EtIndonesia. Gelombang protes nasional di Iran yang kini menjadi sorotan dunia telah memasuki hari ke-10. Aksi yang pada awalnya dipicu oleh runtuhnya ekonomi dan melonjaknya biaya hidup, kini berkembang menjadi perlawanan nasional terbuka terhadap rezim Republik Islam Iran.
Di tengah derasnya arus informasi, muncul kekhawatiran dari sebagian pengamat dan masyarakat internasional: “Berapa lama rakyat Iran bisa bertahan jika hanya mengandalkan keberanian, sementara lawannya adalah negara dengan tentara, polisi, dan senjata?”
Namun, perkembangan di lapangan justru menunjukkan tren sebaliknya. Di bawah tekanan dan penindasan keras aparat keamanan, gelombang protes tidak melemah—bahkan semakin membesar dan meluas.
Grand Bazaar Teheran: Jantung Ekonomi yang Kembali Bergolak
Pada Selasa, 6 Januari 2026, perhatian dunia tidak hanya tertuju pada ruang situasi Gedung Putih, tetapi juga pada sebuah lokasi simbolik di Dataran Tinggi Persia: Grand Bazaar Teheran.
Bagi dunia luar, pasar ini mungkin hanya dikenal sebagai destinasi wisata. Namun bagi rakyat Iran, Grand Bazaar adalah denyut nadi ekonomi dan kekuatan sosial negara. Kompleks ini memiliki lebih dari 10 kilometer lorong seperti labirin, menghubungkan puluhan ribu toko—nyaris menyerupai sebuah kota kecil.
Gerakan protes nasional kali ini bermula dari Grand Bazaar. Setelah sebelumnya dikuasai ketat oleh militer dan polisi, pada hari ini kawasan tersebut kembali direbut oleh rakyat. Banyak analis menyebut peristiwa ini sebagai vonis mati politik bagi Republik Islam Iran.
Bayang-bayang Sejarah 1979 Kembali Menghantui Rezim
Sejarah mencatat, pada Revolusi Iran 1979, para pedagang Grand Bazaar memainkan peran krusial. Mereka melakukan mogok massal dan boikot ekonomi terhadap Dinasti Pahlavi, memutus aliran keuangan kerajaan, dan membuka jalan bagi naiknya Ruhollah Khomeini ke tampuk kekuasaan.
Kini, ironi sejarah kembali terjadi.
Namun kali ini, slogan yang menggema bukan lagi fanatisme agama. Rekaman terbaru dari lokasi menunjukkan massa meneriakkan:
- “Ini adalah pertempuran terakhir!”
- “Dinasti Pahlavi akan kembali berkuasa!”
Ketika para pedagang menutup toko secara serentak, menurunkan rolling door, dan turun ke jalan, artinya sirkulasi ekonomi Iran benar-benar terhenti. Pajak, logistik, dan sumber pendanaan rezim mulai mengering.
Protes Meluas: Teheran, Abadan, hingga Iran Barat
Di berbagai wilayah sekitar Teheran, sejumlah kawasan dilaporkan sepenuhnya dikuasai massa protes. Di jalan-jalan, rakyat meneriakkan slogan “Tumbangkan tiran” dan menyerukan pemberontakan nasional.
Di Abadan, kota pelabuhan strategis di Iran selatan, pada malam 5 Januari 2026, hampir seluruh kota turun ke jalan. Tidak lagi didominasi pria muda, demonstrasi kini melibatkan laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga lansia.
Di Sari (Iran utara), demonstran berhasil merebut kembali seorang warga yang ditangkap aparat.
Di Hamadan (Iran barat), aparat keamanan dilaporkan kocar-kacir dan melarikan diri, sebuah pemandangan yang mengejutkan para analis militer.
Fenomena ini menjadi peringatan serius bagi rezim: mesin kekerasan negara mulai kehilangan daya gentarnya.
Perang Psikologis di Dunia Maya: Elon Musk Jadi Simbol
Selain di jalanan, pertempuran juga berlangsung di dunia maya. Sosok tak terduga muncul sebagai simbol perlawanan: Elon Musk.
Tiga hari sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menulis di media sosial bahwa Iran “tidak akan pernah tunduk pada musuh”.
Musk membalas singkat—dalam bahasa Persia: “Teruslah bermimpi di siang bolong.”
Kalimat itu viral di seluruh Iran, dicetak menjadi spanduk di Grand Bazaar, dan diteriakkan oleh demonstran muda.
Bagi generasi muda Iran, Musk—ikon teknologi dan kebebasan digital—telah meruntuhkan aura sakral Khamenei dengan sindiran modern yang dingin dan meremehkan. Para ulama yang dulu dianggap tak tersentuh, kini menjadi objek ejekan terbuka.
Starlink dan Runtuhnya Sensor Informasi
Sindiran Musk bukan tanpa substansi. Pada Juni 2025, ia mengumumkan aktivasi Starlink di wilayah Iran. Perangkat Starlink dilaporkan telah masuk ke Iran dalam jumlah besar.
Ketika rezim memutus internet untuk membungkam informasi, gambar dan video perlawanan tetap mengalir ke dunia internasional secara real time.
Upaya rezim untuk mengendalikan opini publik justru berbalik arah. Baru-baru ini, pejabat Iran memaksa mahasiswa di sebuah universitas meneriakkan slogan anti-Israel dan anti-Amerika. Respons mahasiswa justru berupa teriakan sindiran dan tawa mengejek, memperlihatkan runtuhnya otoritas ideologis negara.
Retaknya Aparat dan Tanda Perpecahan Internal
Tekanan massa juga memicu retakan serius di tubuh aparat keamanan. Polisi dan tentara—yang bergaji rendah dan terdampak krisis ekonomi—mulai mempertanyakan loyalitas mereka.
Di Abdanan, Provinsi Ilam, sebuah video pada 5 Januari 2026 menunjukkan polisi melambaikan tangan kepada demonstran, simbol krisis internal yang kian nyata.
Seorang perwira Brigade Quds dilaporkan membelot dan bergabung dengan Tentara Nasional Kurdistan. Intelijen Israel juga mengklaim bahwa ribuan aparat menolak menembak rakyat dan meninggalkan posnya.
Sementara itu, kelompok Iran Immortal Guard membakar sekolah-sekolah teologi rezim di berbagai kota—simbol runtuhnya kekuasaan lama.
Blunder Ekonomi dan Tekanan Geopolitik
Di tengah krisis, pemerintah Iran mengumumkan subsidi 1 juta rial per bulan per warga. Namun dengan nilai tukar saat ini—sekitar 1,45 juta rial per 1 dolar AS—bantuan tersebut dianggap penghinaan terbuka, menegaskan kebangkrutan negara.
Di level regional, tekanan makin meningkat. Hubungan Iran–Suriah dilaporkan memburuk, sanksi AS terhadap Suriah dicabut, dan militer AS bersiaga di sekitar perbatasan Iran.
Malam Panjang di Teheran
Malam ini, lampu Grand Bazaar Teheran tidak akan padam. Rakyat berjaga, menanti fajar. Setiap teriakan di jalan kini terdengar seperti lonceng kematian bagi politik ulama Islam.
Banyak pengamat menilai, tahun 2026 bisa menjadi titik balik sejarah Iran, bahkan disebut sebagai bagian dari “pembersihan besar dunia”—sebuah fase ketika tatanan lama runtuh, membuka jalan bagi masa depan yang lebih terbuka.
Apakah rezim mampu bertahan, atau sejarah akan kembali berulang? Jawabannya mungkin akan ditentukan dalam hitungan hari, bukan lagi tahun.




