JAKARTA, DISWAY.ID-- Merebaknya kabar mengenai kebijakan sekolah daring (online) di Inggris akibat lonjakan kasus influenza memicu kekhawatiran serupa di tanah air.
Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bergerak cepat menenangkan publik dengan menegaskan bahwa situasi varian H3N2 atau "Super Flu" di Indonesia saat ini tidak menuntut kebijakan ekstrem seperti masa pandemi COVID-19 lalu.
BACA JUGA:Fitroh Sebut Perbedaan Pendapat di KPK Lumrah, Termasuk Soal Kasus Kuota Haji 2024
BACA JUGA:PDIP Gelar Rakernas 2026, Isu Pilkada Lewat DPRD Berpotensi Jadi Agenda Panas
Aji Muhawarman selaku Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan bahwa aktivitas pendidikan dan ruang publik tetap berjalan normal, mengingat karakteristik virus dan data lapangan yang ada masih menunjukkan tingkat risiko yang terkendali.
"Belum ya (arah sekolah online). Keputusan kebijakan kita ditentukan berdasarkan data dan fakta yang ada di kita. Kita tidak bisa ujug-ujug menyamakan situasi saat ini dengan saat pandemi COVID, karena situasinya berbeda," ujar Aji dalam konferensi pers, Rabu 7 Januari 2026.
Berbasis Data, Bukan Ikut-ikutan
Menanggapi langkah yang diambil beberapa sekolah di Inggris, Kemenkes menjelaskan bahwa setiap negara memiliki profil epidemiologis yang berbeda.
BACA JUGA:Indonesia Sempat Disebut Prabowo, Ini 10 Negara Paling Bahagia di Dunia Versi Gallup dan PBB
BACA JUGA:Hyundai Luncurkan New Creta Alpha, Lebih Gagah, Lebih Mewah, Harga Rp 450 Jutaan
Indonesia sendiri mengandalkan laporan berkala dari 88 Puskesmas sentinel, rumah sakit, hingga Balai Kekarantinaan Kesehatan untuk memantau situasi secara real-time.
Meskipun Kemenkes terus memantau laporan dari lembaga dunia seperti WHO dan CDC, kebijakan domestik akan tetap berpijak pada kondisi lokal.
Sejauh ini, pantauan terhadap indikator Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) menunjukkan bahwa serangan virus ini masih dalam kategori ringan hingga sedang.
"Kita tidak lengah, dan kita juga tidak menganggap enteng, jadi kewaspadaan tetap kita lakukan. Nanti kita pantau apakah secara epidemiologis situasi ini masih ringan, sedang, atau sudah tinggi," ujarnya.





