Di Balik Operasi Absolute Resolve, Taktik Delta Force AS Menangkap Maduro

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump patut menepuk dada karena berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro melalui operasi Absolute Resolve tanpa korban jatuh dari pasukan Delta Force AS.

Operasi senyap dan taktis ini berhasil mengevakuasi Maduro ke Kota New York, AS, untuk diadili, meskipun penyerangan itu penuh dengan kontroversi mengenai legalitas dan alasan Donald Trump melakukan penyergapan di Caracas, Venezuela.

Aksi pasukan elit Angkatan Darat AS itu bukan tanpa persiapan. Pada Agustus 2025, sebuah tim rahasia CIA menyelinap ke Venezuela untuk mengumpulkan informasi tentang Nicolás Maduro, yang dicap Trump sebagai teroris narkoba.

Berdasarkan laporan New York Times, tim CIA melakukan operasi senyap selama berbulan-bulan di Caracas. Pasukan intelijen itu mengumpulkan informasi mengenai aktivitas harian pemimpin Venezuela yang berkuasa sejak 2013 itu.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Mereka memanfaatkan jejaring orang dalam serta drone siluman di seputar kediaman Maduro. Misi berbahaya itu tidak mudah. Apalagi kedutaan besar AS di Caracas ditutup. Para petugas CIA tidak dapat beroperasi di bawah kedok diplomasi.

Namun, misi itu sukses. Menurut Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gabungan Operasi Absolute Resolve, intelijen mampu mengumpulkan informasi mulai dari ke mana Maduro pergi, apa yang dimakan, dan bahkan, hewan peliharaannya.

Baca Juga

  • Penangkapan Maduro Belah Sikap Global, Sekutu AS Pilih Tahan Kecaman
  • Ditangkap Trump lalu Diadili di AS, Presiden Venezuela Nicolas Maduro: Saya Tidak Bersalah
  • Kronologi hingga Alasan Kenapa Maduro Ditangkap, Berikut Fakta-faktanya

Informasi tersebut sangat penting untuk operasi militer selanjutnya, sebuah serangan subuh pada hari Sabtu oleh komando elit Delta Force. Operasi militer AS ini paling berisiko sejak SEAL Team 6 Angkatan Laut membunuh Osama bin Laden di sebuah rumah persembunyian di Pakistan pada 2011.

Berbeda dengan operasi yang kacau di masa lalu, seperti oleh militer AS di Panama atau CIA di Kuba, penangkapan Maduro ini nyaris tanpa cela. Komando Delta Force telah berlatih secara intensif dengan membuat miniatur kompleks kediaman Maduro yang dibangun di Kentucky.

Mereka berlatih menerobos pintu baja dengan kecepatan dan determinasi yang tinggi. Militer pun telah siap selama beberapa hari untuk melaksanakan misi tersebut. Namun, ketegangan yang meningkat membuat Maduro berganti-ganti lokasi sejak akhir tahun lalu.

Untuk melaksanakan operasi tersebut, militer AS membutuhkan konfirmasi bahwa Maduro berada di kompleks yang telah mereka latih untuk diserang.

Dalam beberapa hari menjelang serangan, Amerika Serikat mengerahkan semakin banyak pesawat Operasi Khusus, pesawat perang elektronik khusus, drone Reaper bersenjata, helikopter pencarian dan penyelamatan, dan jet tempur ke wilayah tersebut.

Taktik Delta Force AS Menembus Pertahanan Udara Caracas

Operasi secara resmi dimulai pukul 16.30 pada Jumat sore. Para pejabat AS memberikan persetujuan pertama untuk meluncurkan sejumlah aset ke udara. Namun, peluncuran itu belum tentu misi penuh yang akan diizinkan.

Selama enam jam berikutnya, para pejabat terus memantau kondisi di lapangan, termasuk cuaca dan keberadaan Maduro. Adapun Donald Trump menghabiskan malam di teras Mar-a-Lago, klubnya di Florida, sembari santap makan malam bersama para ajudan dan sekretaris kabinet.

Para ajudan presiden memberitahunya bahwa mereka akan menghubungi malam hari, sekitar pukul 22.30, untuk persetujuan akhir. Trump melakukannya melalui telepon. Kemudian bergabung dengan para pejabat senior keamanan nasional di lokasi yang aman di properti tersebut.

Di Venezuela, operasi tersebut dimulai dengan serangan siber yang memutus aliran listrik ke sebagian besar wilayah Caracas. Kota yang berdiri sejak 1567 itu diselimuti kegelapan. Namun, pesawat, drone, hingga helikopter mampu mendekat tanpa terdeteksi.

Lebih dari 150 pesawat militer, termasuk drone, pesawat tempur, dan pesawat pengebom, ikut serta dalam misi tersebut. Mereka lepas landas dari 20 pangkalan militer dan kapal Angkatan Laut yang berbeda.

Sebelum operasi itu dimulai, pada Sabtu pagi, ledakan dahsyat menggema di seluruh Caracas saat pesawat tempur AS menyerang radar dan baterai pertahanan udara. Meskipun beberapa ledakan yang diposting di media sosial tampak dramatis, seorang pejabat AS mengatakan bahwa sebagian besar ledakan tersebut adalah penghancuran instalasi radar dan menara transmisi radio.

Setidaknya 40 orang tewas dalam serangan hari Sabtu di Venezuela, termasuk personel militer dan warga sipil. Total korban saat operasi itu, menurut seorang pejabat senior Venezuela, mencapai ratusan orang.

Kemudian, pesawat tempur, pesawat pengebom, dan drone datang ke Venezuela untuk menemukan dan menghancurkan pertahanan udara negara itu, guna membuka jalan bagi helikopter yang membawa pasukan Delta Force.

Meskipun pertahanan udara Venezuela berhasil dilumpuhkan, helikopter AS diserang saat mereka bergerak menuju kompleks kediaman Maduro sekitar pukul 02.01 waktu setempat. Salah satu helikopter terkena tembakan.

Dua pejabat AS mengatakan bahwa sekitar setengah lusin tentara terluka dalam operasi keseluruhan. Para operator Delta Force yang ditugaskan untuk menangkap Maduro diangkut ke target mereka — di pangkalan militer Venezuela yang paling terlindungi.

Mereka diangkut oleh unit penerbangan elit Operasi Khusus Angkatan Darat, Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160, menerbangkan helikopter MH-60 dan MH-47 yang telah dimodifikasi.

Resimen ke-160, yang dijuluki Night Stalkers, mengkhususkan diri dalam misi berisiko tinggi pada malam hari, seperti penyisipan, evakuasi, dan penggerebekan. Unit ini melakukan apa yang disebut Pentagon sebagai misi pelatihan di dekat pantai Venezuela dalam beberapa bulan terakhir.

Setelah mendarat, Delta Force bergerak cepat melalui gedung untuk menemukan Maduro. Sekitar 1.300 mil dari ruangan di dalam Mar-a-Lago, Trump dan para pembantu utamanya menyaksikan penggerebekan tersebut secara langsung melalui kamera di atas pesawat.

Pejabat AS mengatakan bahwa pasukan Operasi Khusus membutuhkan waktu tiga menit setelah mendobrak pintu untuk bergerak melalui gedung menuju lokasi Maduro. Sekitar lima menit setelah memasuki gedung, Delta Force melaporkan bahwa mereka telah menahan Maduro dan istrinya.

Pasukan Delta Force dengan cepat memasukkan pasangan tersebut ke dalam helikopter. Pada pukul 4:29 pagi waktu Caracas, Maduro dan istrinya dipindahkan ke USS Iwo Jima, kapal perang AS di Karibia yang ditempatkan sekitar 100 mil dari pantai Venezuela selama operasi tersebut.

Pasangan itu dipindahkan dari Iwo Jima ke pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantánamo, tempat FBI menyiapkan pesawat Boeing 757 untuk membawanya ke bandara di utara Manhattan.

Alutsista Operasi Absolute Resolve

Operasi Absolute Resolve dimulai dengan perintah Presiden Donald Trump pada 2 Januari malam, pukul 22.46 waktu Amerika bagian timur. Pesawat militer berbagai jenis mulai lepas landas di 20 titik yang berbeda. Baik dari pangkalan darat maupun kapal induk.

Total ada 150 pesawat yang dilibatkan. Selain dari daratan Amerika, pesawat lepas landas dari pangkalan militer Amerika di Puerto Rico. Di Laut Venezuela, kapal perang Amerika sudah mengepung dan memblokade sejak Agustus 2025.

Awalnya ditempatkan tiga kapal destroyer, dan terus bertambah. Pada Oktober, kapal induk tercanggih USS Girard Ford bergerak ke Laut Karibia disertai dengan carrier battle group.

Selama blokade, kapal Amerika menembaki kapal yang dicurigai penyelundupkan narkoba dan menahan beberapa kapal tanker yang keluar dari Venezuela.

Pada saat operasi Absolute Resolve, kapal itu siaga dan melakukan bantuan perang elektronika. Adapun pasukan udara yang dilibatkan meliputi pesawat tempur, pesawat pembom, pesawat early warning, pesawat perang elektronika, serta helikopter angkut dan serang.

Ada beberapa jenis pesawat perang elektronika yang digunakan. Yang utama adalah EC-130H. Selain itu ada EA-18G Growler. Pesawat early warning, seperti E-2 Hawkeye dan E-3 Sentry juga membantu melakukan serangan elektronika.

Pesawat itu membombardir dengan pancaran gelombang elektromagnetik multispektrum untuk mengganggu dan melumpuhkan kemampuan deteksi radar Venezuela.

Secara kasat mata, langit Venezuela tampak sunyi, tetapi dalam spektrum elektromagnetik sangat riuh dan bising. Ini membuat radar dan sistem pertahanan udara milik Venezuela menjadi buta, tuli, dan lumpuh.

Hal itu membuat elemen utama konvoi helikopter melenggang memasuki langit Venezuela tanpa terdeteksi radar. Konvoi itu terdiri dari Soar ke-160 atau 160th Special Operation Efficient Regiment, resimen pasukan khusus Amerika yang dijuluki Night Stalker.

Saat ini, Soar ke-160 ditempatkan menjadi bagian dari Joint Special Operation Command (JSOC), Komando Gabungan Operasi Khusus. Dalam JSOC, Night Stalker dikenal sebagai Task Force Brown.

Supaya konvoi helikopter ini tetap aman, harus dipastikan tidak ada satupun pesawat militer terutama pesawat tempur Venezuela yang terbang. Pesawat Early Warning E-2D Hawkeye dan E-3 Sentry terus memindai langit Venezuela.

Jika ada pesawat yang terbang, maka pesawat tempur F-35, F-22, dan F-18 akan segera menghabisinya. Pesawat-pesawat intai juga terus memonitor wilayah laut dan daratan Venezuela. Setiap pergerakan pasukan maupun aset militer dipastikan terdeteksi.

Pesawat intai yang digunakan meliputi RC-135 Riffet Joint. Ini adalah pesawat sinyal intelijen untuk mendeteksi, menganalisa, dan menentukan posisi sinyal musuh.

Selain RC-135, ada juga CN-235--yang juga diproduksi oleh PTPN—sebagai pesawat mata-mata dan sinyal intelijen. Lalu P-8A Poseidon merupakan pesawat intai dan patroli maritim. Ada lagi pesawat E-11A PSCN atau Battlefield Airborne Communication Node.

Ini menjadi semacam server penghubung komunikasi semua elemen yang terlibat. Ada yang mengistilahkan pesawat ini sebagai wifi terbang yang memastikan semua elemen operasi bisa saling berkomunikasi dan berkoordinasi.

Untuk melakukan mata-mata jarak jauh dan secara langsung di atas wilayah Venezuela digunakan pesawat tanpa awak RG-130 dan MG-9 Reaper.

Intinya, semua pergerakan dan posisi pertahanan udara Venezuela diketahui. Tidak hanya diidentifikasi, tetapi juga dihancurkan. Pesawat tempur siluman F-35 meluncurkan rudal udara ke darat untuk menghancurkan pertahanan udara Venezuela.

Venezuela memiliki sistem pertahanan udara S-300VM dan Buk M2E besutan Rusia dan China. Dengan dibungkamnya pertahanan udara Venezuela, rombongan helikopter pasukan Delta Force berhasil mencapai kediaman tempat Presiden Maduro tanpa hambatan berarti. 

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Alasan Anak Asuh Ridwan Kamil-Atalia Tak Masuk Putusan Hakim
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
DKI Berencana Bangun Monorel Rute Ragunan-Setu Babakan
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
TNI Buka Rekrutmen Dokter Spesialis, Ini Syarat Lengkap dan Cara Daftarnya
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
MBG Tetap Jalan Selama Ramadan 2026, Prioritas Ibu Hamil dan Balita untuk Cegah Stunting
• 9 jam laluliputan6.com
thumb
Ini Benda Paling Kotor di Kamar Hotel yang Tak Banyak Disadari Tamu
• 12 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.