IHSG Rekor di Awal 2026, Analis Soroti Deretan Saham Potensial

idxchannel.com
1 hari lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di level 8.970,87 pada perdagangan Rabu (7/1/2026) pagi.

IHSG Rekor di Awal 2026, Analis Soroti Deretan Saham Potensial. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di level 8.970,87 pada perdagangan Rabu (7/1/2026) pagi, setelah berulang kali menembus level puncak baru sejak awal pekan ini.

Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, penguatan indeks acuan saat ini masih belum merata.

Baca Juga:
Saham Nikel-Tembaga Cs Reli Lagi, INCO hingga AMMN Terbang

“Kenaikan IHSG masih didominasi oleh sektor energi dan saham-saham konglomerasi,” ujarnya, Rabu (7/1).

Ia menambahkan, pergerakan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan menyeluruh di pasar. “Sementara itu, saham-saham blue chip masih terlihat tertinggal,” kata Michael.

Baca Juga:
Empat Saham Disuspensi Bursa, Dua Emiten Asuransi Masuk Daftar

Michael menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari belum terjadinya pemulihan ekonomi yang signifikan di dalam negeri. Dalam situasi tersebut, kata Michael, investor asing cenderung mengambil posisi yang lebih berhati-hati.

Meski demikian, Michael menyoroti sejumlah saham yang dinilai memiliki potensi teknikal dan sentimen positif dalam waktu ke depan.

Baca Juga:
Berburu Saham Konglomerat, Dua Nama Besar Ini Jadi Sorotan

“Beberapa yang saya soroti seperti RAJA, yang berpotensi menembus angka Rp8.000,” ujarnya.

Selain itu, ia juga melihat peluang lanjutan pada saham sektor energi lainnya. “DEWA berpotensi menembus angka Rp1.000,” kata Michael.

Untuk saham berbasis mineral, Michael menilai prospek MBMA juga cukup menarik, dengan target kenaikan di level Rp900.

Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas menilai ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan perdagangan global masih menjadi risiko utama bagi pasar keuangan sepanjang 2026.

Dalam 2026 Macro Strategy yang terbit 5 Januari 2026, risiko tersebut dinilai berpotensi menekan kepercayaan global dan arus modal lintas negara.

Meski dampak pasar dari isu geopolitik belakangan cenderung berumur pendek, BRI Danareksa menegaskan Indonesia tetap rentan terdampak melalui jalur harga energi, inflasi, dan tekanan fiskal. Selain itu, risiko aliran dana asing keluar, volatilitas rupiah, serta ketahanan neraca eksternal juga menjadi perhatian.

Dalam jangka pendek, eskalasi terbaru yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela disebut sebagai salah satu risiko utama.

Namun sejauh ini, dampaknya terhadap harga minyak global masih relatif terbatas.

BRI Danareksa juga menyoroti potensi January effect pada awal 2026.

Secara historis, reli akhir tahun dan efek Januari di pasar saham Indonesia paling kuat terjadi ketika penguatan Desember bertepatan dengan titik balik makro yang jelas, seperti arah kebijakan yang lebih pasti, awal siklus pelonggaran, atau sentimen eksternal yang positif, seperti pada periode 2015-2016, 2017, dan 2019.

Sebaliknya, ketika penguatan pasar sudah lebih dulu tercermin dalam harga atau hanya ditopang oleh segelintir saham, reli Desember kerap gagal berlanjut ke Januari. Pola ini terlihat pada 2023-2024, dan kondisi saat ini dinilai lebih menyerupai periode tersebut.

BRI Danareksa mencatat window dressing pada Desember 2025 relatif terbatas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 1,6 persen secara bulanan, sementara indeks LQ45 menguat 0,4 persen.

Kinerja akhir tahun yang cenderung datar ini mencerminkan bahwa kenaikan pasar sudah banyak terjadi lebih awal, terutama sejak Juli, dan didorong oleh saham-saham tematik di luar LQ45, bukan perbankan besar.

Meski demikian, BRI Danareksa tetap memandang ekspektasi ekspansi fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif akan menopang pertumbuhan ekonomi serta menjadi penopang aset berisiko sepanjang 2026.

Di sisi lain, ruang Bank Indonesia (BI) untuk kembali memangkas suku bunga dinilai semakin terbatas.

Hal ini membuat dukungan terhadap penurunan imbal hasil obligasi cenderung moderat, kecuali jika arus dana asing kembali menguat.

Ke depan, BRI Danareksa menilai pasar membutuhkan konfirmasi yang lebih jelas terkait pemulihan permintaan domestik untuk mendorong fase risk-on yang baru.

Tanpa katalis tersebut, pergerakan pasar diperkirakan masih bersifat range-bound dengan pola rotasi dan seleksi sektor yang dominan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
18,3 Juta Wisatawan Berkunjung ke Aceh sepanjang 2025
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Flick puas dengan gaya permainan anak asuhnya
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Sudah Dicecar 73 Pertanyaan, Polisi Belum Rampung Periksa Richard Lee
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Sangkaan Ijazah Palsu Dibalas Wagub Babel Tak Ada yang Dirugikan
• 21 jam laludetik.com
thumb
Buruh Demo Geruduk Istana Hari Ini 8 Januari, Tuntut Revisi UMP 2026
• 9 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.