Perjalanan yang sangat panjang mewarnai dinamika perkembangan estetika karya sastra prosa dari satu era ke era yang lain. Pergerakan konsepsi itu sesungguhnya merefleksikan transformasi cara manusia manakala mereka berada pada hakikat posisi dalam memandang realitas, kebenaran, dan dirinya sendiri.
Dari mula kehadiran tradisi lisan dan mitologi yang penuh dengan sajian narasi yang berbalutkan sifat heroik. Lalu, terhidang narasi yang mendeskripsikan fragmen pikiran yang kacau dalam karya sastra modern. Hingga adanya dekonstruksi naratif dan eksperimen bentuk pada era kontemporer.
Dari kesemua itu, patut mendapat catatan, bahwa tiap era mempunyai keunikan “bahasa estetik” masing-masing. Guna kian memahami transformasi konsep estetika itu agaknya kita perlu menelusuri rangkaian sejarah intelektual manusia dalam membentuk gubahan struktur kalimat serta memainkan teknik bercerita. Kita perlu mengenal perkembangan estetika prosa dari satu era menuju ke era berikutnya.
Era Klasik Tradisional
Sebelum abad ke-18, masuk di dalam era Klasik Tradisional. Konsep estetika karya sastra prosa pada era ini begitu menghamba kepada keteraturan, keharmonian, keseimbangan, kontrol pengendalian diri. Memiliki akar yang sulit tercerabut dari prinsip estetik Yunani dan Romawi Kuno. Di Nusantara, manifestasinya mewujud ke dalam estetika pada prosa sastra Melayu Klasik, antara lain hikayat, sejarah keturunan (atau salasilah), kisah, dongeng, dan cerita rakyat.
Awalnya, karya sastra prosa era klasik tidak mendapatkan pemisahan secara tegas dari teks keagamaan. Gagasan estetik yang mengemuka adalah keagungan (grandeur) dan moralitas. Dongeng-dongeng klasik menjadi media untuk mengajarkan hukum moral dengan balutan cerita, sehingga dapat tersampaikan lewat cara-cara yang menarik dan terasa ringan.
Karya sastra prosa klasik mempunyai karakteristik utama estetika baik dalam skala global (klasisme) maupun lokal (Sastra Melayu Klasik), dengan ciri-ciri khas adanya orientasi pada nilai moral dan didaktik. Tujuan utama karya sastra prosa pada era Klasik, salah satunya sebagai wahana pemberian ajaran moral, etik, dan agama kepada para pembaca. Atau, para pendengar ketika seseorang membacakannya di hadapan banyak orang. Cerita lebih menempati fungsi sebagai media edukasi. Di samping ada juga upaya untuk menyuguhkan hiburan.
Struktur Narasi karya sastra prosa di era Klasik relatif mematuhi pola penceritaan yang mapan dan aturan mengikat. Contohnya, konsep plot berakar pada model Aristoteles (384 - 322 Sebelum Masehi), yaitu awal, tengah, dan akhir yang tegas. Suatu struktur tripartit yang menghidangkan kebulatan (unity). Di dalamnya ada tindakan dan tema yang mengantarkan para karakter memasuki jalinan kisah.
Adapun dalam Sastra Melayu Klasik, seperti hikayat, mungkin karena bermula dari tradisi lisan, khalayak pembaca atau pendengar tidak jarang menemukan pemakaian rumusan pola penceritaan berulang. Selain itu, karakterisasi yang stereotipe alias klise, seperti pahlawan yang senantiasa baik perangai dan gagah berani serta musuh yang senantiasa buruk perangai. Plot cerita cenderung linier. Tiga pilar utama cerita, yaitu petualangan, peperangan, dan kisah cinta yang ideal begitu mendominasi.
Pemanfaatan pola-pola yang seolah telah terstandardisasi itu, seperti plot, karakter, ataupun gaya bahasa menghadirkan “kontrak” yang tiada terucapkan penulis (atau pengisah lisan) dengan khalayak audiensnya, untuk tetap menjaga horizon harapan (horizon of expectation) dapat berada dalam rengkuh pemenuhan keinginan mereka.
Dalam konsep teori estetika resepsi sastra, horizon harapan ini merujuk ke arah artian, bahwa khalayak audiens telah mempunyai bentukan harapan, pengetahuan, dan pengalaman membaca atau mendengarkan kisah-kisah hikayat sebelumnya. Bekal ini selanjutnya akan mereka gunakan sebagai kerangka pemahaman untuk mendekati hikayat yang belum mereka sentuh sebelumnya.
Dari sinilah selanjutnya terjadi tindakan untuk memahami, menafsirkan, dan menilai hikayat yang baru tersebut. Jika terjadi kesenjangan harapan dengan kenyataan tekstual yang dibaca atau didengarkan sebelumnya, akan terjadi kesenjangan estetika.
Karya sastra prosa klasik mematuhi pola penceritaan yang mapan dan terstruktur. Ada kesesuaian yang sedemikian ketat pada sistem dan norma penulisan pada era klasik ini. Gaya bahasa yang meramu kisah pun begitu formal, penuh tebaran kuntum-kuntum bunga kata yang indah, dan tentu saja sarat warna arkais (kuno).
Kelok liku bahasa yang terhidang demikian penuh dengan ungkapan tradisional, perumpamaan, dan metafora yang berada dalam rengkuh pengenalan luas masyarakat pada era tersebut. Kejelasan dan ketepatan dalam penulisan pun menerima fokus perhatian. Estetika bahasa pada era ini untuk mengawetkan dan mempertahankan nilai-nilai kolektif.
Karakter utama dalam karya sastra prosa di era Klasik mendapat pendeskripsian serbaideal, mempunyai kesaktian luar biasa, kehebatan, kemukjizatan, dan menempati posisi sebagai repesentasi kepahlawanan dan figur yang menjadi suri teladan. Di samping itu, banyak karya yang anonim. Tidak diketahui secara pasti penulisnya. Realitas ini menunjukkan, hal itu merupakan ekspresi kolektif masyarakat.
Pada ranah Sastra Melayu Klasik, hikayat merupakan genre prosa yang memperlihatkan realisasi kemenonjolannya serta begitu kaya akan kandungan nilai estetika klasik. Sebut saja Hikayat Hang Tuah (akhir abad ke-17). Kisah epik heroik Laksamana Hang Tuah beserta empat kawannya, yaitu Hang Jebat (ada yang menyebut Hang Jabbar), Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu yang merupakan tokoh-tokoh yang hidup pada abad ke-15. Mereka bersama sejak muda belia. Belajar silat, berpetualang, dan menjadi hulubalang di Kesultanan Melaka.
Nilai estetika Hikayat Hang Tuah tampak pada pendeskripsian mengenai idealisme seorang hamba yang begitu kuat menggenggam konsep taat dan setia yang mutlak, keberanian yang penuh pengorbanan, dan kesaktimandragunaan yang acapkali mendapat bumbu unsur mitos dan legenda yang sedemikian terasa.
Adapun bahasa yang hadir sebagai media ekspresi Hikayat Hang Tuah, sebagaimana hikayat lain relatif terstruktur secara formal. Memanfaatkan ragam bahasa istana yang begitu kaya dengan khazanah perbendaharaan kosakata Melayu Kuno. Di dalamnya terdapat cerita berbingkai. Kontennya fokus pada penyampaian ajaran moral mengenai kesetiaan hamba kepada negara dan junjunganya. Serta, adat kesantunan berinteraksi keseharian menurut tatanan hierarki sosial yang berlaku pada masa itu.
Hikayat Hang Tuah ini hadir sebagai teks melalui upaya transkripsi. Bisa jadi merupakan transkripsi edit (clean read) yang menghilangkan gangguan verbal untuk menghasilkan teks layak baca tanpa mengubah makna aslinya. Bisa jadi itulah yang terjadi saat proses penyalinan dari tradisi lisan ke teks tulisan tangan berhuruf Arab gundul (tanpa harakat) atau huruf Jawi. Dan, selanjutnya dari teks berhuruf Jawi ke huruf Latin.
Selanjutnya ada Hikayat Abdullah. Karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1796 - Oktober 1854) ini lahir pada bagian akhir era Sastra Melayu Klasik (Tradisional). Secara historis, dominasi anonimitas penulis begitu tampak. Jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah, ada penulis di masa itu yang menyebutkan namanya secara eksplisit di dalam teks.
Dan, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi melakukan terobosan inovatif luar biasa berkat keberaniannya menempatkan diri sebagai subjek karakter utama dan sekaligus menjadi penulis dalam karya monumentalnya itu. Hikayat Abdullah rampung dari tangan penggarapannya pada 1840-an. Hikayat autobiografis ini mengawetkan perjalanan hidup, pengamatan, dan pengalaman sang penulis, termasuk lawatan ke Kelantan dan Trengganu.
Penyebutan nama diri dalam judul karya sendiri, menegaskan klaim kepenulisannya dan fokus pengisahan dirinya sebagai individu (autobiografi). Realitas ini boleh terkatakan sangat kontras dengan karya hikayat di era itu dengan judul yang terkait dengan nama tokoh legendaris.
Seperti Hikayat Hang Tuah atau Hikayat Amir Hamzah (penyaduran dari karya sastra Persia Qissa-i Amir Hamzah ke bahasa Melayu menurut perkiraan pada abad ke-14). Hikayat yang tersebut belakangan ini dari Islam-Persia yang mengisahkan perjuangan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala berdakwah agama Islam dari Masyrik ke Magrib.
Inovasi Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi ini juga bersamaan dengan pemakaian gaya bahasanya yang lebih realistis dan kritis terhadap masyarakat Melayu pada saat itu. Oleh karenanya, Hikayat Abdullah menempatkan posisi eksistensinya sebagai jembatan penting Sastra Melayu Klasik dengan era berikutnya karena telah memasukkan unsur realisme dan pandangan pribadi.
Meskipun demikian, fondasi estetika Hikayat Abdullah masih berakar pada tradisi kisah dan riwayat, melalui pengaksentuasian pada pencatatan kejadian secara terinci (walaupun masih dengan gaya bahasa yang relatif terikat) dan fungsi edukasi dari pengalaman perjalanan.
Pendek kata, secara keseluruhan, konsep estetika karya sastra prosa di era Klasik cenderung mengandalkan keteraturan naratif, kemurnian moral, dan keindahan bahasa yang formal. Karya-karya ini membangun fondasi bagi ekspresi sastra di masa yang lebih kemudian.
Daya inspirasi yang terpancar dari bentuk narasi klasik ini, bahkan masih menanamkan pengaruhnya sebagaimana kelihatan menampak dalam karya-karya awal prosa modern Indonesia, seperti Novel Sitti Noerbaja (1922).
Era Romantisisme
Pada era Romantisisme (Romanticism) dari abad ke-18 hingga awal abad ke-19, konsep estetika karya sastra prosa mengalami pergeseran fundamental dari penitikberatan untuk rasio dan keteraturan era Renaisans sebelumnya, menuju ke perhatian yang sangat berharga terhadap emosi, imajinasi, individualisme, dan alam.
Estetika menjadi suatu cara pandang baru yang mengolaborasikan seni dan keindahan merasuk ke seluruh sendi-sendi kehidupan manusia. Ada reaksi penolakan terhadap batasan demi batasan yang kaku dari neoklasisme, sehingga yang mengemuka adalah ekspresi subjektif yang berkesan lebih personal dan individual.
Salah satu ciri utama konsep estetika karya sastra prosa Romantisisme, yaitu menekankan pada emosi dan subjektivitas intens. Inilah yang menurut para penganutnya menjadi sumber pengalaman estetis yang valid. Sekaligus merupakan antitesis frontal terhadap pandangan yang fokus pada objektivitas dan logika.
Karya sastra prosa Romantisisme lebih berani mengeksplorasi spektrum emosi manusia yang jembar. Mulai dari jamahan asmara yang meruntuhkan kekokohan dinding jiwa. Kesedihan yang begitu mencabik-cabik hingga tak menyisakan sedikit pun tempat untuk harapan. Kengerian yang sedemikian mengaduk-aduk hati dengan tikaman teror tanpa henti. Hingga, suatu perasaan yang terbangkitkan dari kekaguman luar biasa.
Pengeksplorasian tersebut bertujuan untuk menyentuh emosi khalayak pembaca hingga palung hati terdalam. Keindahan adalah fokus utama yang dirasakan. Tidak hanya dipahami dengan pikiran semata. Konsep estetika ini juga merayakan ekspresi individu dan pengalaman subjektif mereka. Pada era ini, prosa bersifat sangat personal.
Para karakter utama yang acapkali tampil merupakan sosok sensitif, pemberontak, atau terisolasi. Sepak terjang tindakan mereka hanya berdasarkan dorongan keinginan dan intuisi (bisikan hati) mereka.
Kadang kala berlawanan dengan ekspektasi logis masyarakat. Para penulis tidak segan mengekspresikan diri mereka secara sadar dan mengintrospeksi diri mereka melalui karya-karya yang mengagungkan emosi dan subjektivitas intens.
Para penulis era Romantisisme memercayai, imajinasi merupakan kekuatan kreatif paling tinggi yang mendorong pemungkinan bagi mereka mengungkapkan kebenaran lebih mendalam. Menurut mereka, hal ini lebih berpeluang menemukan efek positif daripada lewat penalaran logis semata.
Berlainan dari aturan baku neoklasik, karya sastra prosa Romantisisme menaruh penghargaan yang tinggi terhadap spontanitas dan orisinalitas visioner. Imajinasi berada dalam tangkapan pandang sebagai kemampuan mempersatukan visi yang terfragmentasi dari dunia industri. Serta, menghadirkan realitas alternatif yang begitu penuh dengan simbolisme dan makna.
Kepingan elemen supernatural, misteri, dan eksotisme acapkali muncul dalam karya sastra prosa era Romantisisme, teristimewa dalam genre novel gotik yang menunjukkan tren perkembangan positif pada waktu itu. Sisi inilah yang berperan serta dalam upaya pengeksplorasian sisi gelap psikologis manusia dan alam yang tiada terkendali. Ada semacam penolakan penjelasan rasional yang sahaja.
Posisi sentral dalam konsep estetika Romantisisme, yaitu pemujaan terhadap keagungan alam. Fungsinya sebagai sumber kebenaran spiritual, inspirasi, dan proteksi dari dunia industri yang kian mekanis.
Di samping itu, alam juga menjadi cerminan jiwa. Pendeskripsian alam secara hidup dan terinci, seperti lanskap yang belum terjamah dan liar, merefleksikan suasana hati atau kondisi psikologis karakter. Ada keyakinan, bahwa alam adalah pantulan jiwa manusia.
Penganut Romantisisme jatuh hati pada konsep sublime. Suatu perasaan campur aduk antara kekaguman, kengerian, dan ketakjuban yang sedemikian mendalam manakala berhadapan dengan kekuatan alam yang luar biasa, seperti badai di laut atau gunung yang menjulang tinggi. Gamitan pengalaman yang sedemikian berada dalam jangkau raihan anggapan yang murni dan autentik, sehingga menimbulkan pengalaman estetik yang sedemikian tegas.
Karya sastra prosa Romantisisme, gaya penulisannya tidak lagi dengan formalisme kaku dan kalimat seimbang, tetapi lebih fleksibel, personal. Dan, tidak jarang memasukkan pesona liris. Para penulisnya menggunakan bahasa yang indah dan metaforis untuk menggugah emosi khalayak pembacanya. Dan, tentu saja bukan sekadar secara objektif menyampaikan informasi narasinya.
Pada umumnya karya sastra prosa di era Romantisisme telah mengalami proses demokratisasi lewat upaya menjangkau khalayak pembaca yang lebih luas. Sebagian dari upaya ini memperoleh kemudahan akses berkat peningkatan distribusi buku sebagai dampak biaya cetak yang mengalami penurunan. Dengan demikian, buku dapat menjangkau orang kebanyakan (common man). Dan, mulai dapat menghindari ketergantungan pada patronase kaum bangsawan.
Boleh terbilang, konsep estetika karya sastra prosa di era Romantisisme, pada hakikatnya merupakan pemberontakan artistik yang menempatkan hati di atas kepala, perasaan di atas logika, dan individu di atas masyarakat. Konsep estetika bukan tiruan realitas yang rapi (mimesis), melainkan ekspresi visioner dari gejolak jiwa kreatif para penulis. Sebuah bentuk kehidupan yang berkelok liku dengan intervensi kebahagiaan dan kesedihan silih berganti.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa karya sastra prosa di era Romatisisme memanfaatkan bahasa yang meluap-luap, penuh gairah, dan tidak jarang mendramatisasi penderitan individu. Terkadang hadir pemujaan terhadap keindahan alam yang liar sebagai eskapisme dari sergapan industrialisasi yang kian mengusik kenyamanan mereka. Estetikanya terletak pada “keindahan yang menyakitkan”.
Karya sastra prosa era Romantisisme di Barat (Eropa dan Amerika), sebut saja Novel The Sorrows of Young Werther (Die Leiden des Jungen Werther) (1774) karya sastrawan Jerman Johann Wolfgang von Goethe (28 Agustus 1749 - 22 Maret 1832).
Novel epistolari (surat-menyurat) ini mengisahkan tentang cerita asmara penuh tragedi lelaki muda, Werther, yang sensitif dengan gadis jelita, Charlotte, yang telah bertunangan dengan Albert. Novel ini mengeksplorasi tema emosi yang mengharu biru, kesepian, dan keputusasaan yang mendorong pada tindakan melankolis dan fatalistik.
Novel ini konon semiautobiografi dan merupakan pilar utama Romantisisme yang banyak memberikan warna pengaruh terhadap sastra dan budaya dalam hamparan cakupan nan luas.
Lalu ada novel gotik Frankenstein (1818) karya sastrawati Britania Raya Mary Wollstonecraft Shelley (30 Agustus 1797 - 1 Februari 1851). Mengisahkan tentang karakter ilmuwan Victor Frankenstein yang menciptakan makhluk hidup dari bagian tubuh mayat. Salah satu cikal bakal fiksi ilmiah.
Novel ini mendudah tema ambisi manusia yang melewati batas alam, isolasi sosial, dan pertanggungjawaban tragis dari kekuatan ilmu yang tidak terkontrol. Sang novelis memanfaatkan atmosfer gelap dan melankolis sebagai upayanya mengaksentuasikan kembara derita batin makhluk hidup ciptaannya, Frankenstei, yang mendapat pronomina creature atau fiend itu.
Selanjutnya ada Novel Wuthering Heights (1847) karya sastrawati Britania Raya Emily Jane Brontë (30 Juli 1818 - 19 Desember 1848). Merupakan perwujudan sempurna dari emosi yang daya ledak serta relasi manusia dengan alam liar.
Hubungan antara karakter Heathcliff dan Catherine melambangkan cinta yang destruktif dan melampaui norma sosial. Hubungan keduanya seolah mewakili penggambaran tentang latar belakang tebing-tebing Yorkshire yang suram dan sering mesti berkarib dengan terjangan badai.
Kemudian patut memperoleh penyebutan, yaitu The Hunchback of Notre-Dame (1831) oleh sastrawan Prancis Victor-Marie Hugo (26 Februari 1802 - 22 Mei 1885). Novel ini menjadi contoh utama yang mengombinasikan dengan padu antara sejarah dan drama emosional yang intens. Hugo memanfaatkan arsitektur gotik katedral untuk mewadahi simbol jiwa manusia. Dan, mendudah ketidakadilan sosial lewat karakter Quasimodo yang terisolasi.
Seterusnya patut memperoleh pengedepanan, The Scarlet Letter (1850) karya sastrawan Amerika Serikat Nathaniel Hawthorne (4 Juli 1804 - 19 Mei 1864). Merepresentasikan Romantisisme Amerika, novel ini berkubang pada fokus kecamuk konflik moral, rasa bersalah, dan penebusan dosa di lingkungan masyarakat puritan. Hawthorne menegaskan lewat pengalaman kejiwaan individu para karakter dan simbolisme kuat.
Tidak ketinggalan Ivanhoe (1819) karya sastrawan Skotlandia Sir Walter Alva Scott (15 Agustus 1771 - 21 September 1832). Melalui karyanya ini, dia memopulerkan novel sejarah yang begitu sigap meromantisasikan abad pertengahan dengan karakter kesatria, turnamen, berikut kode etik untuk menjaga kehormartan. Buah penanya ini turut membentuk penegakan identitas nasional dan rasa kebanggaan terhadap masa lalu lewat kemegahan suatu narasi prosa.
Di khazanah karya sastra prosa Indonesia Modern, kita juga bisa menemukan sejumlah novel yang masuk ke dalam kategori Romantisisme ini. Sebut saja Sitti Noerbaja (1922) karya Marah Rusli (7 Agustus 1889 - 17 Januari 1968). Karya sastrawan Angkatan Balai Pustaka ini merupakan contoh paling ikonik.
Mengisahkan konflik cinta nan tulus (Sitti Noerbaja dan Samsoelbahri) dengan kekuasaan adat dan keserakahan (Datoek Meringgih). Luapan emosi yang bertumpuk dengan penyelesaian yang berselimut tragedi memperlihatkan adanya pengaruh estetika Romantisisme.
Demikian pula dengan Novel Salah Asoehan (1928) dari Abdoel Moeis (3 Juli 1886 - 17 Juni 1959). Karyanya ini merekam benturan konflik identitas dan isolasi individu yang terjerat di antara budaya Barat serta Timur. Karakter Hanafi yang menggenggam gejolak batin yang penuh derita dan kegagalan kehidupan asmaranya membentuk melodi melankolis di hatinya berbaur dengan pemberontakan individu khas Romantisisme.
Dan, tentu saja masuk ke dalam hitungan kriteria ini Novel Tenggelamnja Kapal Van der Wijck (1939) dari Hadji Abdoel Malik Karim Amroellah/HAMKA (17 Februari 1908 - 24 Juli 1981). Novel ini begitu kental dengan sentuhan Romantisisme yang beruraikan religiusitas dan deraian emosi begitu kuat. Deskripsi alam yang liris dan pengedepanan derita batin karakter utama Zainoeddin yang berujung tragedi menjadi tema yang lazim melekat pada karya Romantisisme.
Era Realisme dan Naturalisme
Konsep estetika karya sastra prosa pada era Realisme dan Naturalisme (abad ke-19), yaitu untuk merepresentasikan kehidupan nyata atau riil. Akan tetapi, keduanya menggunakan sentuhan pendekatan filosofis dan stilistik yang berlainan secara subtil (tidak mencolok) tetapi krusial (penting).
Konsep estetika Realisme dalam karya sastra prosa bertolak dari kehendak untuk menghidangkan “keadaan sebagaimana adanya” (as it actually existed). Fokus utama tertuju pada representasi kebenaran objektif tentang kehidupan keseharian. Karakter-karakter yang berada di dunia narasi adalah sosok yang biasa-biasa saja. Tidak jarang berasal dari kelas sosial menengah dan bawah.
Konsep estetika Realisme menampik subjek karakter yang fantastis (tidak seperti yang nyata), supernatural (ajaib), atau sangat emosional yang lazim muncul dalam karya sastra Romantisisme. Akan tetapi, estetika dalam Realisme menemukan wujudnya dalam keakuratkan pendeskripsian peristiwa yang sangat mungkin dapat berlangsung dalam kehidupan riil.
Wilayah cakupannya dapat merambah ke dalam percakapan sehari-hari. Bisa pula merupakan penggambaran latar kehidupan urban. Bisa juga dengan menebarkan pengamatan secara terfokus terhadap isu-isu kontemporer, meliputi pernikahan, pekerjaan, atau pendidikan.
Para penulis yang mengarahkan kiblat anutannya pada Realisme berupaya keras dengan sekuat tenaga menjaga jarak yang netral atau bersikap simpatik terhadap karakter dan peristiwa narasi yang mereka deskripsikan. Kemudian menghindari evaluasi moral dengan eksplisit atau intervensi emosinya.
Konsep estetika Realisme sedemikian menaruh penghargaan terhadap narasi yang tidak memihak. Ada keleluasaan yang seluas-luasnya bagi khalayak pembaca guna menarik kesimpulan mereka sendiri berlandaskan bukti-bukti yang terhidangkan di dalam tubuh teks.
Sastrawan Amerika Serikat William Dean Howells (1 Maret 1837 - 11 Mei 1920) merupakan salah seorang penulis novel Realisme yang menjadi pendukung utama pendekatan ini. Novel karyanya, The Rise of Silas Lapham (1885), mengeksplorasi secara mendalam mobilitas sosial, ambisi materialistis, dan integrasi moral di Negeri Paman Sam setelah Perang Saudara (1861- 1865) atau Gilded Age.
Novel ini mengisahkan dengan begitu cermat dan terinci sang karakter utama, Silas Lapham, yang sukses membangun bisnis cat dari nol. Bermula dari temuannya deposit cat di tanah pertanian keluarganya di Vermont. Berkat kerja keras dan keuletannya, Silas sukses membangun kerajaan bisnis cat yang menjadikannya berkelimpahan harta.
Setelah menjadi orang kaya, kemudian Silas dan keluarganya pindah ke Boston. Dia membangun rumah mewah di kawasan Back Bay, walaupun sesungguhnya dia dan keluarganya merasa canggung berada di lingkungan elite tersebut. Tak urung konflik kelas dan interaksi mewarnai pergaulan keluarga Silas dengan lingkungan barunya.
Dalam perjalanan kisah selanjutnya, Silas mengalami rangkaian kegagalan investasi. Tambahan lagi ada musibah kebakaran rumah barunya yang masih dalam proses pembangunan. Dan, ternyata belum diasuransikan sepenuhnya.
Di ambang kebangkrutan, Silas sebetulnya mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan kekayaannya dengan menjual properti yang nyaris sudah tidak berharga lagi kepada investor asing lewat cara yang menghalalkan penipuan.
Akan tetapi, melalui pergulatan batin yang begitu intens, Silas Lapham memilih untuk berlaku jujur dan tidak jadi mengeksekusi transaksi yang penuh tipu muslihat itu. Akibatnya, dia kehilangan harta kekayaannya.
Penggunaan kata rise (kebangkitan) pada judul novelnya, agaknya lebih terarah pada kebangkitan moral. Silas telah bangkit ke tingkat kualitas kemanusiaannya yang lebih bermartabat.
Sebagaimana Silas Lapham, karakter dalam karya sastra prosa Realisme acapkali memperoleh penggambaran sebagai sosok yang masih berkemampuan untuk menetapkan pilihan moral dan mengendalikan nasib mereka hingga taraf tertentu.
Para karakter itu dapat bertumbuh dan berkembang dan tidak jarang ada secuil harapan yang tersisa. Bahwa masyarakat bisa menjadi lebih baik dengan pemahaman yang lebih konstruktif mengenai kondisinya.
Sekarang giliran pembahasan tentang konsep estetika Naturalisme. Hadir sebagai ekstensi, perluasan, yang lebih radikal dan ekstrem daripada Realisme. Mengaplikasikan pendekatan yang lebih “ilmiah” terhadap karya sastra (termasuk genre prosa).
Ada dominasi pandangan determinisme. Tiap tindakan atau kejadian adalah konsekuensi dari tindakan atau kejadian sebelumnya. Dan berada di luar kemauan.
Sering kali ada pula pandangan pesimisme. Memandang segala sesuatu dari sisi keburukannya semata. Konsep estetika karya sastra prosa juga melihat manusia sebagai makhluk yang ketentuan nasibnya berdasarkan kekuatan biologis, sosial, dan ekonomi yang berada di luar kendali mereka.
Berpijak dari pengaruh teori Charles Darwin (12 Februari 1809 - 19 April 1882), tentang seleksi alam dan perjuangan untuk bertahan hidup, serta gagasan determinisme lingkungan, konsep estetika Naturalisme mengarahkan fokusnya kepada para karakter korban keadaan. Manusia acapkali digambarkan sebagai human beasts yang didorong naluri dasar dan lingkungan keras.
Konsep estetika karya sastra prosa Naturalisme tidak hanya tentang kehidupan keseharian. Akan tetapi, secara khusus menyoroti aspek-aspek yang lebih suram, brutal, dan tabu dari eksistensi manusia. Tema-tema buram seperti kemiskinan ekstrem, kekerasan, penyakit mental, dan dorongan aksi fisik yang tidak terkontrol dalam rengkuh pengendalian sering kali hadir sebagai persembahan narasi.
Dalam hal objektivitas, ada kemiripan antara konsep estetika Naturalisme dan Realisme. Pada realisasinya, Naturalisme merebut pendekatan yang lebih berjarak lagi dengan penyikapan hampir “klinis” atau ada rentang jarak tegas bahkan terpisah dari penderitaan karakter.
Deskripsi yang masuk ke dalam realisasi penggunaan cenderung lebih eksplisit dan grafis. Tujuannya semata demi melahirkan keakuratan “fotografis” yang memperlihatkan realitas brutal tanpa penghalusan estetika. Hampir tidak ada kompromi dengan idealisasi. Untuk tujuan presentasi fakta mentah semata.
Letak pembeda utama konsep estetika keduanya ada pada entitas filosofis yang berlainan mengenai sifat realitas dan kehendak bebas manusia. Realisme mencoba menjawab pertanyaan “Bagaimana keadaan sebenarnya?”. Di sini ada kemungkinan pilihan moral dan potensi perbaikan sosial.
Sementara itu, Naturalisme berupaya menjawab pertanyaan “Mengapa keadaan menjadi seperti itu?”. Menegaskan penekanan bahwa manusia merupakan produk tidak berdaya dari biologi dan lingkungan mereka. Dengan pandangan yang tidak jarang suram mengenai takdir mereka.
Baik Realisme maupun Naturalisme dalam karya sastra prosa menyodorkan cara pandang estetika yang kaya dan kompleks dengan fokus pada kebenaran dan realitas, serta mengambil rentang jarak yang relatif jauh dari fantasi romantis. Realisme mendapati estetika lewat representasi kehidupan keseharian yang seimbang dan objektif dengan sedikit harapan.
Sementara itu, Naturalisme meraih estetikanya dalam keakuratan yang bernada ilmiah dari sisi kehidupan yang paling keras dan brutal. Pandangan pesimistis mengenai suratan nasib nasib manusia tidak jarang mengada sebagai hal yang tidak terhindarkan.
Sastrawan Prancis Émile Zola (2 April 1840 - 29 September 1902) merupakan tokoh penting Naturalisme. Novel Nana (1880) adalah bagian kesembilan dari seri 20 novel Les Rougon-Macquart.
Melantunkan kisah kehidupan Nana Coypeau, dari kupu-kupu malam kelas jalanan hingga tampil sebagai bagian dari sosialita kelas atas di Paris. Narasi ini melambangkan korupsi moral dan kehancuran sosial lewat hasrat destruktifnya terhadap para lelaki yang memiliki kekuasaan berpengaruh.
Poin inti ceritanya, Nana memainkan kecantikannya dan kemampuannya menggugah hasrat seksual para lelaki kaya dan berkuasa. Dia meluluhlantakkan dan menaklukkan mereka secara finansial dan emosional. Sepak terjang Nana dan para lelaki yang menggunakan jasanya itu menyimbolkan dekadensi masyarakat di sana pada masa itu.
Ini menyentuh tema mengenai eksplorasi seksualitas, kekuasaan, ambisi, dan kemerosotan moral. Dipungkasi dengan konsekuensi tragis bagi Nana dan orang-orang di sekelilingnya.
Dalam pada itu, sesama sastrawan Prancis lainnya, Gustave Flaubert (12 Desember 1821 - 8 Mei 1880), hadir dengan karya perdana dan sekaligus monumentalnya Novel Madame Bovary (1856). Karya penting dalam gerakan Realisme ini mengkritik dengan tajam kehidupan borjuis di lingkungan perdesaan.
Cerita ini mengenai Emma Rouault. Perempuan yang begitu mendambakan kehidupan penuh gairah serta kemewahan sebagaimana tersaji dalam novel-novel romantis yang menjadi lahapan bacaannya di waktu senggang.
Akan tetapi, dalam perjalanan kisahnya kemudian, Emma Rouault memasuki kehidupan pernikahan dengan Charles Bovary (dan karena itu dia kemudian mendapat sebutan Madame [Nyonya] Bovary), yang hambar dan menjemukan.
Charles Bovary menurut deskripsi Flaubert, sebenarnya lelaki berprofesi dokter ini baik, tulus, dan mencintai istrinya. Sayang, dia membosankan. Oleh karena itu, Emma pun kemudian terlibat dalam skandal perselingkuhan dengan sejumlah lelaki.
Dalam novel ini, Flaubert benar-benar menghasilkan karya dari hasil studi mendalam soal bahaya romantisme yang tidak realistis serta ketidakpuasan borjuis. Lalu eskapisme pengejaran kebahagiaan lewat sumber eksternal, seperti kekayaan, kemewahan, dan perselingkuhan. Semua itu hanya akan menimbulkan kebohongan, beban utang, dan tragedi memilukan.
Novel ini agaknya hendak mengomentari soal ekspektasi sosial, peran perempuan, berikut jurang pemisah antara fantasi dan realitas. Dan, Flaubert tersohor dengan prinsip le mot juste (kata yang tepat). Konsep estetika prosa terpenuhi melalui ketepatan diksi untuk mendeskripsikan realitas sosial.
Merangkak ke medio abad ke-19, konsep estetika karya sastra prosa, bergeser dengan radikal menuju ke objektivitas. Para penulis pun kemudian memotret kehidupan “apa adanya” tanpa hiasan bahasa yang bisa mengaburkan realitas apabila berlebihan.
Adapun ciri khas estetikanya, yaitu pemakaian detail yang mikroskopis (rincian sekecil-kecilnya). Estetika tidak lagi diarahkan pencariannya pada hal-hal yang indah semata. Namun, juga dalam kemiskinan, keburukan, dan rutinitas kelas menengah.
Semua itu terekspresikan dengan ramuan gaya bahasa yang transparan. Seolah khalayak pembaca dapat melihat secara langsung dunia riil lewat kaca jendela yang jernih bening.
Pangeran Lev Nikolayevich Tolstoy atau yang lebih beken dengan nama pena Leo Tolstoy (9 September 1828 - 20 November 1910). Sastrawan Rusia ini melalui Novel Anna Karenina (1877). Kisah wanita bersuami dan terikat perkawinan suci. Namun, kemudian dia tercebur ke dalam skandal perselingkuhan yang penuh gairah dengan bangsawan, Count Vronsky.
Ketajaman wawasan psikologis yang menjadi spektrum kegeniusan seorang Leo Tolstoy menempatkan novel ini pada kedudukan terhormat dalam blantika kesastraan dunia. Demikian pula dengan kemampuannya menghadirkan karakter yang kompleks. Berikut kepiawaiannya melakukan eksplorasi yang menyayat hati tentang kegundahan asmara.
Juga perihal moralitas dan pendeskripsian mengenai konsekuensi harapan sosial yang menindas. Lewat Anna dan sederet karakter lainnya, Leo Tolstoy mendudah dengan begitu apik kemunafikan kalangan aristokrat. Serta, kisah tentang perjuangan individu untuk menemukan makna kehidupan yang hakiki di lingkungan sosial yang sarat dengan penghakiman.
Dapat dicatat pula sastrawan Britania Raya Charles John Huffam Dickens atau yang lebih familier dengan nama Charles Dickens (7 Februari 1812 - 9 Juni 1870. Salah satu novelnya yang menjadi buah bibir popularitas, yaitu Oliver Twist. Di sini, ada kritik sosial terhadap kemiskinan, sistem panti asuhan, dan kejahatan di Britania Raya pada abad ke-19.
Karakter protagonis novel ini sama dengan judulnya. Oliver Twist. Anak yatim piatu, polos, baik hati, dan jujur. Banyak menghadapi kesulitan dan penindasan. Meskipun demikian, dia tetap menjaga diri dengan moral kebaikan. Simbol kebaikan tulus yang berupaya dengan tenaga perjuangan melawan kejahatan di lingkungan sosial yang korup.
Kendatipun acapkali menderita eksploitasi dari karakter antagonis yang jahat seperti Fagin beserta gengnya, dengan jiwa yang kokoh Oliver Twist tetap menolak untuk ikut-ikutan menjadi jahat. Kebaikan jiwa itu tertangkap oleh Tuan Brownlow, bujangan paruh baya, kaya dan terpelajar serta baik hati itu. Awal pertemuan terjadi, saat Oliver Twist masih bersama geng Fagin.
Saat itu Brownlow mengira Oliver Twist telah mencopetnya. Belakangan terbukti tudingan itu tidak benar. Brownlow melihat adanya kebaikan pada diri anak lelaki yang berusia di kisaran sembilan hingga dua belas tahun itu. Kemudian dia memutuskan untuk mengajaknya pulang. Dan, merawat dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
Perlakuan Brownlow terhadap Oliver Twist sangat kontras dengan keberingasan dan kekejaman yang dia alami manakala berada di panti asuhan dan saat bergabung dengan geng pencuri dan pencopet di bawah kekuasaan Fagin. Pada bagian akhir novel terkuaklah misteri identitas Oliver Twist. Ternyata dia putra bangsawan kaya bernama Edwin Leeford (teman baik Brownlow) dan ibunya, Agnes Fleming, yang meninggal dunia setelah melahirkannya.
Kakak tiri Oliver Twist, yaitu Edward “Monks” Leeford, saudara satu ayah, merupakan penjahat misterius yang bersekongkol dengan Fagin, untuk menyembunyikan identitas Oliver Twist yang sesungguhnya. Monks berniat untuk melenyapkan adik tirinya itu, karena khawatir akan memenuhi syarat dalam surat wasiat ayah mereka, Edwin Leeford, dan merebut warisan yang semestinya menjadi miliknya.
Pada bagian akhir novel, setelah selubung misteri itu terkuak, dan terbukti bahwa Oliver Twist ternyata bermarga Leeford dari lingkungan bangsawan yang berada, Brownlow secara resmi mengadopsi sebagai putra angkatnya karena Edwin Leeford, sahabat dekatnya itu, juga sudah meninggal dunia.
Dengan status Brownlow sebagai ayah angkatnya, Oliver Twist kemudian mendapatkan kehidupan yang layak, pendidikan, dan masa depan cerah. Tentu saja tidak ketinggalan, curahan kasih sayang tulus dari Tuan Brownlow.
Era Modernisme
Akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 disebut era Modernisme. Karya sastra prosa menjadi sangat eksperimental. Pusat gagasan estetiknya terletak pada fragmentasi, psikologi kedalaman, dan ketidakpastian. Para penulis memandang realitas tidak lagi linier seusai Perang Dunia I. Mereka pun kemudian mendestruksi struktur alir tradisional.
Teknik arus kesadaran (stream of consciousness) pun tampil mengemuka. Karya sastra prosa kemudian mengamini aliran pikiran manusia, penuh lompatan, dan subjektif. Contohnya sastrawati Britania Raya Adeline Virginia Woolf (25 Januari 1882 - 28 Maret 1941) atau yang lebih akrab terdengar di kalangan pencinta sastra dengan nama Virginia Woolf melalui Novel Mrs. Dalloway (1925) .
Atau, sastrawan Prancis Valentin Louis Georges Eugène Marcel Proust (10 Juli 1871 - 18 November 1922) yang karib di kalangan pencinta sastra dengan Marcel Proust lewat Novel Search of Lost Time (1913 -1927 terdiri atas tujuh jilid). Konsep estetika karya sastra prosa di sini bukan lagi mengenai peristiwa di luar diri manusia, melainkan mengenai bagaimana waktu dan memori bekerja di dalam benak manusia.
Konsep estetika karya sastra prosa pada era Modernisme merupakan antitesis yang menandai penolakan radikal terhadap tradisi Realisme, Naturalisme, dan Romantisisme. Fokus utama tampak pada eksperimentasi bentuk, penangkapan pengalaman subjektif, dan otonomi karya sastra lewat kredo seni untuk seni.
Kelahiran era Modernisme mendapat dorongan dari keinginan para penulis pada era ini untuk “membuatnya baru” (make it new). Sastrawan Amerika Serikat Ezra Loomis Pound (30 Oktober 1885 - 1 November 1972) menggaungkan hal itu, sebagai wujud respons terhadap fragmentasi dan disorientasi yang begitu terasa selepas Perang Dunia I.
Konsep estetika karya sastra prosa era Modernisme, salah satu pilarnya adalah keraguan yang kuat terhadap gagasan Realisme, bahwa narator mahatahu dapat mendeskripsikan realitas eksternal secara objektif. Para penulis penganut Modernisme banyak yang mendapat pengaruh Psikoanalisis dari Sigmund Freud (6 Mei 1856 - 23 September 1939), kemudian beralih ke eksplorasi dunia batin dan ketidaksadaran manusia.
Konsep estetika karya sastra prosa era Modernisme mengaksentuasikan pandangan, bahwa “kebenaran” mempunyai sifat yang personal dan subjektif. Berpijak dari sini, ada upaya serius untuk menangkap cara individu mengalami dan memahami dunia. Bukan sebatas mengemas realitas eksternal secara rapi dengan bantuan narator mahatahu.
Guna menggapai tujuan tersebut, mereka ramai-ramai meninggalkan alur cerita linier yang berstruktur awal, tengah, dan akhir. Sebagai penggantinya, mereka memanfaatkan teknik arus kesadaran (stream of consciousness) yang populer di tangan Virginia Woolf. Di samping itu juga sastrawan Irlandia James Augustine Aloysius Joyce atau yang lebih menancap di ingatan pencinta sastra sebagai James Joyce (2 Februari 1882 - 13 Januari 1941)
Mereka menghidangkan pikiran, perasaan, dan ingatan karakter. Tidak terputus, acapkali kelihatan acak dan kurang logis, mengikuti cara kerja pikiran manusia yang sesungguhnya.
Selain itu, mereka juga memanfaatkan teknik naratif terfragmentasi (fragmented narratives). Penghidangan cerita dalam potongan demi potongan yang terputus, kilas balik, atau perubahan perspektif yang mendadak (abrupt). Atau, mendorong khalayak pembaca untuk dengan aktif dan mandiri. Merefleksikan rasa dislokasi serta fragmentasi dunia modern.
Konsep estetika Modernisme juga mengokohkan pandangan mengenai otonomi seni melalui kredo “seni untuk seni” (art for art’s sake) dan meletakkannya jauh-jauh dari intervensi fungsi sosial, politik, atau wahana penyampaian pesan moral secara didaktis.
Kredo di atas menegaskan keyakinan bahwa seni seharusnya memperoleh penghargaan karena keindahannya yang intrinsik. Bukan karena tujuan moral atau kegunaannya. Para penganut Modernisme menampik tegas Realisme "kasar" yang hanya mengimitasi kehidupan riil secara langsung.
Bagi penulis dari kalangan Modernisme, bentuk (form) menempati ranah peran yang lebih penting daripada isi (content). Gaya atau bentuk bukan sempadan hiasan yang menyertai subjek seni. Melainkan, cara mengubah subjek materi menjadi seni. Melakukan eksperimen pada bentuk, dalam hal ini struktur kalimat atau wacana, menjadi wilayah garapan signifikan karena merupakan tujuan estetik utama.
Karya sastra prosa Modernisme memberikan tempat yang luas untuk karakterisasi yang kompleks dan ambigu. Mengambil jarak perlainan dengan karakterisasi hitam-putih, prosa Modernisme menampilkan karakter yang kompleks, terasing, dan tidak jarang mengalami penderitaan akibat ketidakpastian eksistensial. Ada kedalaman psikologis karakter. Ada sorotan tajam kecemasan bawah sadar, alienasi, dan ketiadaan makna moral yang absolut dalam dunia yang berubah.
Pendek kata, konsep estetika karya sastra prosa Modernisme adalah mengenai pembaruan radikal, kemerdekaan berekspresi, dan penemuan cara baru untuk menarasikan realitas internal dan eksternal yang terfragmentasi. Pemfaedahan bahasa padat, alusif (sindiran tersirat), penekanan citraan visual konkret (pengaruh Imagisme). Semua berkontribusi pada penciptaan pengalaman membaca yang menuntut kedalaman.
Era Posmodernisme
Era Posmodernisme (pertengahan hingga akhir abad ke-20), menggerakkan konsep estetika karya sastra prosa ke arah parodi, ironi, dan metafiksi (cerita di dalam cerita). Terdapat kesadaran pandangan bahwa “tidak ada yang baru di bawah matahari”. Kalangan penulis Posmodernisme acapkali membaurkan gaya (pastiche), memainkan referensi dari karya lain (intertekstualitas)
Selain itu, penulis Postmodernisme tidak jarang meruntuhkan "dinding keempat" antara penulis dan pembaca. “Dinding keempat” adalah konsep imajiner yang memisahkan dunia fiksi dari pembaca. Mereka justru “fmenembus”-nya.
Para penulis Posmodernisme menyadari keberadaan pembaca dan berinteraksi langsung dengan khalayak audiens. Mereka mengakui bahwa keberadaan pembaca di dalam sebuah karya fiksi untuk memperoleh efek komedis, dramatis, atau membangun relasi yang akrab.
Para penulis Posmodernisme menghancurkan “dinding keempat” tersebut. Mereka menolak ilusi realitas yang mulus dan meyakinkan. Dengan melanggar “dinding keempat” mereka hendak mengatakan, karya yang sedang memasuki edar konsumsi khalayak pembaca merupakan sebuah konstruksi, artefak, karya seni yang penciptaannya dengan sengaja. Ini inti dari metafiksi, salah satu teknik Posmodernisme.
Para penulis Posmodernisme tidak membiarkan khalayak pembacanya tersesat sepenuhnya di dalam dunia narasi. Akan tetapi, penulis mendorong pembaca untuk menyadari peran mereka sebagai konsumen fiksi. Hal ini para penulis lakukan dengan sapaan langsung kepada pembaca.
Kadang memberi komentar soal proses penulisan fiksi itu atau menunjukkan karakter bahwa mereka mengetahui sedang berada di dalam buku. Tujuannya, agar khalayak pembaca menjadi peserta aktif dalam “permainan” narasi dan bukan hanya observer semata.
Tindakan penulis Posmodernisme menghancurkan “dinding keempat” mengusung fungsi untuk mengikis gagasan tentang penulis sebagai kreator yang berotoritas penuh menghidangkan “kebenaran” objektif atau dunia yang koheren. Lebih dari itu, karya fiksi itu menjadi semacam ajang dialog, negosiasi makna antara penulis, teks, dan pembaca.
Hal ini merupakan wujud ekspresi keraguan Postmodernisme akan kebenaran tunggal nan absolut. “Realitas” yang tersaji di dalam teks hanya salah satu dari sekian banyak alternatif interpretasi. Gagasan estetik Posmodernisme adalah kebenaran itu relatif dan bahasa hanya sebuah permainan.
Contohnya karya sastrawan asal Italia, Italo Calvino (15 Oktober 1923 - 19 September 1985) lewat Novel If on a winter's night a traveler (1979). Novel Posmodernisme ini tentang seorang pembaca (“Anda”) yang berupaya membaca buku-buku yang belum selesai. Menampilkan struktur yang terfragmentasi dengan sepuluh bab pembuka berbeda dari berbagai genre. Tiap bab terdiri atas dua bagian.
Novel ini mengeksplorasi tema membaca, menulis, kepengarangan, hasrat, dan hakikat narasi. Pembaca (“Anda”) dan “Pembaca Lain” (Ludmilla) merangkai kesinambungan, demi menemukan bukti bahwa kehidupan dan sastra acapkali tidak mempunyai akhir nan rapi. Novel ini memuncak pada metanarasi mengenai upaya untuk merampungkan proses pembacaan terhadap buku novel itu sendiri.
Sastrawan Argentina Jorge Luis Borges (24 Agustus 1899 - 14 Juni 1986) lewat karya ikoniknya Cerita Pendek “La biblioteca de Babel" ("Perpustakaan Babel"), terbit pertama kali pada 1941. Karya fundamental Posmodernisme ini bercerita mengenai sebuah perpustakaan tidak terbatas.
Bisa berisi setiap buku yang mungkin pernah ditulis dan setiap buku yang mustahil ditulis. Penjelasan ini merupakan tafsiran yang kuat tentang sifat tulisan, pengetahuan, dan realitas teks yang mengaburkan secara distorsif batas antara fiksi dan realitas.
Narasi cerita pendek ini juga mendeskripsikan pencarian dengan balutan rasa putus asa para pustakawan guna mencari Buku Total atau katalog dari segala sesuatu. Upaya mereka pun mesti terjerat kesia-siaan di hadapan ketidakterbatasan. Ini cerminan simbolik keraguan Posmodernisme terhadap narasi besar (grand narratives) atau kebenaran universal yang dapat berada dalam pemahaman manusia secara lengkap.
Sementara itu, struktur labirin perpustakaan sebagaimana pendeskripsian Jorge Luis Borges yang tiada mengenal ujung. Walaupun terdiri atas galeri heksagonal yang identik. Adalah metafora visual untuk realitas yang cenderung membingungkan serta tidak mempunyai pusat yang tetap atau statis.
Di Indonesia, kita bisa melihat jejak-jejak estetika ini beberapa karya I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir 11 April 1944) yang menggunakan teknik teror mental dan absurditas. Teror mental di sini menyasar pada aspek pengertian, nalar, rasa, pikiran, dan batin khalayak pembacanya. Tujuannya, untuk membangun ulang mental mereka dengan cara meruntuhkan cara pandang usang atau terlalu mapan.
Adapun absurditas dalam karya Putu Wijaya memang memperoleh pengaruh dari absurditas sastra Barat. Akan tetapi, dia mengadaptasinya dengan sentuhan lokal Indonesia. Tidak jarang, dia memasukkan unsur humor dan kedekatannya dengan teater rakyat. Absurditas menonjolkan ketiadaan makna hidup, komunikasi yang terputus, ketidakrasionalan dalam menghadapi dunia yang tidak acuh.
Teror mental dan absurditas bak dua sisi pada sekeping mata uang logam dalam penciptaan artistik Putu Wijaya. Teror mental menunaikan fungsinya sebagai metode untuk mengusik. Sementara itu, absurditas merupakan cara pandang terhadap dunia yang serbatidak pasti dan ketiadaan makna absolut.
Lewat karyanya, dia mendorong kita untuk tidak hanya menjadi pembaca pasif. Namun, menjadi subjek pembaca yang tiada henti mempertanyakan dan mencari makna di tengah kecamuk kekacauan eksistensi.
Novel Telegram (1973), salah satu karya awal Putu Wijaya termasuk yang konsep estetikanya berpagut pada teknik narasi arus kesadaran. Mengalir bebas, terkadang membingungkan. Menciptakan efek teror mental secara halus. Khalayak pembaca seolah mendapat paksaan untuk terus mengikuti alur pikiran karakter utama yang tidak linier.
Ketidakpastian dan kegelisahan yang mengisi hati para karakternya beralih menjadi milik khalayak pembacanya, memancarkan absurditas eksistensi dan komunikasi manusia modern yang terputus-putus. Alur yang seakan tanpa pangkal dan ujung pasti menyebabkan khalayak pembaca merasa terlempar ke labirin mental.
Era Posmodernisme merupakan periode yang sangat kerap berada di dalam konteks pergeseran filosofis dan artistik yang berseberangan frontal dengan keyakinan dan narasi besar pada era Modernisme. Sementara itu, Posmodernisme khususnya pada dekade setelah Perang Dunia II merupakan gerakan intelektual dan budaya yang mengkritisi gagasan kebenaran universal, kemajuan linier, dan objektivitas.
Sejumlah konsep estetika karya sastra prosa Posmodernisme, yang paling awal, yaitu skeptisisme terhadap narasi besar. Penyangkalan pada keyakinan adanya satu cerita menyeluruh atau penjelasan tunggal untuk sejarah, masyarakat, atau moralitas. Kemudian tentang relativisme. Pengaksentuasian untuk gagasan kebenaran yang berperangai subjektif dang tergantung pada perspektif individu atau budaya.
Ciri lainnya, yakni pastiche, meniru dan menggabungkan gaya satu atau lebih sastrawan lain untuk tujuan positif. Dalam karya sastra prosa bisa berwujud lewat pemanfaatan ulang gaya lama, ironi, dan pembauran genre. Selain itu, fokus pada pengakuan bahwa media massa dan konsumsi berkontribusi sentral dalam menunjukkan realitas kemanusiaan.
Substansi fundamentalnya, Postmodernisme itu sesungguhnya lebih merupakan ihwal cara kita memandang dunia. Serta, cara kita berpikir soal pengetahuan berikut budaya. Ia lebih daripada sekadar menunjuk pada periode waktu tertentu.
Era Kontemporer
Dalam pada itu, abad ke-21 ditandai dengan kehadiran konsep estetika karya sastra prosa dalam perkembangan di era Kontemporer (contemporary era). Pada tautan makna harfiah, sisi yang mutakhir ini, merujuk pada periode waktu yang tengah berlangsung dewasa ini.
Era Kontemporer ini hadir dengan konsep estetika karya sastra prosa yang begitu akrab dengan berbagai dinamika perkembangan mutakhir. Seperti globalisasi yang menunjukkan atmosfer kehadirannya lewat peningkatan konektivitas antarnegara, antarbudaya dalam tatanan pergaulan ekonomi, politik, dan sosial dunia.
Warna pengaruh lain yang tidak kalah intens adalah revolusi digital. Kehadiran komputer pribadi, internet, dan teknologi informasi telah menghunjamkan transformasi komunikasi dalam kehidupan sehari-hari dewasa ini berbandingkan dengan satu atau dua puluh tahun silam.
Seterusnya, mulai ada peningkatan kesadaran akan dampak aktivitas manusia terhadap perubahan iklim dan lingkungan global yang mengundang sejumlah kekhawatiran. Tidak dapat termungkiri, pemunculan kekuatan ekonomi baru yang menggeser peta geopolitik dunia dengan warna kompleksitasnya yang semakin mencolok.
Tidak sedikit pakar estetika dalam karya sastra dan seni pada umumnya, berpegang pada pandangan, dewasa ini sesungguhnya kita masih mengasyiki pergulatan dengan warisan filosofis Posmodernisme. Salah satu cara menginterpretasi era mutakhir, khususnya budaya dan komunikasi. Internet dan media sosial sesungguhnya merupakan manifestasi fisik mengenai ide Posmodernisme terkait dengan realitas yang terfragmentasi dan subjektif.
Meskipun demikian, ada perbedaan yang juga mengemuka. Dari aspek sifat, Posmodernisme merupakan label filosofis, artistik, dan kritis, sedangkan Kontemporer alias Mutakhir mengacu pada label temporal atau kronologis. Lalu dari aspek fokus, Posmodernisme pada ide, narasi, dan interpretasi. Adapun Kontemporer pada peristiwa, teknologi, tren yang tengah berlangsung.
Sementara itu, bila kita meninjaunya dari aspek durasi, maka Posmodernisme akan berakhir pada suatu ketika dan bertransisi menjadi era lain saat ada pembeda konsep estetika yang menengarainya. Beberapa pihak ada yang mengusulkan Pos-Posmodernisme. Beberapa pihak yang lain mengulurkan alternatif nama Metamodernisme. Adapun era Kontemporer atau Mutakhir akan terus berlanjut selama kita hidup di masa kini.
Dengan demikian, walau era Posmodernisme dan era Kontemporer atau Mutakhir terjadi pada waktu yang hampir bersamaan, keduanya tidak merujuk ke hal yang sama persis. Posmodernisme mendorong kita untuk menganalisis sifat-sifat tertentu dari zaman kita dengan lensa kritis.
Sementara itu, era Kontemporer atau Mutakhir merupakan sebutan periode waktu manakala kita hidup dewasa ini yang mendapat sentuhan warna globalisasi, teknologi digital, berikut dinamika perubahan sosial yang bergerak sedemikian cepat.
Sejumlah konsep estetika utama menjadi landasan fundamental karya sastra prosa di era Kontemporer. Pertama, ciri paling mengemuka adalah dekonstruksi naratif sebagai jalan untuk melajukan eksperimen bentuk. Penulis merasa tidak terikat dengan aturan sintaksis dan kronologi cerita secara ketat sebagaimana dapat terendus pada karya sastra prosa di era Modern atau sebelumnya.
Kedua, tidak sedikit karya sastra prosa di era Kontemporer menunjukkan ciri antilogika dan absurd. Menyelisihi logika kausalitas (sebab-akibat). Cerita tidak masuk akal atau membingungkan. Cerminan dari pandangan dunia yang sering kacau atau tanpa makna inheren, berkaitan erat. Estetika bukan terletak pada kejelasan, melainkan pada kejujuran membaca kekacauan eksistensial.
Sering disebut pula krisis eksistensial. Suatu perasaan yang begitu mendalam dari seseorang, bahwa hidupnya tidak memiliki makna, tujuan, atau nilai. Lalu timbul kecemasan dan kebingungan identitas serta konflik batin soal keberadaan diri yang acapkali menyelinap di dalam perasaan seseorang ketika menyikapi rasa kehilangan atau transisi besar.
Ketiga, pengabaian terhadap plot yang rapi dengan standar tatanan dari awal, konflik, klimaks, dan penyelesaian. Penulis di era Kontemporer memanfaatkan plot narasi yang terfragmentasi (terpecah-pecah), maju-mundur tidak beraturan atau bahkan ketiadaan alur yang kentara. Hal ini justru menyebabkan khalayak pembaca aktif merangkai makna dari potongan demi potongan informasi naratif yang tersedia secara berserakan.
Keempat, karya sastra prosa di era Kontemporer memberikan ruang yang luas untuk pengalaman individu dan subjektivitas pada posisi sentral. Ada penolakan terhadap klaim yang hanya mengakui bahwa kebenaran itu tunggal dan bersifat objektif. Dengan kata lain yang lebih ringkas padat, karya sastra prosa era Kontemporer menjunjung subjektivitas dan multiperspektif pada posisi yang tinggi.
Kelima, penggambaran karakter tidak jarang merupakan sosok terasing, kejiwaan yang kompleks, atau bahkan tidak mempunyai identitas solid. Mengalami pergeseran fokus dari pahlawan baik hati dengan tujuan kehidupan yang jelas menuju ke penjelajahan eksplorasif psikologi para karakter yang rentan dan terfragmentasi.
Keenam, sokongan kebebasan berekspresi menjadi sangat relevan manakala para penulis di era Kontemporer berada di balik perspektif bahwa karya sastra prosanya merupakan media untuk mengekspresikan tekanan psikis atau kepekaan sosial terhadap realitas di sekitar mereka. Estetika personal penulis menjadi lebih mengedepan dengan keunikan gaya bahasanya serta diksi sebagai kunci untuk menawarkan konsep artistiknya.
Ketujuh, dalam karya sastra prosa di era Kontemporer, keaktifan peran pembaca menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam proses apresiasi. Ada celah yang mempertemukan antara maksud artistik penulis dan interpretasi khalayak pembaca.
Dan, celah tersebut mesti pembaca sendiri yang mengisinya. Penentuan estetik suatu karya berpulang pada bagaimana pembaca memaknai dan menginterpretasi suatu teks. Tidak hanya semata berpagut apa yang telah sang penulis rangkai sebagai narasi dalam karyanya.
Konsep estetika karya sastra prosa juga sangat mendapat pengaruh dari konteks sosial, politik, dan teknologi digital di masa kini. Cakupan realisme dalam narasi lebih luas dan meliputi isu-isu relevan di masa kini, antara lain feminisme, ekokritisisme, atau identitas budaya di era globalisasi. Estetika diraih dari representasi jujur atas realitas sosial tersebut. Terkadang dengan fondasi konseptual nilai-nilai lokal.
Media digital turut memengaruhi bagaimana cara karya sastra prosa berada dalam rengkuh pengonsumsian khalayak pembaca dan dalam genggam penciptaan para penulis. Walaupun prosa di era Kontemporer tetap mempertahankan struktur dasar prosa (kalimat dan paragraf), media penyampaiannya dapat sangat variatif, termasuk publikasi digital dan platform dalam jaringan. Memberi jalan baru dalam estetika, berupa penggunaan multimedia atau interaktivitas dengan aspek linguistik yang tetap merupakan inti keunikan.
Estetika karya sastra prosa di era Kontemporer merupakan lanskap dinamis dan beragam. Terdapat penolakan batasan kaku dengan lebih khusyuk merayakan inovasi, kerumitan, serta keterlibatan aktif pembaca. Ini peringsutan dari pencarian keindahan yang statis menuju ke apresiasi terhadap proses penemuan makna di dunia yang tidak berhenti berubah dan penuh ketidakpastian.
Dewasa ini, estetika prosa kian cair. Muncul tren fiksi biografi untuk mewadahi keinginan kolektif memahami sejarah sebagai pengalaman manusia yang hidup, berantakan, dan multidimensi. Ada pula autofiksi, yang membaurkan unsur autobiografi, kisah nyata penulis, dengan fiksi, unsur rekaan.
Dengan demikian, autofiksi, menghadirkan narasi dengan aroma yang sedemikian personal seperti kisah hidup sang penulis. Akan tetapi, juga mengumbar rekaan dengan kebebasan kreatif guna memodifikasi detail, karakter, atau peristiwa. Batas fakta dan imajinasi pun kabur. Acapkali karakter protagonisnya mirip dengan sang penulis untuk memainkan kebenaran subjektif.
Selain itu ada pula karya sastra prosa yang sangat karib dengan pengaruh media digital. Ada cerita interaktif (hypertext fiction). Struktur narasi nonlinier lewat tautan (hyperlink). Khalayak pembaca dapat memilih jalur cerita berbeda, mengubah alur, atau menentukan akhir cerita. Dengan demikian membaca menjadi pengalaman aktif. Pembaca turut menciptakan makna lewat navigasi dalam teks.
Kemudian karya sastra prosa yang tersaji melalui rancangan khusus untuk platform media sosial. Seperti cerita pendek yang menemukan wujud unggahan dalam bentuk utas (thread) di X. Narasi bergambar di Instagram. Atau cerita bersambung di Facebook. Acapkali ada pemanfaatan batas karakter atau format visual guna mengkreasikan keunikan gaya penceritaan.
Selanjutnya novel “chat” atau cerita dalam format pesan instan. Sejumlah karya sastra prosa mengimitasi antarmuka aplikasi pesan instan. Penyampaian narasi lewat dialog singkat, emoji, lampiran media sebagaimana laiknya khalayak pembaca sedang membaca riwayat obrolan. Sangat populer di kalangan pembaca muda lantaran relevan dengan cara komunikasi mereka dalam keseharian.
Terdapat pula kembalinya narasi kuat dengan sensitivitas isu global, seperti ekologi (eco-criticism), identitas gender, dan dekolonisasi. Konsep estetika karya sastra prosa di era Kontemporer acapkali bersifat hibrida. Mengintegrasikan fakta jurnalisme dengan imajinasi fiksi.
Sastrawan Jepang Haruki Murakami (lahir 12 Januari 1949) tersohor dengan kepiawaian membangun narasi yang mengawinkan realitas keseharian nan datar dengan elemen surealis yang sangat aneh dan tidak terduga. Estetika “keterasingan urban” memberikan resonansi bagi khalayak pembaca masyarakat modern yang kerap kali merasa terputus dari lingkungan sekitar, bahkan dari diri sendiri.
Fenomena rutinitas kehidupan yang sangat terasa datar berfungsi sebagai kanvas untuk tempat menerima percikan demi percikan fantastis. Dan, salah satu karya novel Haruki Murakami yang paling gamblang dan sering menjadi pembahasan, yaitu Kafka on the Shore (Kafka di Tepi Pantai) yang terbit pada 2002.
Novel ini merupakan permata narasi yang secara memukau dan begitu sempurna memadukan rutinitas kehidupan keseharian dan surealisme. Ceritanya menggubris dua alur paralel. Alur yang satu berpusat pada Kafka Tamura, remaja 15 tahun, minggat dari rumah orang tuanya di Tokyo. Dia melarikan diri untuk menghindari kutukan Oedipus yang suram dan mencari ibunya yang hilang.
Sementara itu, alur satunya lagi menjadi pusat pengisahan tentang Nakata, karakter pria tua dan lugu. Dua memiliki kemampuan berkomunikasi dengan kucing. Dia juga menderita amnesia setelah mengalami insiden misterius di masa kecilnya.
Novel Kafka on the Shore dengan fasih menarasikan bagaimana dunia modern dapat menjadi tempat yang aneh dan sekaligus menjemukan. Lewat perpaduan unik antara lintah yang jatuh dari langit, percakapan dengan kucing, dan kehidupan keseharian di perpustakaan, Haruki Murakami mengkreasikan lanskap tempat realitas menjadi bahan pertanyaan dan keterasingan menjadi satu-satunya kebenaran konstan.
Sebagai penutup, ada kesimpulan yang bisa ditarik. Konsep estetika karya sastra prosa bergerak dari yang bersifat komunal (era Klasik), lalu emosional (era Romantisisme), kemudian faktual (era Realisme dan Naturalisme), sudah itu internal (era Modernisme), hingga ke permainan bahasa secara kritis (era Posmodernisme dan Kontemporer).
Tiap perubahan zaman mendorong para penulis karya sastra prosa untuk menemukan cara baru dalam membahasakan kondisi manusia. Hal ini menjadi bukti yang sangat nyata, bahwa prosa bukan sekadar tumpukan kata. Melainkan organisme hidup yang secara kontinu mengikuti irama detak demi detak irama jantung peradaban. ***





