Produsen Salonpas Hisamitsu Pamit dari Bursa Tokyo, Go Private Rp48,57 T

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen Salonpas, Hisamitsu Pharmaceutical Co menyatakan akan pamit dari bursa saham Tokyo dan menjadi perusahaan tertutup atau go private melalui skema management buyout (MBO) dengan valuasi sekitar US$2,9 miliar atau setara Rp48,57 triliun.

Melansir Bloomberg pada Rabu (7/1/2026), harga penawaran ditetapkan sebesar ¥6.082 per saham, mencerminkan premi sekitar 35% dibandingkan harga penutupan saham Hisamitsu pada Senin (5/1/2026).

Dalam pernyataan resminya, manajemen Hisamitsu mengonfirmasi rencana tersebut dan menyebutkan bahwa penawaran tender akan dimulai pada Rabu dan berlangsung hingga 19 Februari. Untuk mendanai transaksi, pihak pengakuisisi berencana meminjam dana dari Sumitomo Mitsui Banking Corp. dan MUFG Bank.

Sumber yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa aksi buyout dikendalikan oleh entitas yang berada di bawah kendali Direktur Utama Hisamitsu Kazuhide Nakatomi, yang juga merupakan anggota keluarga pendiri perusahaan.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Sebelumnya, Hisamitsu hanya menyatakan tengah mempertimbangkan untuk menjadi perusahaan tertutup tanpa mengungkapkan rincian lebih lanjut. Saham Hisamitsu langsung melonjak hingga batas kenaikan harian pada Selasa (6/1/2026) dan ditutup menguat 15,6%, menjadi kenaikan harian terbesar dalam lebih dari tiga dekade.

Produsen plester pereda nyeri merek Salonpas ini bergabung dengan daftar perusahaan Jepang yang kian panjang memilih keluar dari pasar saham publik. Langkah tersebut ditempuh untuk menghindari tekanan regulator dan investor yang menuntut peningkatan valuasi serta penguatan tata kelola perusahaan.

Dampaknya, jumlah perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Tokyo mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, seiring aksi buyout dan penghapusan pencatatan terkait restrukturisasi yang mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu.

Di sisi lain, pemerintah Jepang juga mendorong penggunaan obat generik yang lebih murah serta menekan perusahaan farmasi untuk memangkas harga, sejalan dengan penuaan populasi. 

Pada Oktober lalu, Hisamitsu melaporkan laba operasional turun 9,7% menjadi ¥8,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir Agustus 2025, tertekan oleh kebijakan tersebut serta melemahnya penjualan Salonpas di pasar domestik.

Untuk menjaga pertumbuhan, Hisamitsu mempercepat ekspansi ke pasar luar negeri di tengah persaingan yang semakin ketat di dalam negeri. Perusahaan berencana menginvestasikan lebih dari ¥50 miliar untuk memperluas pasokan Salonpas, serta lebih dari ¥150 miliar untuk riset dan investasi strategis dalam beberapa tahun ke depan.

Langkah Hisamitsu sejalan dengan keputusan pesaing domestiknya, Taisho Pharmaceutical Holdings Co., yang memprivatisasi perusahaan pada 2024 dengan alasan ingin lebih fokus pada strategi jangka menengah hingga panjang dibandingkan mengejar laba jangka pendek dan imbal hasil pemegang saham.

Hisamitsu, yang berdiri sejak 1847 di Prefektur Saga, Jepang barat daya, mengembangkan dan memasarkan obat resep serta produk kesehatan ritel. 

Salonpas mencatat sejarah sebagai plester pereda nyeri topikal pertama yang memperoleh persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada 2008.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
10 Jam Diperiksa, Wagub Babel Hellyana Dicecar 25 Pertanyaan soal Kuliah
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Invasi Venezuela dan Neo-Kolonialisme Amerika Serikat
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Balita Rawa Bunga jatuh dari lantai dua saat ibu jemput kakak
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Marak Hoaks BSU 2026, Kemnaker Sebut Belum Ada Kebijakan Penyaluran
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Cerita Prabowo Setahun Jadi Presiden: Banyak yang Coba Menyogok
• 9 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.