AS Hengkang dari UNFCCC, NRDC Sebut Pemimpin Dunia Tak Ikuti Jejak Trump

katadata.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Amerika Serikat (AS) menjadi satu-satunya negara yang sepenuhnya menarik diri dari upaya iklim internasional, di antaranya dari Perjanjian Paris dan UNFCCC. Langkah mundur AS ini mengejutkan dunia. Namun, Natural Resources Defense Council (NRDC) menyebut tak ada tanda-tanda para pemimpin ekonomi dunia untuk mengikuti langkah pemerintahan Trump.

Hampir setahun keluar dari Perjanjian Paris, Pemerintahan Trump kini juga menarik diri dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Langkah ini tertuang dalam Memorandum Kepresidenan yang dirilis Gedung Putih, pada Rabu (7/1).

Meskipun begitu, NRDC tetap melihat optimisme dari para pemimpin ekonomi dunia lainnya. Ini tergambar dari pencapaian-pencapaian dunia terkait aksi iklim.

“Para pemimpin ekonomi utama di seluruh dunia tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergabung dengan Pemerintahan Trump dalam menarik diri dari perjanjian iklim internasional, mengerem ekonomi energi bersih, atau menjadi pendukung bahan bakar fosil,” ujar NRDC dalam pernyataan resmi, dikutip Kamis (8/1). 

Menurut analisis PBB, sejak diadopsinya Perjanjian Paris pada 2015, pembangkit listrik energi terbarukan meningkat sebesar 81%. Pertumbuhan energi terbarukan ini dinilai masuk akal secara ekonomi.

Lalu berdasarkan catatan International Renewable Energy Agency (IREA), pada 2024, sebanyak 91% pembangkit listrik tenaga terbarukan skala utilitas yang baru dioperasikan secara global telah menghasilkan listrik dengan biaya lebih rendah, dibandingkan pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil yang baru dipasang.

Investasi Energi Terbarukan Cetak Rekor

Terlepas dari tantangan yang ada, investasi energi terbarukan pada paruh pertama 2025 telah memecahkan rekor baru. Total investasi global mencapai US$ 386 miliar atau sekitar Rp 6.482 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan 10% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Tren serupa juga muncul di sektor transportasi. Satu dari setiap lima mobil yang terjual di seluruh dunia adalah kendaraan listrik. Angka ini menunjukkan kenaikan dari satu mobil listrik per 100 mobil yang terjual pada 2015.

NRDC menegaskan, negara, perusahaan, negara bagian, kota, dan warga di seluruh dunia harus mengabaikan pemerintahan Trump dan terus berinvestasi dalam solusi iklim. 

Tujuannya, agar dunia menghasilkan energi yang lebih terjangkau, polusi udara lebih rendah, kerusakan iklim lebih sedikit, melindungi keanekaragaman hayati, serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Korban Bencana Sumatera Enggan Direlokasi Akan Dapat Rp 60 Juta untuk Bangun Rumah
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Akhir Polemik Dapur MBG dekat Kandang Babi di Sragen, Dapur MBG Harus Pindah
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Dituduh Gadaikan BPKB Mobil Anak, Inara Rusli Sebut Tudingan Virgoun Tidak Berdasar
• 19 jam lalugenpi.co
thumb
Video: Harga Emas dan Perak Ambruk Berjemaah
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Tunjangan Hakim Karir Tembus Rp110 Juta, Hakim Ad Hoc Ancam Mogok Sidang 12-21 Januari
• 18 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.