Jakarta, VIVA – Angin segar diperkirakan akan menyelimuti pasar modal domestik pada perdagangan awal tahun 2026. Optimisme ini dilandasi membaiknya laporan keuangan (L/K) perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Guru Besar Universitas Indonesia (UI) sekaligus Pengamat Pasar Modal, Budi Frensidy, memperkirakan kondisi keuangan perusahaan tercatat di pasar modal (emiten) akan lebih baik dibandingkan tahun 2024. Ekspektasi ini menjadi salah satu faktor utama yang menopang IHSG bergerak agresif ke level lebih tinggi.
"Saya pikir antisipasi L/K tahun 2025 yang lebih baik daripada tahun sebelumnya," tutur Budi dikutup dari Antara pada Selasa, 6 Januari 2026.
Sejalan dengan pandangan Budi, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, melihat tren positif IHSG masih berpeluang berlanjut sepanjang tahun 2026. Ia menenkan keberhasilan IHSG mampu mendekati level 9.000 dalam dua hari dua hari perdagangan pertama tahun ini.
"Kami melihat kinerja positif IHSG masih berlanjut, dengan target IHSG di 10.500," ungkap Rully.
- VIVAnews/M Ali Wafa
Berdasarkan data perdagangan BEI hingga pukul 15.31 WIB, pada Selasa, 6 Januari, IHSG menguat 68,28 poin atau 0,77 persen ke level 8.927,47. Aktivitas pasar terbilang ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 4.047.267 kali.
Total volume perdagangan tercatat sebanyak 62,91 miliar saham dengan nilai transaksi Rp30,54 triliun. Secara keseluruhan, sebanyak 402 saham menguat, 264 saham melemah, dan 145 saham bergerak stagnan.
Selain faktor domestik, Budi juga menyinggung sentimen global ikut memberi pengaruh positif terhadap pergerakan indeks domestik. Ia menyoroti stabilnya harga minyak dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memberi sinyal positif bagi pasar keuangan.
Kata Budi, saat ini pelaku pasar tengah mencermati pasca serangan AS ke Venezuela. Budi mengingatkan ada potensi eskalasi konflik yang lebih luas, jika ketegangan geopolitik melibatkan lebih banyak negara besar maka risiko pergeseran aset bisa meningkat.
“Meletusnya perang antara super power, sehingga orang menjual saham dan beralih ke emas atau mungkin juga kripto, dan melesatnya harga minyak,” ujar Budi.



