Bisnis.com, JAKARTA — Ketegangan geopolitik global dinilai berpotensi menimbulkan tantangan baru bagi sektor maritim nasional. Lonjakan biaya logistik, risiko keamanan pelayaran, hingga dampak pada rantai pasok menjadi perhatian sejumlah pemangku kepentingan.
National Maritime Institute (Namarin) menyoroti tensi antara AS dan Venezuela maupun China—Taiwan menjadi tantangan bagi sektor maritim, termasuk Indonesia.
Direktur Eksekutif Namarin Siswanto Rusdi menyampaikan dalam Konferensi Pers Awal Tahun, Rabu (7/1/2026), pihaknya mewaspadai sejumlah tantangan yang akan terjadi dalam sektor maritim nasional.
Termasuk perlu adanya antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah dan stakeholder dalam menghadapi potensi lonjakan biaya logistik dan keamanan laut.
“Jadi kita tahu saat ini ada peristiwa invasi Amerika ke Venezuela yang membuat arus perdagangan global agak terganggu, sudah pasti akan berpengaruh pada biaya logistik hingga keamanan maritim Indo-Pasifik,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu (7/1/2026).
Pada kesempatan yang sama, Salim, Kepala Pusat Kajian Maritim Sekolah Staf dan Komando TNI AL menilai lingkungan maritim global kini dihadapkan pada kompleksitas dan ketidakpastian. Dinamika tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari persaingan kekuatan negara besar hingga potensi konflik terbuka.
Baca Juga
- Kapal Tol Laut 2026, Pelni Terima PSO Rp135 Miliar
- Ranking BWF 2026, Ini Peringkat Dunia Pemain Bulu Tangkis Indonesia
- Harga Pupuk Subsidi 2026, Prabowo Janjikan Ini Kepada Petani
Dari sisi logistik, kesiapan regulasi turut ditekankan. Pakar Pelabuhan Wahyono Bimarso menjelaskan pentingnya pelaksanaan kebijakan dalam Undang-Undang Pelayaran, terutama terkait kepelabuhanan, kenavigasian, angkutan perairan, hingga perlindungan lingkungan maritim.
Menurut dia, langkah ini diperlukan agar sistem logistik nasional dapat lebih tangguh menghadapi gejolak eksternal.
“Kita sebagai negara kepulauan masih banyak tantangan dalam lingkup maritim. Ini yang harus kita lakukan agar kinerja logistik meningkat,” ujarnya.
Terpisah, kalangan pelaku usaha logistik mulai meningkatkan kewaspadaan. Mereka memantau ketat perkembangan ketegangan geopolitik, termasuk situasi pascapenangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai eskalasi konflik berpotensi meningkatkan biaya logistik secara keseluruhan. Gangguan di negara produsen energi dapat memicu gejolak harga minyak dunia, yang pada akhirnya berdampak pada biaya bahan bakar dan ongkos pengiriman.
Gangguan geopolitik di negara-negara produsen energi berisiko memicu volatilitas harga minyak global. Kondisi ini pada akhirnya akan berimbas pada kenaikan biaya bahan bakar dan, secara langsung, biaya logistik internasional.
“Kenaikan biaya bunker dan penyesuaian surcharge pelayaran berpotensi meningkatkan biaya freight pada rute lintas Pasifik maupun rute dengan transit di hub utama global,” jelasnya.



