Saham Logam Nikel hingga Tembaga Melaju Kencang

idxchannel.com
1 hari lalu
Cover Berita

Saham emiten komoditas logam mencatatkan reli di awal 2026, ditopang penguatan harga nikel hingga tembaga di pasar global.

Saham Logam Nikel hingga Tembaga Melaju Kencang. (Foto: PAM Mineral)

IDXChannel – Saham emiten komoditas logam mencatatkan reli di awal 2026, ditopang penguatan harga nikel hingga tembaga di pasar global.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten nikel PT PAM Mineral Tbk (NICL) mencatat kenaikan paling tajam pada Selasa (6/1/2026) dengan melambung 24,75 persen ke level Rp1.840 per saham. Dalam sepekan terakhir, saham NICL bahkan telah terbang 51,44 persen.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Menguat, Saham Chip Melonjak Didorong Optimisme AI

Di posisi berikutnya, saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) melejit 21,52 persen ke Rp960 per saham. Selanjutnya, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menguat 10,17 persen ke Rp1.300 per saham.

Penguatan juga terjadi pada saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang terapresiasi 8,87 persen, disusul PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) yang naik 8,33 persen.

Baca Juga:
IHSG Hari Ini Diprediksi Tembus 8.994, Cek Potensi Cuan Saham FAST-PTBA

Sementara itu, saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) sama-sama melonjak 6,45 persen. Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) tumbuh 5,60 persen.

Di kelompok penguatan terbatas, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 1,77 persen, PT Timah Tbk (TINS) menguat 0,60 persen, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bertambah 0,45 persen.

Baca Juga:
Bersama Nicholas Saputra, Bakti BCA Perkuat Tata Kelola Desa Wisata

Saham emiten penambang tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga melesat 10,71 persen ke Rp7.750 per unit.

Lebih lanjut, saham emiten pemilik smelter aluminium PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mendaki 9,73 persen ke Rp1.805 per unit.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan prospek saham nikel seiring rencana Indonesia sebagai produsen utama dunia untuk memangkas pasokan demi mendorong harga.

Michael mengatakan, kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor nikel. “Saat ini harga nikel LME sendiri sudah menyentuh kenaikan 12-13 persen year to date (YtD),” katanya, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, jika tren kenaikan harga tersebut mampu berlanjut, dampaknya akan terasa langsung pada kinerja keuangan emiten.

Lonjakan Nikel hingga Aluminium

Harga nikel dunia melanjutkan tren penguatan. Pada perdagangan Senin (5/1/2026), harga nikel spot di London Metal Exchange (LME) naik sekitar 1,1 persen ke level USD17.003 per ton.

Kenaikan ini kembali membawa harga nikel ke posisi tertinggi dalam sekitar sembilan bulan terakhir.

Penguatan harga tersebut dinilai sejalan dengan sentimen pasar yang berkembang belakangan ini.

Menurut pemberitaan media, Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, memberi sinyal akan menahan laju pasokan guna menjaga stabilitas harga di pasar global. Wacana pengendalian suplai ini memperkuat ekspektasi pelaku pasar bahwa tekanan oversupply dapat berkurang ke depan.

Sejalan dengan narasi tersebut, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menyampaikan, dikutip Stockbit, pemerintah membuka peluang untuk menurunkan angka produksi bijih nikel nasional pada 2026.

Kontrak berjangka (futures) tembaga melonjak menembus USD6 per pon pada Selasa (6/1), mencetak rekor tertinggi baru di tengah ekspektasi pengetatan pasokan global yang diperkirakan berlanjut tahun ini.

Mengutip Trading Economics, pelaku pasar semakin khawatir pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat memberlakukan tarif baru atas logam olahan.

Kebijakan tersebut berpotensi mengalihkan pengiriman ke AS dan membuat pusat-pusat perdagangan utama, seperti London dan Shanghai, mengalami kekurangan pasokan.

Kenaikan harga juga ditopang prospek permintaan global yang tetap kuat, terutama dari kebutuhan peningkatan jaringan listrik, proyek energi terbarukan, serta ekspansi pusat data.

Selain itu, ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), masih akan melanjutkan pemangkasan suku bunga tahun ini turut memperkuat sentimen risk-on di pasar keuangan global.

Sementara, futures aluminium di Inggris melesat menembus USD3.050 per ton, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, pada Senin (5/1) seiring menguatnya indikasi pengetatan pasokan bagi industri manufaktur.

Mengutip Trading Economics, China, produsen aluminium terbesar dunia, kembali menegaskan prioritasnya untuk mencegah kelebihan kapasitas produksi logam guna meredam tekanan deflasi di sektor manufaktur.

Produksi aluminium China diperkirakan melampaui batas 45 juta ton tahun ini, sehingga memaksa para smelter menahan ekspansi produksi pada 2026.

Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha menjual pasokan yang dibatasi itu ke pasar domestik ketimbang mengekspornya, sehingga volume ekspor merosot 9,2 persen secara tahunan pada November.

Sementara itu, rencana sejumlah smelter China membangun pabrik baru di Indonesia masih menghadapi kendala, terutama akibat tingginya biaya energi serta risiko regulasi di tingkat lokal.

Prospek Sektor Komoditas Logam

Riset JPMorgan yang terbit pada 2 Desember 2025 memaparkan sejumlah katalis yang berpotensi menopang prospek sektor logam Indonesia, di tengah risiko yang masih membayangi kinerja industri ke depan.

JPMorgan menilai katalis positif sektor ini antara lain kenaikan atau stabilnya premi bijih nikel berkadar tinggi, perbaikan permintaan baja nirkarat, penurunan stok di London Metal Exchange (LME).

Selain itu, kebijakan pengendalian pasokan melalui persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang lebih ketat dan laju ekspansi kapasitas aluminium yang lebih lambat dari perkiraan juga dinilai dapat mendukung keseimbangan pasar.

Namun demikian, JPMorgan mengingatkan adanya sejumlah risiko utama.

Di antaranya adalah melambatnya penetrasi kendaraan listrik (EV) serta meningkatnya adopsi baterai LFP yang memiliki kandungan nikel lebih rendah.

Risiko lain datang dari potensi keterlambatan eksekusi proyek HPAL, tekanan harga aluminium apabila pertumbuhan permintaan tidak mampu mengejar pasokan, serta kenaikan harga batu bara dan listrik yang dapat menekan margin industri.

Sementara, riset BRI Danareksa Sekuritas yang terbit pada 18 Desember 2025 memproyeksikan sektor logam masih menawarkan prospek menarik pada tahun fiskal 2026.

Dalam laporan tersebut, BRI Danareksa memperkirakan pertumbuhan laba per saham (EPS) sektor logam dapat mencapai 27 persen pada tahun ini.

Proyeksi positif ini terutama ditopang oleh ekspektasi pertumbuhan volume produksi dari sejumlah proyek baru dan ekspansi yang tengah dijalankan emiten-emiten di sektor ini.

BRI Danareksa menyoroti beberapa perusahaan yang menjadi motor utama pertumbuhan, antara lain PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

Meski demikian, BRI Danareksa mencatat bahwa outlook harga sejumlah komoditas masih cenderung mendatar, khususnya nikel.

Dengan kondisi tersebut, kinerja sektor logam pada 2026 diperkirakan lebih menguntungkan bagi emiten yang memiliki eksposur pada komoditas dengan prospek harga yang relatif lebih solid, seperti emas dan timah. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Densus 88 Ungkap Pemicu Anak Terpapar Konten Kekerasan
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Terbongkar! Sindikat Love Scamming Internasional Beroperasi di Sleman, 6 Orang Ditangkap
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Bank Sentral Peringatkan Daya Saing Ekonomi Thailand Menurun
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Ciri-Ciri Anak Terpapar Ekstremisme Menurut Densus 88
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Para PPPK Siap-siap ya, Ada Penataan Ulang Penempatan
• 5 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.