Presiden AS Donald Trump dan penasihatnya merencanakan inisiatif untuk mendominasi industri minyak Venezuela ke depan. Wall Street Journal pada Rabu (7/1) melaporkan bahwa Trump memberi tahu para penasihatnya upaya tersebut akan membantu menurunkan harga minyak menjadi USD 50 per barel.
Dikutip dari Reuters, Kamis (8/1), Wall Street Journal yang mengutip pihak yang mengetahui rencana tersebut mengatakan, salah satu yang sedang dipertimbangkan termasuk upaya AS mengendalikan perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA, termasuk mengakuisisi dan memasarkan sebagian besar produksi minyak perusahaan tersebut.
Hingga saat ini, Gedung Putih belum berkomentar terkait laporan tersebut.
AS kini memang berupaya mengendalikan PDVSA lewat kesepakatan yang mana AS akan membeli dan mendistribusikan minyak perusahaan, termasuk lewat usaha patungan di masa lalu dan saat ini dengan perusahaan minyak besar seperti Chevron.
PDVSA sebelumnya mengatakan sedang dalam proses negosiasi dengan AS untuk penjualan minyak. Anggota dewan saat dimintai keterangan oleh Reuters mengatakan AS perlu membeli kargo dengan harga internasional.
Perusahaan Minyak AS Perlu Jaminan Serius dari Pemerintah Sebelum Berinvestasi ke VenezuelaSementara itu, Financial Times melaporkan bahwa perusahaan minyak AS menginginkan jaminan serius dari pemerintah sebelum membuat investasi besar di Venezuela sebagaimana yang diminta Trump untuk membentuk kembali pasar energi.
Financial Times yang mengutip sejumlah sumber mengatakan, pejabat AS telah bertemu dengan eksekutif energi terkemuka di Miami terkait hal ini.
Trump dijadwalkan bertemu dengan pemimpin perusahaan minyak di Gedung Putih pada Jumat (9/1) waktu setempat untuk mendiskusikan cara meningkatkan produksi minyak Venezuela. Dilaporkan perwakilan dari Exxon Mobil, ConocoPhillips, dan Chevron akan hadir dalam pertemuan itu.
Financial Times mengatakan, dalam pertemuan itu para perwakilan perusahaan minyak akan mendesak Trump untuk memberikan jaminan hukum dan keuangan sebelum mereka sepakat berinvestasi di Venezuela.
Pejabat Gedung Putih dan Kemlu AS dalam beberapa minggu terakhir mengatakan kepada eksekutif industri bahwa mereka perlu segera kembali ke Venezuela dan menginvestasikan modal yang signifikan ndi sana untuk menghidupkan kembali industri minyak yang rusak, jika mereka menginginkan kompensasi atas aset yang disita Venezuela 2 dekade lalu.





