REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam bergerak cepat memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) di madrasah terdampak banjir dan longsor di Sumatera Barat kembali berjalan normal. Pemulihan ini menjadi prioritas utama guna menjamin hak pendidikan para siswa tetap terpenuhi meski di tengah keterbatasan pascabencana.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Abu Rokhmad (saat ini menjabat Dirjen Pendis 2026), menegaskan bahwa pemulihan satuan pendidikan tidak boleh tertunda. “Bantuan yang kami salurkan difokuskan pada pemulihan sarana dan prasarana. Tujuannya satu: madrasah harus segera beroperasi kembali agar peserta didik tidak kehilangan waktu belajar mereka,” ujarnya saat meninjau langsung kondisi MTs Selasar Air dan MTs Tarbiyah Islamiyah di Kabupaten Agam, Rabu (7/1/2026).
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Mentan Siap Copot Pejabat jika Target Swasembada Pangan Tak Tercapai
- Kemantapan Jalan di Bangka Tengah Capai 99,85 Persen pada 2025
- Mentan Apresiasi Peran Menteri ATR Jaga 7 Juta Hektare Lahan Pangan
Kondisi di lapangan menunjukkan tantangan yang cukup berat, terutama di MTs Selasar Air yang bangunannya hanyut tak tersisa akibat terjangan banjir. Namun, semangat pendidikan tidak surut; saat ini proses KBM tetap berlangsung dengan memanfaatkan area masjid setempat sebagai ruang kelas sementara.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Kemenag telah menggelontorkan bantuan penanganan dampak bencana sebesar Rp6,4 miliar yang dialokasikan untuk 64 Madrasah dan Raudhatul Athfal (RA) di seluruh Sumatera Barat. Setiap lembaga menerima bantuan senilai Rp100 juta yang difokuskan untuk rehabilitasi ringan, pengadaan alat peraga pendidikan, serta pemulihan lingkungan belajar yang terdampak.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Rincian penyaluran bantuan tersebut mencakup:
22 Madrasah Negeri dengan total Rp2,2 miliar.
29 Madrasah Swasta dengan total Rp2,9 miliar.
13 Raudhatul Athfal (RA) dengan total Rp1,3 miliar.
Di MTs Selasar Air dan MTs Tarbiyah Islamiyah, dana tersebut langsung dikonversi untuk menyiapkan fasilitas belajar darurat yang layak. Abu Rokhmad menekankan bahwa Kemenag kini terus memperkuat sistem respons cepat kebencanaan di sektor pendidikan Islam, khususnya bagi wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.
“Madrasah harus menjadi ruang belajar yang tangguh. Negara tidak hanya hadir saat masa darurat, tetapi juga mengawal pemulihan hingga tuntas dan tepat sasaran,” tegasnya.
Dirjen Pendis juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para wali murid, masyarakat sekitar, dan relawan yang secara gotong royong membantu madrasah untuk bangkit.
Semangat kebersamaan inilah yang dianggap menjadi mesin penggerak utama sehingga fasilitas yang rusak bisa segera diperbaiki, baik melalui skema bantuan darurat maupun anggaran sarana prasarana reguler.

