjaga.

Josua menjelaskan, risiko terhadap inflasi ke depan muncul lantaran emas perhiasan masuk ke dalam keranjang inflasi inti. Dalam hal ini, lonjakan harga emas akan membuat inflasi inti tampak lebih tinggi, meski tekanan harga barang dan jasa lain relatif stabil.

Mengutip data BPS, inflasi inti tercatat sebesar 2,38 persen pada Desember 2025. Kenaikan tersebut utamanya didorong oleh kenaikan harga emas domestik sepanjang 2025 yang melonjak 76,02 persen secara tahunan menjadi Rp 2,57 juta per gram.

“Jika kenaikan emas 2026 memang lebih moderat dibanding 2025, efek tambahannya ke inflasi juga cenderung mengecil dan lebih dekat ke pola normal, sehingga inflasi masih berpeluang terjaga,” ujar Josua.

Berhati-hati

Selanjutnya, laju inflasi pada akhir 2026 diperkirakan dalam kisaran 2,72 persen, dengan kencenderungan risiko akan berada di atas 3 persen pada awal 2026. Perkiraan tersebut sejalan masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5-3,5 persen.

Menurut Josua, lonjakan harga emas yang mendorong kenaikan inflasi inti akan membuat BI cenderung lebih berhati-hati dalam mengoptimalkan peluang ruang penurunan suku bunga acuan. Meski demikian, pengambilan suku bunga kebijakan tidak semata ditentukan oleh emas.

“Bank Indonesia biasanya melihat apakah tekanan harga menyebar luas ke banyak komoditas dan jasa, serta mempertimbangkan stabilitas rupiah,” ucapnya.

Di sisi lain, ia memperkirakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah turut mempersempit ruang pelonggaran suku bunga acuan dalam jangka pendek. Dengan perkembangan tersebut, penurunan suku bunga acuan pada 2026 lebih terbatas sekitar 25 basis poin (bps).

Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026) ditutup di level Rp 16.762 per dollar AS, terdepresiasi 0,25 persen dibanding penutupan akhir 2025. Adapun sepanjang 2025, rupiah tercatat melemah 3,48 persen.

Sementara itu, ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, berpendapat, tren kenaikan harga emas global ke depan tidak hanya dipicu oleh faktor geopolitik. Tingginya permintaan investor, arus masuk investasi reksa dana (ETF), dan akumulasi bank sentral turut mendorong lonjakan harga emas.

Sejumlah lembaga internasional, seperti JPMorgan dan Goldman Sachs, memproyeksikan harga emas akan berada dalam kisaran 4.800-5.000 dollar AS per troy ons pada 2026-2027. Dengan asumsi kurs Rp 16.000-16.700 per dollar AS, harga emas domestik diperkirakan menguat hingga 25-40 persen.

Dengan demikian, risiko inflasi inti tetap nyata meski basisnya sempit, dan perkiraannya realisasi inflasi masih akan dalam target Bank Indonesia.

Ia menambahkan, komoditas emas perhiasan telah menjadi kontributor utama inflasi bulanan sebanyak 11 kali dan menyumbang 0,79 persen terhadap inflasi tahunan. Secara kualitatif, lonjakan harga emas global dapat menambah kontribusi inflasi bulanan sekitar 0,1–0,3 persen pada puncaknya.

“Dengan demikian, risiko inflasi inti tetap nyata meski basisnya sempit, dan perkiraannya realisasi inflasi masih akan dalam target Bank Indonesia,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2025 terjaga dalam kisaran sasaran 1,5-3,5 persen. Berdasarkan data BPS, inflasi IHK Desember 2025 tercatat sebesar 0,64 persen secara bulanan dan 2,92 persen secara tahunan.

Menurutnya, laju inflasi tetap terjaga dalam kisaran target seiring dengan kebijakan moneter dan eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan Pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 1,5-3,5 persen pada 2026 dan 2027,” tulisnya dalam keterangan resmi, Senin (5/1/2026).

Baca JugaBencana di Sumatera Turut Pengaruhi Inflasi Nasional 2025

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dedi Mulyadi Tanggapi Berita Terkait ASN Tak Dapat Gaji Bulanan, Gubernur Jawa Barat Ungkap Fakta Sebenarnya
• 19 jam lalugrid.id
thumb
Durian beku Indonesia resmi beredar di pasar China
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Okupansi KA Lokal Pangrango dan Siliwangi Tembus 90 Persen Selama Periode Nataru
• 36 menit lalumediaapakabar.com
thumb
Tersangka Ijazah Palsu, Wagub Babel Salahkan Pihak Kampus
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Spanyol Tegaskan Kedaulatan Sumber Daya Alam Venezuela
• 10 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.