Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin memastikan seluruh rumah sakit yang terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kini telah kembali beroperasi dan melayani pasien.
Budi menyebut, dari total 87 rumah sakit yang terdampak, terdapat 9 rumah sakit yang sempat berhenti beroperasi total akibat terendam banjir dan kerusakan alat medis.
Namun, berkat penanganan cepat lintas sektor, seluruhnya berhasil diaktifkan kembali dalam waktu dua pekan. Hal itu disampaikan Budi dalam konferensi pers update penanganan pascabencana di Sumatra, Rabu, 7 Januari 2026.
"Begitu bencana terjadi, Presiden Prabowo Subianto langsung menugaskan saya memastikan layanan kesehatan segera pulih. Prioritas utama kami adalah rumah sakit karena sifatnya life-saving," kata Budi dikutip dari tayangan YouTube BNPB Indonesia, Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026.
Ia menjelaskan, rumah sakit yang sempat lumpuh total terdiri dari satu rumah sakit di Sumatera Utara, yakni RS Tanjung Pura di Kabupaten Langkat, serta delapan rumah sakit di Provinsi Aceh. Seluruhnya mengalami genangan banjir cukup tinggi hingga merusak fasilitas dan peralatan medis.
Untuk mempercepat pemulihan, Kementerian Kesehatan membentuk Health Emergency Operations Center (HEOC) di tiga provinsi terdampak sejak 1 Desember 2025. Langkah ini dilakukan untuk memetakan kerusakan, kebutuhan, serta mengoordinasikan sumber daya kesehatan.
"Dalam dua minggu, seluruh rumah sakit tersebut sudah bisa menerima pasien kembali, meskipun sebagian belum beroperasi 100 persen karena masih dalam tahap perbaikan alat dan ruangan," ucapnya.
Kemudian Budi menegaskan, keberhasilan pemulihan rumah sakit tidak lepas dari dukungan BNPB, TNI, Polri, serta pemerintah daerah yang bahu-membahu membersihkan lumpur, memperbaiki fasilitas, dan mengamankan distribusi alat kesehatan.
Ia mencontohkan beberapa rumah sakit yang sempat viral akibat terendam banjir, seperti rumah sakit di Aceh Tamiang dan Aceh Timur, kini telah kembali menjalankan layanan vital, termasuk hemodialisa atau cuci darah bagi pasien penyakit ginjal.
"Kalau layanan seperti cuci darah berhenti lebih dari dua minggu, risikonya sangat fatal. Karena itu rumah sakit menjadi fokus pertama kami," jelasnya.
Saat ini, lanjut Budi, penanganan pascabencana sektor kesehatan telah memasuki tahap ketiga, yakni pemulihan menuju kondisi normal. Pemerintah menargetkan seluruh layanan kesehatan di wilayah terdampak dapat pulih sepenuhnya pada akhir Maret 2026.
"Ini bukan hanya soal bangunan, tapi memastikan alat, tenaga, dan sistemnya benar-benar berjalan. Kami optimistis target pemulihan bisa tercapai," ungkapnya.
Editor: Redaktur TVRINews


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2025%2F12%2F12%2Fd3627eca-2034-318d-9d52-794a9e217e85_heic.jpg)


