Jacky dulu adalah anak yang nakal dan memberontak—suka merokok, minum alkohol, bermain game semuanya ia lakukan. Orangtua dan gurunya sudah tidak berdaya lagi menghadapinya. Namun kemudian, setelah ia berkenalan dengan sekelompok orang dan membaca sebuah buku, ia meninggalkan semua kebiasaan buruk dan berubah menjadi pemuda teladan yang peduli pada orang lain.
Dalam serial laporan “Zhuan Falun Menuntun Jalan Kehidupan” episode kali ini, mari kita simak kisah Jacky, seorang insinyur AI di Amerika Serikat.
EtIndonesia. Jacky yang berusia 22 tahun adalah seorang insinyur AI sekaligus mahasiswa pascasarjana. Sejak kecil, ia pernah tinggal di banyak negara—dari Tiongkok, Eropa, hingga Amerika Serikat. Lingkungan yang terus berubah dan beragam budaya asing memberikan banyak guncangan bagi dirinya di usia muda.
“Saya pergi ke luar negeri sejak usia enam tahun. Waktu itu kami ke Eropa, karena perusahaan ibu saya menugaskannya ke sana. Saat remaja, setiap anak pasti melewati fase ini—tidak terlalu patuh, punya pemikiran sendiri. Saat itu saya merasa ya memang seperti itu. Semua orang melakukan ini dan itu, kadang emosinya buruk, mudah marah, main game. merokok, minum alkohol, semuanya dilakukan,” kata insinyur AI AS, Jacky Guan.
Saat itu, Jacky adalah anak nakal dan pemberontak di mata orangtua dan gurunya. Namun menurut Jacky, sesungguhnya ia hanya merasa gelisah dan bingung terhadap kehidupan serta masa depannya.
Jacky, seorang insinyur AI di Amerika Serikat (tangkapan layar NTD)“Orang tua saya juga tidak punya cara untuk memaksa saya melakukan sesuatu. Bagi seorang anak, jika kamu dipindahkan ke lingkungan baru, bolak-balik seperti itu, dia perlu cara untuk beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut,” ujarnya.
Beruntung, sekolah menengah atas yang Jacky masuki di Amerika memiliki Klub Falun Dafa yang dapat diikuti secara bebas. Ibu Jacky juga seorang praktisi Falun Gong. Saat kecil, ia pernah melihat ibunya membaca Zhuan Falun dan berlatih. Pemandangan yang familiar ini kembali ia lihat di sekolah barunya di Amerika.
“Kebetulan di sekolah kami ada beberapa orang yang berlatih Falun Gong. Mereka melakukan latihan pagi, atau malam hari membaca buku—seperti umat Kristen membaca Alkitab. Praktisi Falun Gong membaca buku mereka, yaitu Zhuan Falun,” ujarnya.
“Pada saat itu, saya memang sedang berada dalam kondisi seperti sedang mencari sesuatu di dalam hati—sulit dijelaskan, tetapi seperti sedang mencari rasa memiliki. Saya sudah mencoba banyak hal. Main game tidak benar-benar memuaskan, ikut-ikutan teman juga tidak. Jadi saya berpikir, kenapa tidak mencoba berlatih Falun Gong?” tambahnya.
Dengan Zhuan Falun di tangannya, Jacky mulai membaca dengan sungguh-sungguh, dan perubahan pun perlahan terjadi.
“Sejak berlatih Falun Gong, hidup saya benar-benar berbalik arah. Orang-orang di sekitar saya berkata, ‘Kamu seperti menjadi pribadi yang sama sekali baru.’ Mereka melihat saya kini lebih lurus dalam prinsip, lebih tertata dalam tindakan, lebih santun dalam bersikap, dan lebih tahu ke mana harus melangkah,” ujarnya.
Jacky, seorang insinyur AI di Amerika Serikat (tangkapan layar NTD)“Dulu saya pemarah. Setelah belajar Falun Gong, orang-orang berkata kepada saya bahwa saya seharusnya berbicara dengan orang lain dengan lebih baik, lebih mau berdiskusi. Saya merasa itu benar. Melalui ini saya tahu bahwa saya harus menjadikan ‘Sejati, Baik, Sabar’ sebagai standar untuk menilai baik dan buruk,” katanya.
“Saya menggunakannya untuk menilai apakah saya berbohong pada orang lain, apakah tindakan saya sesuai dengan hati nurani saya, apakah saya memperlakukan orang lain dengan baik, dan apakah saya mampu bersabar saat menghadapi kesulitan,” imbuhnya.
Melalui pembelajaran Zhuan Falun, kebuntuan batin Jacky pun terbuka. Pertanyaan-pertanyaan tentang hidupnya mendapat jawaban, dan ia menemukan tempat berlabuh yang telah ia cari sejak kecil. Ia menjadi sangat yakin terhadap masa depannya.
“Bukan hanya memahami banyak prinsip yang sebelumnya tidak saya ketahui, tetapi saya juga menyadari bahwa inilah sesuatu yang telah lama saya cari. Setelah berlatih Falun Gong, saya benar-benar menemukan arah hidup saya. Jika saya tidak memiliki arah ini, mungkin sekarang hidup saya akan penuh kebingungan,” tambahnya.
Pada saat yang sama, latihan Falun Gong juga sangat meningkatkan kemampuan belajarnya. Dari yang sebelumnya berprestasi biasa saja, setelah lulus SMA ia berhasil diterima di universitas ternama di Swiss, Universitas Zürich, memenuhi harapan orang tuanya. Namun setelah belajar selama setengah tahun, Jacky memilih kembali ke Amerika. Ia merasa sangat bersyukur karena menemukan keyakinannya di sini.
“Dalam kehidupan duniawi, kamu selalu akan memiliki berbagai pemikiran. Tetapi jika kamu tidak memiliki keyakinan, itu adalah hal yang sangat menakutkan. Saya merasa bahwa jika kamu menemukan keyakinan, kamu akan memiliki batasan dan norma untuk mengendalikan diri, dan itu bisa menjamin bahwa kamu dapat membuat banyak pilihan yang benar dalam hidup. Dan bagi saya, keyakinan itu adalah Falun Gong,” tambahnya.
Perubahan besar lainnya adalah, setelah berlatih Falun Gong, Jacky belajar untuk peduli pada orang lain. Ia sering mengorganisir berbagai kegiatan di sekolah dan komunitas untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Tanggal 4 Januari 2026 menandai peringatan 31 tahun penerbitan buku Zhuan Falun, karya pendiri Falun Gong, Master Li Hongzhi. Buku ini telah menuntun ratusan juta orang menuju kesehatan fisik dan peningkatan spiritual, kembali pada jati diri sejati manusia.
“Tentu saja saya sangat bersyukur. Siapa yang bisa menulis buku sebaik ini, saya rasa pasti bukan orang biasa. Bagi kami yang belajar Falun Gong, selama kamu mengikuti buku ini dan mengikuti Dafa ini, kamu bisa menjadi orang baik. Dan, dalam hidupmu, kamu bisa menemukan tempatmu berlabuh,” pungkasnya. (Hui)




