Liputan6.com, Jakarta - Ahli Kimia Yuwei Gu menilai polusi plastik masih menjadi persoalan lingkungan karena sifat plastik sintetis yang sulit terurai dan bertahan lama di alam.
Kondisi tersebut terlihat di berbagai kawasan, termasuk di Taman Negara Bagian Bear Mountain, Amerika Serikat, tempat botol plastik ditemukan berserakan di jalur pendakian dan perairan sekitar.
Advertisement
Gu menjelaskan, plastik berbasis polimer, yaitu rantai panjang molekul yang tersusun dari unit-unit berulang. Struktur serupa juga terdapat pada bahan biologis seperti DNA, RNA, protein, dan selulosa.
Sebaliknya, kata dia, polimer alami memiliki kemampuan terurai secara alami tanpa menimbulkan penumpukan berkepanjangan.
"Biologi menggunakan polimer di mana-mana, tetapi alam tidak pernah menghadapi masalah akumulasi jangka panjang yang telah kita ciptakan," kata Gu, dilansir laman resmi Earth www.earth.com, Rabu (7/1/2026).
Perbedaan tersebut dinilai terletak pada aspek kimia, khususnya pada cara alam merancang mekanisme penguraian langsung di dalam struktur molekul.
Polimer alami memiliki sifat kimia yang memungkinkan sebagian ikatan molekulnya terurai dalam kondisi tertentu.
Mekanisme ini berperan dalam proses biologis, termasuk daur ulang protein oleh sel serta pemisahan untaian DNA selama replikasi.
Berdasarkan prinsip tersebut, Gu mengkaji penerapannya pada plastik sintetis. Pendekatan ini bertujuan menghasilkan plastik yang tetap kuat selama digunakan, namun dapat terurai setelah masa pakainya berakhir.
Melalui studi terbaru, Gu bersama tim peneliti dari Universitas Rutgers menunjukkan bahwa pendekatan tersebut dapat diterapkan.
Para peneliti menyematkan titik lemah berskala molekuler pada struktur utama polimer tanpa mengubah komponen dasarnya.
"Hasilnya, material yang dikembangkan tetap memiliki daya tahan saat digunakan, tetapi dapat terurai ketika terpapar pemicu lingkungan sehari-hari," papar Gu.



