Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengungkapkan bahwa sedikitnya 100 orang tewas selama operasi militer Amerika Serikat (AS), yang berujung penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Puluhan orang lainnya mengalami luka-luka akibat operasi tersebut.
Otoritas Venezuela sebelumnya hanya mengungkapkan jumlah tentara yang tewas akibat operasi militer AS pada 3 Januari lalu, yang melibatkan pengeboman dan penyerbuan ibu kota Caracas oleh pasukan khusus AS yang bertugas menangkap Maduro di tempat persembunyiannya.
Dalam konfirmasi pertama untuk korban militer, militer Venezuela mengatakan sedikitnya 24 personel militernya tewas. Terdapat lima personel militer berpangkat Laksamana yang tewas akibat serangan AS tersebut.
Cabello dalam pernyataan terbaru lewat televisi pemerintah Venezuela, seperti dilansir AFP, Kamis (8/1/2026), mengungkapkan jumlah total korban tewas akibat serangan militer AS itu. Namun dia tidak merinci lebih lanjut apakah jumlah itu gabungan korban militer dan sipil, atau korban sipil saja.
"Sejauh ini -- dan maksud saya sejauh ini -- ada 100 orang tewas dan jumlah yang sama terluka. Serangan terhadap negara kita sangat mengerikan," kata Cabello dalam pernyataannya.
Dia menambahkan bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, terluka dalam penangkapan oleh pasukan AS tersebut, tetapi "sedang dalam masa pemulihan". Saat sidang perdana digelar di pengadilan Manhattan, New York, pada Senin (5/1) waktu AS, Maduro dan istrinya terlihat mampu berjalan sendiri.
Keduanya sama-sama mengaku tidak bersalah atas dakwaan-dakwaan yang dijeratkan jaksa federal AS, yang mencakup tuduhan konspirasi narkoterorisme.
(nvc/idh)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5398062/original/087063200_1761833811-nova_arianto.jpg)

