Soft Life: Jalan Perempuan Menjaga Kewarasan

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita
Tentang perempuan yang memilih kedamaian di tengah tuntutan karier dan ekspektasi sosial.

Di tengah dunia yang semakin bising—dengan tuntutan karier, ekspektasi sosial, dan hiruk pikuk media sosial—semakin banyak perempuan memilih jalan berbeda: hidup sederhana dan tenang. Pilihan ini sering dianggap aneh, bahkan dipandang sebagai “kemunduran”. Padahal, kesederhanaan justru bisa menjadi bentuk keberanian. Tekanan sosial terhadap perempuan masih begitu kuat. Ada anggapan bahwa perempuan harus menikah di usia tertentu, segera memiliki anak, lalu tetap tampil sukses di pekerjaan. Standar kebahagiaan seolah ditentukan oleh pencapaian yang bisa dilihat orang lain. Namun, semakin banyak perempuan menyadari bahwa mengejar semua hal sekaligus justru membuat diri kehilangan arah. Kesederhanaan hadir sebagai alternatif. Menikmati hal-hal kecil—secangkir kopi di pagi hari, percakapan jujur dengan teman dekat, atau waktu tenang membaca buku—menjadi cara untuk merawat diri. Hidup sederhana bukan berarti menyerah pada mimpi, melainkan memberi ruang untuk bernapas dan mendengar suara hati. Pilihan ini juga menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya serba cepat. Di era ketika semua orang berlomba menunjukkan pencapaian, hidup tenang adalah cara untuk berkata: “Tidak semua kebahagiaan harus divalidasi oleh keramaian.” Perempuan berhak menentukan ritme hidupnya sendiri, tanpa harus selalu mengikuti ekspektasi orang lain. Tentu, jalan ini tidak mudah. Komentar sinis dan pertanyaan berulang seperti “Kapan menikah?” atau “Kenapa tidak mengejar karier lebih tinggi?” masih sering muncul. Namun, kebahagiaan sejati bukanlah tentang memenuhi standar sosial, melainkan tentang menemukan kedamaian dalam diri. Hidup sederhana dan tenang menjadi cara menjaga kewarasan di tengah dunia yang semakin riuh. Pada akhirnya, setiap perempuan punya hak untuk memilih jalannya sendiri. Ada yang bahagia dengan pencapaian besar, ada yang bahagia dengan kesederhanaan. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Karena kebahagiaan bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan yang paling jujur dengan diri sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hakim Ad Hoc PN Samarinda WO dari Sidang Protes Tunjangan, MA Turun Tangan
• 2 jam laludetik.com
thumb
Ada Bukti Baru Kaitan Pengawet Makanan dengan Peningkatan Risiko Diabetes Tipe 2
• 9 jam lalukompas.id
thumb
GIAR : PP 43 Tahun 2025 Tingkatkan Kredibilitas dan Buka Jalan Karier Akuntan Generasi Z
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Dedi Mulyadi Ungkap PR Besar Jabar di 2026, Sang Gubernur Singgung Masalah Kemiskinan dan Rusaknya Lingkungan!
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Arab Saudi Salurkan Bantuan Makanan dan Dirikan Kamp Pengungsian Baru untuk Warga Gaza
• 15 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.